Bukan Sekedar Janji

Bukan Sekedar Janji
Maunya Apa Sih?


__ADS_3

Hampir setengah jam lamanya, Reyhan pun kembali bergabung. Namun begitu datang, Reyhan sudah di sambut dengan teman-temannya yang berkumpul di pinggir kolam renang.


“Siapapun tolong!” Teriak Wina.


Reyhan berlari kecil, matanya melihat Wina yang masih berteriak. Namun dia sama sekali tidak melihat Nehta. Tapi sedetik kemudian dia menyadari, ada seseorang yang tercebur ke dalam kolam renang.


“Aku mohon, siapapun tolong, Nehta nggak bisa berenang.”


Wina sendiripun sama, dia tidak bisa berenang.


“Tadi aku nggak sengaja, Rey. Aku juga nggak tahu kalau Nehta nggak bisa berenang.” Sara memasang wajah menyesal di hadapan Reyhan.


Byurr...


Reyhan masuk ke dalam air untuk menyelamatkan istrinya, kolam itu memang tidak terlalu dalam bagi orang dewasa. Tapi karena Nehta tidak bisa berenang, makanya dia tenggelam.


Pyashh...


Reyhan keluar dari air dengan menggendong Nehta di depannya. Dia membaringkan tubuh Nehta di pinggir kolam renang. Tapi perempuan itu tak kunjung sadar. Wina terus menangis di sampingnya, bingung harus dengan cara apa dia membangunkan sahabatnya.


Melihat Reyhan mulai membantu Nehta dengan melakukan CPR, serta napas buatan. Membuat Sara mengepalkan tangannya.


Wina dan juga Reyhan sangat bersyukur, CPR yang di lakukannya ternyata berhasil. Nehta sadar dengan terbatuk-batuk serta mengeluarkan air dari mulut dan hidungnya.


“Berikan jasmu!” Titah Reyhan pada Arman.


Arman yang baru saja bergabung dengan pesta itu, memberikan jasnya tanpa ragu. Laki-laki itu baru datang karena masih ada pekerjaan yang harus di selesaikannya.


Setelah memasangkan jas di tubuh Nehta, Reyhan kembali menggendong Nehta. Membawanya menjauh dari kemeriahan pesta itu. Arman dan juga Wina mengikutinya dari belakang.


“Ke rumah sakit, Man!”


“Tuan apa saya boleh ikut?” Tanya Wina ragu.


“Naiklah!” Bukan Reyahn yang menjawab tapi Arman.


Selama perjalanan menuju rumah sakit, Nehta dan juga Reyhan menggigil kedinginan. Menyadari hal itu, Arman langsung menaikkan suhu AC mobil yang di kendarai olehnya.

__ADS_1


Tak berselang lama, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Lagi-lagi Reyhan menggendong Nehta menuju ke IGD rumah sakit. Sedangkan Arman dan juga Wina hanya mengekor di belakangnya.


Pikiran Wina sampai kemana-mana, karena semenjak sadar bahkan dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Nehta sama sekali tidak bicara. Tapi pikirannya langsung tersadar begitu Reyhan menjawab pertanyaan dokter mengenai hubungannya dengan Nehta.


Su-suami? Astaga, aku pasti salah denger kan? Wina sampai menggelengkan kepalanya berulang kali, demi mendapatkan kesadaran sepenuhnya.


“Apa yang kamu lakukan, Wina?” Pertanyaan Arman yang tiba-tiba, sukses membuat Wina mengelus dadanya.


“Nggak ada Man. Tadi kayaknya aku salah denger, hehe. Mungkin saking paniknya.” Tawa Wina terdengar garing di telinga Arman.


“Memangnya kamu dengar apa?”


“Tadi dokter kan nanya, Reyhan siapanya Nehta. Aku malah denger Reyhan bilang, kalau dia suaminya Nehta.”


Arman hanya diam, tidak ingin menanggapi ucapan Wina. Karena bukan kapasitasnya untuk menjelaskan apa yang baru saja di dengar oleh Wina merupakan kebenaran. Reyhan adalah suaminya Nehta.


Setelah mendapatkan penanganan oleh dokter, Wina membantu menggantikan baju Nehta yang basah. Kemudian Nehta di pindahkan ke ruang perawatan dengan infus dan selang oksigen yang menempel di tubuhnya.


Wina ternyata masih penasaran dengan apa yang sempat di dengarnya tadi, perempuan itu bertanya pada Nehta saat Reyhan pergi keluar untuk mencari baju ganti. Karena bajunya yang basah kuyup.


“Aku...”


“Sudah jangan di bahas dulu, kamu bisa ceritain itu nanti. Yang penting sekarang aku udah tahu. Dan aku yakin kamu punya alasan, sampai kamu menutupi pernikahan kalian. Sekarang istirahatlah!” Wina berucap sambil membenarkan selimut yang di kenakan oleh sahabatnya.


Jujur, Wina sempat kecewa, karena Nehta menyembunyikan pernikahannya dengan Reyhan padanya. Tapi tak lama, Wina mengerti, pasti ada alasan di balik semua ini.


Wina berharap, Reyhan bisa membahagiakan dan melindungi Nehta. Selama ini, Nehta sudah terlalu lama menderita.


Bagaimana tidak? Nehta harus kehilangan orang tuanya setelah lulus dari SMA karena kecelakaan. Belum sembuh duka yang di rasakan oleh Nehta, dia harus kembali menerima ujian lagi. Dia dan juga Azka terusir dari rumah, karena perusahaan milik keluarganya bangkrut dan rumah beserta aset kekayaan di sita oleh bank.


Nehta berjuang sedemikian rupa, agar dirinya dan juga Azka tetap mengenyam pendidikan.


Selama itu Wina hanya bisa membantu seadanya, karena dia juga bukan dari kalangan orang kaya. Tapi bersyukurnya Wina, Hanifah, neneknya Reyhan mengulurkan tangannya pada kedua anak yatim piatu itu. Meskipun sempat menolak, namun Nehta akhirnya luluh dan mau menerima bantuan dari Hanifah, dengan bekerja mengelola butik milik Hanifah.


Semenjak itulah, kehidupan Nehta berangsur membaik. Dia pun bisa tinggal di apartemen yang layak, meskipun baru bisa menyewanya saja.


“Kamu pulang aja, Win. Nehta, aku yang akan menjaganya!”

__ADS_1


Bersyukur sekali, kalau jantungnya itu adalah buatan Sang Maha Pencipta. Jika saja buatan pabrik, mungkin Wina sudah kena serangan jantung dari tadi.


“Iya... Jaga istrimu baik-baik!”


Wina menatap Reyhan dengan dingin, padahal semenjak Reyhan menjabat sebagai CEO sebuah perusahaan besar, perempuan itu selalu bersikap sesopan mungkin. Bahkan memanggilnya dengan sebutan tuan, meskipun mereka adalah teman masa sekolah.


“Tentu. Aku akan menjaganya dengan baik.” Yakin Reyhan, karena sadar, kalau Wina mengkhawatirkan istrinya.


“Mintalah Arman untuk mengantarmu pulang, dia ada di luar.”


“Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri.” Tolak Wina.


Tapi begitu dia sampai di depan lobi rumah sakit, sebuah mobil yang dia kenal sebagai mobil milik Reyhan itu berhenti di hadapannya. Terlihatlah Arman yang mengendarai mobil tersebut setelah menurunkan kaca mobil.


Niat hati ingin menolak, tapi melihat situasi dan kondisi saat itu, Wina akhirnya mau di antar pulang oleh Arman. Tidak mungkin dia pulang sendiri di tengah malam begini, apalagi jalanan mulai sepi.


Dari rumah sakit sampai ke depan rumahnya, Wina dan Arman sama sekali terlibat obrolan apapun. Padahal dulu, mereka sering bertengkar karena Arman sama usilnya dengan Reyhan. Tapi mungkin saat ini, mereka sudah sama-sama dewasa. Bukan lagi waktunya untuk bersikap seperti anak remaja lagi.


“Ck. Bilang makasih kek, apa kek.” Gerutu Arman, namun Wina dapat mendengarnya dengan jelas sebelum dia benar-benar keluar dari mobil.


“Dasar pamrih.”


“Deser pemrih.” Ledek Arman menirukan dua kata yang di ucapkan oleh Wina.


Astaga. Sepertinya aku harus menarik semua kata-kataku. Ternyata laki-laki ini masih sama menyebalkannya. Gerutu Wina dalam hatinya.


“MAKASIH!!!” Pekik Wina, dengan penuh penekanan.


“Tidak perlu.”


Ini orang maunya apa sih? Wina menyebikkan bibirnya.


Sebelum masuk ke dalam rumah, Wina sempat menatap mobil yang di kendarai oleh Arman sampai bagian belakang mobil itu tidak terlihat lagi.


“Dari mana kamu?”


Deg.

__ADS_1


__ADS_2