
Hari semakin sore, sudah waktunya para pekerja di setiap perusahaan untuk pulang. Termasuk Nehta dan tim nya.
Sama seperti saat jam makan siang, anggota timnya tidak ada yang berani mengikuti ajakan Nehta. Padahal pekerjaan mereka masih bisa di kerjakan besok.
“Emmm... Semuanya?”
“I-iya bu, ma-maksud kami Nehta.” Ucap semuanya.
“Apa boleh saya menyampaikan beberapa hal?”
“Tentu, silakan.”
Wina hanya berdiam diri, karena dia tahu dengan apa yang akan di sampaikan Nehta. Karena dia sudah pernah bekerja dengan sahabatnya itu.
“Pertama, kita di sini semuanya sama. Bekerja.”
“Kedua. Saya juga sangat berharap, pekerjaan kita selesai sesuai dengan tengatnya.”
“Tapi, ada satu hal yang membedakan saya dengan rekan semuanya.”
Baik Risma, Sherli, Darwin maupun Wina tak mengeluarkan sepatah katapun. Demi memberikan kesempatan Nehta untuk bicara.
“Tujuan dan suasana hati kita. Itu yang membedakan kita.”
Untuk sebagian orang, bekerja bertujuan untuk mendapatkan uang. Tapi tidak dengan Nehta. Dia bekerja, selain untuk dirinya sendiri, perempuan itu ingin orang lain juga mendapatkan manfaat darinya. Dengan menghasilkan karyanya.
Sedangkan untuk suasana hati, sebisa mungkin Nehta melakukan pekerjaannya dengan senang hati dan tentunya hati yang ikhlas juga. Dengan begitu, dia bisa bekerja dengan baik. Bukankah dengan perasaan kita yang happy, membawa dampak yang bagus untuk munculnya ide-ide baru yang berkesan? Kapasitas berpikir kita pun ada batasnya, apalagi dalam keadaan perut kosong serta suasana hati yang buruk. Habis sudah.
Aku tidak menyangka, ternyata masih ada orang yang berpikiran sepertinya. Batin Risma, perempuan yang usianya dua tahun di atas Nehta.
Ya Allah, bersyukur banget. Ketua tim yang baru orang yang baik. Sherly ikut membatin dalam hatinya.
“Kami mengerti, ayo kita terapkan prinsip Nehta untuk tim kita. Semangat!!!” Ucap Darwin setengah berteriak.
Semuanya serempak mengucapkan kata semangat bersamaan, menjadikan mereka pusat perhatian. Termasuk ketua tim satu dan dua. Bibir mereka semakin menyebik dibuatnya.
“Cih. Bocah-bocah ingusan. Bisanya hanya bermain-main. Sama sekali tidak punya kedisiplinan.” Celetuk Layla, ketua tim dua.
Namun Nehta dan kawan-kawannya berusaha untuk tidak menanggapi mereka. Karena di tempat ini, mereka mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing.
Sesampainya di lantai satu, mereka berpisah. Karena Nehta membawa mobil, dia mengajak Wina untuk pulang bareng. Sekalian kulineran di taman kota, seperti kebiasaannya selama ini bersama Wina dan juga Rizki. Sayangnya Rizki tidak ada di sini sekarang.
__ADS_1
“Mau makan apa?” Tawar Nehta.
“Wina?” Ulang Nehta saat menyadari sahabatnya itu melamun sambil memandangi ponselnya.
“Ah iya, Ta. Kenapa? Maaf barusan ada pesan masuk dari Wafdi.”
“Bikin ulah apa lagi anak itu?” Nehta sangat hafal dengan kelakuan Wafdi dan juga keluarganya.
“Dia memeras Arman.” Wina menundukkan kepalanya
“Apa?” Nehta yang terkejut sampai menginjak rem secara mendadak, bahkan sampai membuat mobil di belakang mereka membunyikan klakson dengan keras.
“Astaga, Ta. Hati-hati!” Wina mengelus dadanya, terkejut dengan ulah sahabatnya.
Nehta dan Wina makan di rumah makan Padang yang biasa mereka datangi. Karena makanan kesukaan mereka bertiga sama, yaitu masakan Padang.
Sambil makan, Wina menceritakan awal mulanya, Wafdi memeras Arman. Bahkan adiknya itu juga melakukan hal yang sama pada Wina. Karena video yang dia dpaatkan ternyata sudah di salin terlebih dahulu sebelum di hapus di hadapan Arman. Liciknya.
“Jadi kamu nggak usah anter aku pulang, ya Ta!”
“Tapi...” Nehta ingin membantah.
“Sssttt... Apa sih?” Nehta celingukan, takut ada orang yang mendengar.
Nehta juga menceritakan semuanya pada Wina, tapi selama bercerita dia tidak menyebutkan nama Reyhan secara gamblang.
“Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian. Jujur, aku percaya kalau Reyhan bisa jagain kamu.” Wina menggenggam lembut tangan Nehta, seolah memberikan dukungan penuh pada pernikahan Nehta dan juga Reyhan.
“Kamu juga harus memutuskan Gibran, Ta. Bukannya aku mau provokasi kamu. Tapi karna kamu sendiri yang memutuskan menikah dengan Reyhan.” Wina bersungguh-sungguh.
“Iya, Wina. Aku juga berencana untuk mengakhiri hubunganku dengan Gibran. Tapi entah kenapa, aku merasa Gibran tengah menghindari aku. Pesanku juga belum di bales.”
...*****...
Memasuki waktu maghrib, Nehta baru sampai di apartemen. Keadaan apartemen masih gelap, itu artinya Reyhan belum pulang.
Baru di tanyakan, orang yang Nehta maksud sudah menghubunginya lewat pesan.
Tidak perlu menungguku. Aku pulang ke rumah utama.
“Siapa juga yang nungguin hantu kayak dia?”
__ADS_1
Nehta menyambar handuk lalu membersihkan diri serta menyucikan diri untuk menunaikan kewajibannya. Beruntung dia sudah makan bersama Wina, karena saat melihat isi kulkas, ternyata lemari pendingin itu sudah kosong.
Nehta melirik jam. Dia merasa belum terlalu malam untuk pergi belanja kebutuhan di supermarket, yang tak jauh dari apartemennya. Karena dia berniat pergi sebentar, Nehta hanya membawa dompet dan meninggalkan ponselnya.
Beruntung sekali Nehta, karena stok bahan masakan banyak yang dia inginkan. Puas berbelanja, tanpa peduli laki-laki yang uring-uringan mencarinya. Karena dia tidak melihat istrinya berada di apartemen bahkan ponsel yang berulang kali dia hubungi tidak tersambung.
Karena jarak dari apartemen dan supermarket tidak terlalu jauh, Nehta pergi dengan berjalan kaki. Sebelah tangannya menjinjing tas belanjaan, sedangkan satu tangan lagi dia gunakan untuk menikmati ice cream rasa strawberry yang di belinya tadi.
Indra pendengarannya menangkap suara langkah kaki yang berasal dari belakangnya. Nehta mulai celingak-celinguk, siallnya saat dia akan memasuki lift apartemennya dia mendengar orang yang di belakangnya ikut berlari. Bahkan mencekal tangannya.
“Aaaaaa... Tolong!!!” Teriak Nehta.
“Emmmpptt...”
Nehta ingin berteriak lagi tapi mulutnya telah di tutup dengan sebuah tangan lebih dulu, barang belanjaannya terjatuh karena dia berontak mencoba melepaskan diri dari laki-laki yang saat ini membekapnya. Dia tahu dari postur tubuh dan juga tangannya.
Di tengah kepanikannya, Nehta melihat sekelebat bayang-bayang anak kecil. Ingatan itu begitu gelap, dia hanya dapat melihat ada tiga orang anak kecil termasuk dirinya tengah berada di ruangan gelap.
Siapa mereka? Kenapa aku merasa ini adalah bagian dari masa laluku? Batin Nehta.
“Arrrggghhtt...” Laki-laki itu meringis saat Nehta berhasil menggigit bagian tangannya hingga berdarah.
“Re-Rey?”
“Sakit, Ta!” Reyhan mengibas-ngibaskan tangan yang di gigit oleh Nehta.
Setelah memunguti barang belanjaannya, Nehta dan Reyhan masuk ke apartemen.
Perempuan itu menuntun suaminya menuju wastafel di dapur, dia membasuh tangan Reyhan yang berdarah dengan air yang mengalir dari keran.
Setelah bersih, Nehta memberikan antiseptik pada luka Reyhan dan menutup bagian yang sedikit terbuka dengan kain kasa dan plester.
“Maafin aku Rey.” Lirih Nehta.
“Tapi ini salah kamu juga. Siapa suruh buntutin aku kaya orang yang mau menculik.” Gerutu Nehta.
“Ck. Nggak akan ada yang mau menculik perempuan bawel seperti kamu.” Ledek Reyhan.
“Kamu bilang pulang ke rumah utama, kenapa kamu bisa di sini?”
“A-aku... Aku tidak jadi pulang ke rumah utama.” Kilahnya, tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya, bahwa Reyhan mengintainya melalui CCTV apartemen.
__ADS_1