
Mau tak mau Risma, Sherly dan juga Darwin ikut dengan apa yang di perintahkan oleh Nehta, yang notabennya adalah atasannya.
Turun dari lantai tempatnya bekerja, Nehta bertemu dengan Wina yang baru saja selesai wawancara. Betapa senangnya mereka berdua, ternyata Wina di terima di tempat kerja yang sama dengan Nehta. Lebih senangnya lagi, Wina masuk di tim yang Nehta pimpin.
“Ya sudah, sekarang makan. Setelah ini kita kembali bekerja, tapi sebelum itu bagi yang muslim silakan untuk shalat terlebih dahulu.”
“Baik, bu.”
“Saya sudah bilang, panggil Nehta aja. Saya rasa kita semua seumuran.” Nehta memang baik, karena itulah aura kebaikannya itu sampai pada mereka.
Kelonggaran seperti ini yang paling di idam-idamkan setiap karyawan. Karena selain gaji, rekan kerja yang baik adalah hal utama yang membuat kita betah bekerja.
Makan sudah, shalat sudah tapi ada satu hal yang Nehta lupakan saat ini. Bahkan mereka sudah kembali ke meja kerja masing-masing. Wina pun jadi ikut bergabung, karena ingin segera bekerja dengan Nehta.
“Ya ampun, Wina. Rizki kemana?” Nehta menepuk jidatnya sendiri karena melupakan sahabatnya.
“Rizki nggak dateng, Ta. Dia bilang mau pulang kampung. Karna ibunya sakit. Itu juga aku tahu, karna tadi sebelum wawancara aku coba telepon dia berulang kali.”
“Ya ampun, Wina. Kenapa Rizki nggak ngabarin kita sebelumnya, aku jadi khawatir.” Wajah Nehta berubah sendu.
“Nanti kita coba hubungin dia lagi. Sekarang fokus dulu kerja. Semangat!”
Nehta pun mengangguk, dia juga merasa tak enak hati dengan rekan timnya yang lain kalau sampai tidak fokus dengan pekerjaan.
...*****...
Lain lagi dengan yang di alami oleh Lusy saat ini, perempuan itu tengah berkeringat dingin. Tangannya saling bertaut, demi mengurangi ketakutannya pada sosok laki-laki yang saat ini tengah duduk di ruangan kerjanya.
Tapi dengan santainya laki-laki itu menyeruput secangkir kopi yang dihidangkan untuknya. Duduk sambil menumpang kaki.
Beberapa saat yang lalu, laki-laki itu datang bersama asistennya. Tanpa ada pemberitahuan atau janji bertemu sebelumnya.
“Nona Lusy, tuan Reyhan datang ke sini untuk mengakhiri kontrak kerja sama perusahaan.” Tidak ada basa-basi lagi, Arman langsung menyampaikan hajat tentang kedatangannya saat ini.
__ADS_1
“Apa maksudnya?”
Arman menyerahkan sebuah map, sambil laki-laki itu membukanya. Dengan perlahan Lusy membaca isi dari dokumen tersebut. Matanya nyaris melompat keluar, karena mendapati data yang tidak benar pada proposal kerja sama dan juga keadaan yang sebenarnya.
Ini pasti ulah mas Lukman! Semakin bertambahlah rasa tidak sukanya pada sepupunya itu.
Rasa kesal dan takut menyelimuti hatinya.
“Ada satu hal yang ingin aku tahu darimu. Apa alasanmu selalu mengatakan bahwa Nehta penyebab meninggalnya, Tian?” Tanya Reyhan setelah meletakkan kembali cangkir yang di pegangnya.
“Berterus teranglah, jika nona tidak mau berkas itu sampai di tangan polisi!” Ancam Arman.
Reyhan dan Arman yang sekarang berbeda sekali dengan mereka yang dulu. Lusy bisa merasakannya dengan jelas.
“Terlepas apa alasanku, tapi memang Nehtalah yang membuat kalian taruhan kan?” Lusy masih saja kukuh dengan pendiriannya, meskipun takut, tapi rasa bencinya pada Nehta lebih besar.
Brakkk...
Reyhan menggebrak meja begitu keras, membuat perempuan itu sampai terjingkat. Tidak hanya itu, cangkir kopi yang masih terlihat penuh pun sampai menumpahkan isinya.
Gimana ini? Kalau berkas itu sampai ke tangan polisi, perusahaan ini akan bahaya. Tapi aku sudah janji pada Sara, bahwa aku tidak akan memberitahu siapapun soal ini. Lusy masih saja berpikir.
“Tu-tunggu, Rey!” Lusy hampir saja berteriak demi menghentikan langkah panjang Reyhan dan Arman.
“Ya?”
“Se-sebenarnya...”
Lusy mulai menceritakan semuanya dari awal. Apa yang di sampaikan oleh Lusy sukses membuat Reyhan mengepalkan tangannya erat. Ternyata sumber masalah di hidupnya hanyalah satu, yaitu Sara.
Entah apa yang harus Reyhan lakukan, untuk mengatasi Sara. Karena perempuan itu selain nekat, ternyata dia juga cukup manipulatif.
“Sekarang dengarkan baik-baik! Aku akan memberitahumu kejadian yang sebenarnya, aku juga tidak akan mengulangi perkataanku.”
__ADS_1
...*****...
Setelah pergi pada hari pernikahannya yang hanya beberapa jam lagi, saat ini Devita tengah dilanda kekesalan. Lantaran Andra, sang kekasih hati, penyebab dia sampai nekat untuk kabur ke luar kota. Tidak ada kabar setelah pergi meninggalkannya di apartemen milik Andra.
Beberapa pesan sudah dia kirimkan setiap harinya, bahkan puluhan panggilan yang dia lakukan sama sekali tidak ada jawaban dari kekasihnya itu.
“Astaga, kemana kamu Andra? Jangan sampai kamu buat aku menyesal karna telah memilih kamu daripada menikah dengan Reyhan. Laki-laki pilihan daddy.” Devita meremas ponselnya dengan kencang, demi menyalurkan emosinya.
Hmmmbbb...
Salah satu tangan Devita menutup mulutnya karena merasakan perutnya bergejolak, dia berlari sebisanya menuju wastafel yang ada di dapur.
Hoeeekk... Hoeeeekk...
Hassrat ingin memuntahkan isi perutnya begitu kuat, meskipun tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Kedua tangannya dia tadahkan pada air yang mengucur dari keran, menampung air untuk dia gunakan membasuh wajahnya agar merasa lebih segar.
Tubuhnya terasa begitu lemas, karena sejak bangun tidur sudah beberapa kali muntah. Devita menumpukan tangannya di wastafel, demi menyokong kekuatan tubuhnya agar tidak jatuh saking lemasnya.
“Andra, siaallan!!! Kamu harus segera nikahin aku. Bertanggungjawablah pada anakmu ini!” Amarah Devita begitu menggebu, meskipun tubuhnya terasa sangat lemas, sehingga dia masih mampu untuk berteriak.
Sementara, laki-laki yang terus-terusan di maki oleh Devita, tengah melaporkan apa yang di dapatkannya setelah mengorek informasi Nehta.
Tidak ada yang aneh dari data yang di dapatkan oleh Andra. Di sana hanya ada biodata Nehta. Data keluarga serta berita kematian orang tuanya. Tidak ada lagi hal yang mencurigakan menurut Sara.
“Bukan ini yang aku mau. Dasar nggak beccus kerja. Cari lagi informasi lain, jangan sampai gagal lagi. Aku harap ada hal yang menarik, meskiupun itu hal kecil.”
“Baik nona.” Andra menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat pada bosnya, sebelum dia pergi dari sana.
“Ailen Yeori?” Sara tengah menatap biodata seorang perempuan, yang termasuk dalam keluarga Nehta.
“Baiklah. Pertama-tama aku akan mencari informasi Nehta melalui dia.” Sara tersenyum dengan beberapa rencana di kepalanya.
Sepertinya, keinginan Sara untuk memiliki Reyhan bukan lagi cinta atau obsesi belaka. Tapi mengarah ke gangguan ke jiwaannya, karena dia bisa dan tidak peduli dengan apapun yang di lakukannya.
__ADS_1
Karena sejak kecil, jika dia mau, jika dia suka, maka dia harus mendapatkan apa yang di inginkannya. Meskipun hal yang tidak mungkin di dapatkannya. Wisnu sebagai orang tua tunggal, selalu memberikan apa yang diinginkan putrinya, karena menurutnya hanya dengan cara seperti itu dia bisa mencurahkan kasih sayang dengan peran ganda. Yaitu sebagai seorang ayah dan juga sebagai seorang ibu untuk Sara. Meskipun apa yang di lakukannya adalah salah.