
Malam hari Reyhan kembali ke hotel tempat di mana dia menginap. Setelah seharian sibuk dengan bekerja di kantor cabangnya. Dari Reyhan datang ke kota ini, sampai detik ini, sama sekali belum memberikan kabar pada istrinya.
“Apa Nehta sudah tidur?” Reyhan membuka aplikasi pesan, namun nomor Nehta tidak online.
Sedetik kemudian, laki-laki itu menghubungi seseorang.
“Apa dia sudah pulang?”
“Sudah tuan, nona pulang sebelum ashar ke apartemennya.”
“Sebelum ashar?”
“Iya tuan. Saya kurang tahu jelasnya seperti apa, tapi tadi pagi nyonya Dewi datang ke butik bersama nona Rasti.”
Reyhan langsung menutup teleponnya secara sepihak. Tanpa pikir panjang, Reyhan langsung menghubungi Nehta. Namun sayang, beberapa panggilan dia lakukan pun, sama sekali tidak ada jawaban.
Karena lelah, Reyhan memilih untuk membersihkan diri dan bersiap tidur. Karena besok masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum kembali ke Jakarta.
Pagi hari dia terbangun karena suara ponselnya yang berdering, Reyhan pikir Nehta meneleponnya kembali. Tapi ternyata suara ponsel itu hanyalah alarm yang di setelnya kemarin.
Karena waktu menunjukkan pukul lima pagi, gegas Reyhan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dan menyucikan diri demi melaksanakan kewajibannya.
Jadwalnya hari ini adalah bertemu dengan salah satu investor penting. Investornya ini adalah orang kaya nomor satu di kota ini, dia juga cukup terkenal di kalangan bisnis dan berbagai media. Tak hanya perusahaan Reyhan yang mendapatkan investasi darinya, tapi ada beberapa perusahaan lain juga.
Sebenarnya, Reyhan paling tidak suka dengan orang yang tidak datang tepat waktu sesuai janjinya. Namun untuk orang yang satu ini, Reyhan mencoba untuk mengalah.
“Reyhan.” Sapa seorang perempuan yang datang bersama laki-laki paruh baya.
“Sara...”
“Nak Reyhan. Maaf menunggu lama. Sara memaksa ikut, tapi dia sendiri yang lama bersiap.” Laki-laki itu duduk sambil terkekeh.
“Tidak apa-apa tuan.”
“Apa kabar, Rey? Lama ya, kita baru ketemu lagi.” Ucap perempuan yang bernama lengkap Zhisara Wisnu Pratama itu.
__ADS_1
Yang tak lain putri kesayangan Wisnu Pratama, investor yang akan bertemu dengannya pagi ini.
Sara dan juga Reyhan pernah sekolah di SMA yang sama. Bahkan Sara sampai kuliah di kampus yang sama di Amerika. Meskipun keduanya tidak begitu dekat, tapi Sara selalu mengakrabkan diri dengan Reyhan.
“Maafkan saya, Rey. Waktu itu tidak bisa datang ke pernikahanmu. Saya juga turut berduka atas meninggalnya nyonya Hanifah.”
“Papi...!” Tegur Sara.
“Maaf, Rey. Papi nggak tahu kalau pernikahan kamu...” Ucapan Sara berhenti manakala mendengar ponsel Reyhan yang berdering.
“Maaf, saya harus menerima telepon dari istri saya sebentar.” Pamit Reyhan.
Senang dan kecewa dirasakan oleh Reyhan sekaligus. Senang karena istrinya baik-baik saja, namun dia juga kecewa karena Nehta tidak jujur dengannya soal kedatangan Dewi dan juga Rasti.
Tak berselang lama, Reyhan kembali ke meja dimana Sara dan juga Wisnu duduk sambil menikmati minumannya.
“Rey, bukannya pernikahan kamu itu di tunda ya?” Sara penasaran, karena kabar yang beredar di sosial media, pernikahan laki-laki yang sudah lama dia sukai itu di tunda.
“Hanya di tunda, Sara. Bukan batal.”
Entah harus dengan cara apa, agar Reyhan bisa menjadi miliknya. Karena selama ini, Reyhan tidak pernah tertarik dengannya. Sara pikir, Reyhan kembali gagal menikah, jadi dia bisa leluasa mendekati laki-laki itu.
Harapannya pupus, saat mengetahui Reyhan benar-benar sudah menikah. Apalagi Sara melihat dengan jelas, sebuah cincin pernikahan melingkar di jari manis Reyhan.
Sara jadi tidak fokus dengan apa yang sedang di bicarakan oleh kedua laki-laki yang duduk di tempat yang sama dengannya. Perempuan itu pamit untuk pergi ke kamar mandi, karena terlalu larut dalam kekesalannya.
Tangannya merogoh ponsel yang ada di dalam tas mewah berukuran kecil yang di pakainya. Dia berusaha menelepon seseorang, namun Sara malah memaki-maki orang yang tengah di hubunginya tersebut. Sampai membuat orang yang berada di kamar mandi yang sama kaget dengan umpatan dan juga makian yang di lontarkan perempuan cantik tersebut.
“Cari tahu siapa istrinya. Jangan sampai gagal, atau kamu akan tahu akibatnya!” Ancam Sara dengan rahangnya yang mengeras menahan amarah.
“Siall. Seharusnya aku yang menikah dengan Reyhan, bukan perempuan lain. Susah payah aku menyusun rencana demi menyingkirkan Rima dan juga Devita. Papi juga, kenapa pekerjaan anak buahnya semuanya nggak ada yang beccus.” Berulang kali Sara mengentakkan kakinya ke lantai.
Bagai memiliki kepribadian ganda, Sara kembali ke meja dengan raut wajah yang di buat semanis mungkin. Berbeda dengan saat di kamar mandi tadi.
“Lho, udah selesai ya?”
__ADS_1
“Sudah sayang, Reyhan juga mau pamit. Dia harus segera kembali ke Jakarta.”
“Kalau begitu, gimana kalau aku bareng Reyhan aja, pi. Papi kan masih ada urusan, nanti kalau udah selesai bisa menyusul ke Jakarta.” Usul Sara.
Wisnu paham keinginan putri kesayangannya, yang ingin dekat dengan Reyhan. Tapi dia juga tidak mau membuat laki-laki yang di sukai oleh putrinya itu ilfeel karena sikapnya yang terang-terangan. Bagaimanapun juga, harus Reyhan yang mengejar, bukan Sara.
“Biarkan Reyhan pulang lebih dulu, sayang. Toh, nanti juga kita akan menetap di Jakarta. Kalian masih bisa bertemu di sana.” Bujuk Wisnu,
Karena mulai saat ini, mereka akan menetap di Jakarta. Tidak seperti dulu, yang mengharuskan mereka bolak balik Jakarta dan kota ini.
Reyhan merasa lega, karena Sara tidak jadi pulang bersamanya. Jujur, Reyhan risi dengan keberadaan perempuan satu ini. Entah apa yang membuatnya muak berlama-lama ada di tempat yang sama dengannya.
“Baiklah, salam buat istri kamu ya Rey. Kapan-kapan temuin aku sama istri kamu itu. Siapa tahu, aku sama istri kamu bisa berteman juga.” Ucapnya, tapi berlainan dengan hatinya yang terus mengucapkan umpatan-umpatan untuk perempuan yang sudah merebut Reyhan darinya.
Reyhan hanya menjawab Sara dengan anggukkan. Kemudian berlalu dari sana. Keluar dari restoran, Arman sudah menunggunya di mobil bersama dengan sopir kantor cabang.
Mereka langsung bertolak ke bandara, tanpa pulang dulu ke hotel. Karena Arman sudah membereskan barang-barang Reyhan, saat Reyhan sedang meeting dengan Wisnu.
Reyhan langsung pergi ke apartemen Nehta, tapi dia hanya bertemu dengan Azka yang baru saja pulang kuliah.
“Silakan masuk, bang.” Azka mengajak kakak iparnya untuk masuk.
“Bang Reyhan kapan pulang? Kak Nehta bilang, abang lagi ke luar kota.” Imbuhnya.
“Belum lama. Dari bandara langsung kesini.”
“Duduk bang, kalau mau istirahat langsung ke kamar kak Nehta aja.”
“Iya.”
“Kalau begitu, aku mau bersih-bersih dulu bang.” Pamit Azka.
Sepeninggal Azka, Reyhan masuk ke dalam kamar Nehta. Tanpa permisi, laki-laki itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Entah karena nyaman atau lelah, Reyhan sampai tertidur dengan pulasnya. Sampai Nehta pulangpun dia masih belum bangun juga.
Nehta yang baru saja pulang menjelang maghrib, terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa tahu ada seseorang yang tidur di kamarnya.
__ADS_1
Dua puluh menit berlalu, Nehta keluar hanya dengan handuk yang bagian atasnya hanya sebatas dada dan bagian bawahnya di atas lutut.