Bukan Sekedar Janji

Bukan Sekedar Janji
Kamu Pembunnuh!


__ADS_3

Reyhan dan juga Nehta tidak sadar dengan kehadiran Azka di depan kamar. Terlihat sangat jelas raut kekhawatiran dari wajahnya.


Baginya, Nehta adalah hartanya yang paling berharga. Karena setelah kehilangan kedua orang tuanya, Nehta bukan lagi berperan ganda. Selain menjadi seorang kakak, dia juga berperan sebagai orang tua baginya.


Jadi jelas saja, Azka sangat mengkhawatirkan kakaknya itu. Kalau bisa, biar Azka saja yang menggantikan Nehta ketika Nehta sakit. Karena selama ini, jarang sekali Nehta sakit. Bukan. Bukan tidak pernah sakit, tapi Nehta sengaja menyembunyikan kesakitannya.


“Kak Nehta sakit apa?” Tanya Azka yang kini sudah ada di hadapan Nehta, tanpa menghiraukan Reyhan yang ada di ambang pintu.


“Kakak nggak apa-apa, Ka.”


Tapi Azka masih saja meneliti setiap inci tubuh kakaknya, berharap tidak ada sedikitpun luka. Hanya wajah Nehta yang sedikit terlihat lesu.


“Bang?” Azka menatap Reyhan penuh harap.


“Kamu tidak perlu khawatir, kakakmu baik-baik aja.”


“Ya sudah kalau begitu, aku harap kalian nggak nyembunyiin sesuatu.”


“Kak Nehta jadi pindah ke apartemen bang Reyhan?” Azka baru sadar kalau ada koper di lantai.


“Sebenarnya aku juga mau pindah dari apartemen ini.” Imbuhnya.


“Lho kenapa? Kakak kan udah bilang, kakak akan memperpanjang kontraknya.”


Azka menggelengkan kepalanya, senyum terukir indah di wajah tampannya.


“Azka dapat tawaran kerja, jadi manajer kafe. Di lantai atasnya ada kamar studio, pemiliknya minta aku untuk menempatinya. Daripada terbengkalai katanya.” Jelas Azka.


“Manajer kafe?” Dahi nehta berkerut-kerut.


Perempuan itu heran, karena Azka saja belum lulus kuliah. Ya meskipun kuliah di bidang yang relevan, tapi ada hal yang janggal di sini.


“Apa pemiliknya perempuan?”


“Astaga. Kak. Kakak lupa, aku kerja part time udah lama di kafe itu. Mungkin karena kerjaan aku bagus, makanya dia nawarin aku jadi manajer di sana. Ijazah dan lain-lain bisa menyusul.”


“Kafe Tantaka itu?”


Azka mengangguk. Nehta merasa bangga dengan adiknya itu, selain pintar dia juga pekerja keras dan orang yang jujur. Mungkin karena itulah pemilik kafe mengangkatnya menjadi manajer di sana.


Kamu tidak perlu lagi memperpanjang kontraknya, Ta. Karna apartemen ini sudah aku beli. Batin Reyhan.


“Makasih ya kak, selama ini aku terlalu banyak ngebebanin kakak. Sekarang aku sudah bisa mengurus diriku sendiri. Waktunya kakak memikirkan diri kakak sendiri, berbahagialah. Karena hanya bahagianya kakak yang akan selalu aku harapkan.”


Andai Azka seorang perempuan, mungkin saat ini dia sudah menangis seperti Nehta yang tidak dapat membendung lagi air matanya.

__ADS_1


Kedua manusia yang pernah di lahirkan dari ibu yang sama itu saling berpelukan. Bukan. Ini bukan perpisahan. Namun bentuk kasih sayang Azka untuk kakaknya.


“Titip kak Nehta bang, jaga dan bahagiakan dia!”


“Pasti.”


...*****...


Di ujung jalan yang tak jauh dari rumah Wina, seorang laki-laki tengah dudu di kap mobil miliknya yang terparkir. Laki-laki itu tak lain adalah Arman. Dia sengaja menunggu Wina keluar dari rumahnya, untuk mengembalikan ponsel milik Wina.


Hampir satu jam dia menunggu Wina di sana, tapi perempuan yang di tunggunya belum juga menampakkan batang hidungnya.


Jelas saja. Karena mereka tidak pernah ada janji untuk bertemu. Karena ponsel Wina sendiri ada di tangan Arman.


Sebelum Arman memutuskan untuk pergi dari sana, langkahnya terhenti saat melihat Wina berjalan melewatinya.


“Wina?” Panggil Arman.


“A-arman?” Wina celingukan ke segala arah.


Dia sangat takut kalau ada yang melihatnya, terutama ayah atau ibu tirinya. Bisa-bisa kejadian semalam terulang kembali, bahkan bisa saja lebih parah.


Arman yang melihat Wina celingukan, refleks ikut melihat situasi di sekitarnya. Laki-laki itu paham dengan apa yang di takutkan oleh Wina.


“Ponselmu.” Arman menyerahkan sebuah ponsel yang layarnya terdapat retakan-retakan kecil tersebut.


“Iya, mungkin semalam terjatuh saat kamu mau keluar dari mobil.” Jawab Arman, tanpa menyebutkan kalau semalam dia sempat kembali lagi untuk mengembalikan ponselnya.


“Makasih. Maaf aku buru-buru.”


“Iya.”


Arman tidak menawarkan tumpangan pada Wina karena tahu, perempuan itu akan menolak karena takut ada yang melihatnya.


Jadi dia hanya menatap punggung perempuan berkerudung itu berlalu dari hadapannya.


“Astaga.”


Arman di buat terkejut dengan kehadiran seorang remaja laki-laki yang memakai seragam SMP. Rupanya dia telah berdiri di belakang Arman, entah sejak kapan.


“Om habis ketemuan sama teh Wina, ya?” Tanya remaja laki-laki yang bernama Wafdi, Arman dapat mengetahui namanya dari name tag di seragam yang di kenakannya.


“Si-siapa Wina?” Arman pura-pura tidak mengenal Wina.


“Halah, ngaku aja. Aku punya buktinya.” Wafdi menunjukkan sebuah video di ponselnya.

__ADS_1


“Hapus video itu!” Ancam Arman dengan menatap Wafdi penuh intimidasi.


“Hais...” Arman mengumpat kesal, lantaran Wafdi menggerakkan ibu jari dan telunjuknya yang menyatu.


Arman merogoh dompetnya yang berada di saku celana bagian belakang. Dia mengambil lima lembar uang berwarna merah muda. Lalu menyodorkannya pada Wafdi.


“Hapus dulu!” Titah Arman dengan wajah dinginnya.


“Okey...”


“Sudah. Sering-seringlah ketemu sama teh Wina.” Ledek Wafdi.


Andai saja di sana adalah jalanan yang sepi, sudah pasti Arman akan menjitak kepala Wafdi.


“Kecil-kecil mata duitan.” Keluh Arman.


Tak ingin berlama-lama di sana, Arman segera melajukan mobilnya menuju ke apartemen Reyhan. Karena Reyhan menyuruhnya untuk mendapatkan CCTV yang ada di tempat pesta ulang tahun Sara semalam.


Dalam lima menit, Arman sudah sampai di apartemen Reyhan. Tangannya terulur saat ingin membunyikan bel. Tapi seperti tahu akan kedatangannya, Reyhan membuka pintu terlebih dahulu.


“Kita bahas di ruang kerja.”


“Cari siapa?” Reyhan menatap Arman dengan tatapan tajam, melihat Arman yang celingukan seperti mencari seseorang.


“Tidak ada, Rey.” Arman hanya nyengir kuda.


“Nehta lagi di kamar, lagi beres-beres barangnya.”


“Si-siapa yang tanya?”


“Aku tahu, Man. Kamu mencari istriku.” Ucap Rehyan dingin.


Glek.


Arman menelan ludahnya kasar. Memang manusia satu ini selalu tahu pikiran orang dan yang membuat takut adalah tatapannya yang seperti ingin memakan orang hidup-hidup.


Begitu masuk ke ruang kerja Reyhan, Arman langsung memberikan diska lepas pada Reyhan. Di dalamnya terdapat CCTV kejadian sebelum tenggelamnya Nehta.


Kejadian itu berawal dari Lusy yang mulai berdebat dengan Nehta. Lusy adalah kekasih Tian, yang dulu meninggal karena kecelakaan.


Reyhan, Arman dan Bastian atau yang lebih di kenal dengan Tian adalah tiga sekawan. Geng mereka terkenal karena ketampanan mereka bertiga. Di antara mereka, masing-masing mempunyai fansnya sendiri. Bahkan Reyhan memiliki fans fanatik seperti Sara.


Reyhan melihat Lusy menunjuk-nunjukkan jarinya pada Nehta.


“Ini semua karna kamu, Nehta. Kamu yang membuat Tian meninggal. Kamu pembunnuh!” Hardik Lusy.

__ADS_1


Reyhan mengepalkan tangannya, sampai buku-buku tangannya memutih.


__ADS_2