
Sarifah uring-uringan di rumah. Ia tidak tahu kemana suaminya itu pergi. Ingin dihubungi, tapi hapenya Ibrahim tidak dibawa suaminya itu. Sarifah yang tidak tenang, akhirnya menghubungi saudara laki-laki nya. Meminta Abangnya yang bernama Fauzan itu untuk mencari keberadaan Ibrahim, yang hingga kini, pukul 10 malam belum pulang ke rumah. Laporannya ke pihak keluarga, tentu membuat ibu dan saudaranya yang lain jadi khawatir. Sehingga rumah mereka kini ramai oleh keluarga besarnya Sarifah.
Dalam kesempatan ini, Sarifah pun akhirnya mengeluarkan uneg-uneg di hatinya kepada ibu dan saudara-saudaranya. Kalau Ibrahim selingkuh dengan Maya, teman kerja mereka. Tentu laporan Sarifah menyulut amarah ibu dan saudara-saudara. Sehingga Abang serta kakak iparnya Sarifah kini sedang mencari keberadaan Ibrahim.
Sementara di tempat lain. Di sebuah warung bandrek yang juga menjual martabak. Ibrahim dan Maya nampak berbicara sesekali, mereka duduk dengan posisi berhadapan yang dibatasi oleh semua meja bentuk bulat warna merah, yang terbuat dari plastik.
"Gak takut kamu, jam 10 malam masih keluar dari kost an?" tanya Ibrahim serius pada Maya. Ibrahim yang sudah tenang dan bisa menguasai dirinya itu, akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi, sebelum nya ia ingin membelikan buah tangan untuk istri dan anak-anak nya. Yaitu membeli martabak spesial, kesukaan sang istri.
Maya melirik sekilas Ibrahim. Tatapannya tidak fokus lagi ke layar handponenya. "Gak Pak." Jawab datar, ia pun kembali fokus bermain hape. Maya tidak menyangka akan bertemu dengan Ibrahim di tempat ini. Padahal Maya malas sekali berurusan dengan Ibrahim. Apalagi sejak berembus kabar, kalau Ibrahim menyukainya, seperti kabar yang ia dengar dari mulutnya Doni.
"Oouuww... Aku sih yakin akan hal Itu, kamu kan pemberani." Ujar Ibrahim dengan nada bicara bahagia.
"Hehe... Biasa aja." Sahut Maya ngengir. Tanpa menoleh ke arah Ibrahim. Ia tidak mau banyak kontak mata dengan pria itu.
Maya pingin sekali makan martabak. Jadi, ia bela-belain keluar kost an walau waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 Wib. Sudah hampir 30 menit dia menunggu pesanannya, dan kini ia malah bertemu dengan Ibrahim di tempat ini.
Karena malam ini malam minggu. Orang banyak yang keluar, untuk sekedar cari angin, cuci mata ataupun wisata kuliner. Apalagi di area kost an nya Maya, adalah pusatnya jajanan makanan.
"Eemmm... Ayah dan ibu bagaimana kabarnya May?"
Kedua bola matanya maya bergerak ke sana kemari, karena heran juga dengan pertanyaan Ibrahim. Kenapa pula malah menanyakan kabar orang tuanya.
"Baik." Jawabnya sambil mengulas senyum tipis.
"Kak, pesanannya sudah siap!" Ujar si Abang tukang martabak kepada Maya.
Maya menoleh ke arah abang tukang martabak Dengan senyum tipisnya. "Iya bang " Sahut Maya ramah. Ia simpan ponsel di clutch bag nya. Ia pun bangkit dari duduknya
"Pak Ibrahim, duluan ya?!" ujarnya lembut dengan senyum tipisnya.
"Iya May." Sahut Ibrahim.
Maya pun melangkah, keluar dari area meja yang ia duduki.
__ADS_1
Dan
"Auuwww...!" teriak Maya
"Maya...!" Ibrahim yang memang sejak tadi menatap lekat Maya yang hendak pergi, pria itu pun bergerak dengan cepat, menopang tubuh Maya, yang hampir saja tersungkur Karena kakinya kesandung ke tiang meja.
Adegan romantispun tercipta, bagi orang yang melihat keadaan mereka saat ini. Kedua insan itu saling tatap. Dengan tangannya Ibrahim membelit di pinggangnya Maya yang hendak terjatuh itu. Maya dengan cepat memutus kontak matanya dari tatapan syahdunya Ibrahim. Ia pun memperhatikan sekitar. Ternyata mereka sudah jadi tontonan para pengunjung warung bandrek sekaligus martabak itu. Itu semua terjadi, karena suara teriakan Maya saat hendak terjatuh, cukup menarik perhatian orang-orang.
Maya sangat malu akan kejadian ini. Wajahnya yang putih kini terlihat memucat.
"Ma, maaf May. !" ujar Ibrahim tergagap. Saat Maya berusaha melepas cengkraman tangannya dari pinggang wanita itu.
Maya, dengan malunya merapikan bajunya yang sempat tersingkap sedikit ke atas, saat ia dalam rengkuhan Ibrahim.
Ia pun jadi salah tingkah, atas kejadian barusan terjadi. Ia tidak sanggup menatap ke arah Ibrahim lagi. Ia meraih kantong kresek yang berisi satu kotak martabak dari si abang penjual martabak. Masih dengan muka malu serta bingungnya, Maya meraih uang dari cluethnya, kemudian membayar martabak pesanannya.
"Makasih bang." Ujarnya masih dengan perasaan tidak nyaman. Karena mata para pengunjung masih setia menatapnya lekat. Walau ia seorang guru, yang biasa tampil di hadapan orang. Tetap, ia merasa malu, Karena diperhatikan orang-orang atas kejadian tadi
"Hati-hati dek, lihat jalannya, nanti ke sandung lagi.!" celoteh penjual martabak pada Maya.
Maya kembali memutar lehernya, ia akan melanjutkan langkahnya menuju motornya yang di parkir.
Dan
Plaak..
Deg
Maya sangat terkejut, saat merasakan pipinya di tampar seseorang yang ia tidak kenal di hadapannya. Rasanya nyeri, sakit dan panas. Sungguh tamparan yang dahsyat.
Tangannya yang memegang clutchnya meraba pipinya yang kini masih terasa sakit. Maya tatap tajam wanita yang menamparnya. Wanita itu terlihat sangat kesal padanya. Maya dibuat heran, kenapa ia ditampar.
"Ka, kamu. !"
__ADS_1
Saat tangan wanita di hadapannya kembali melayang hendak menamparnya. Tangan itu pun kini mengatung di udara. Maya yang menyembunyikan wajahnya di hadangan kedua tangannya, sebagai perlindungan diri. Dibuat heran, kenapa tangan yang hendak menamparnya tidak kunjung menyentuh kulitnya.
"Kak, apa-apa an ini?"
Maya pun menurunkan kedua tangannya, saat mendengar suara Ibrahim.
Blaashh..
Tangan wanita yang dipanggil Ibrahim kakak itu pun terhempas ke udara.
Maya dengan bingungnya menatap secara silih berganti Ibrahim dan wanita yang menamparnya tadi. Sebenarnya, Maya tidak takut kepada wanita yang menamparnya. Ia bisa membela diri. Tapi, Karena mereka saat ini berada di tempat ramai. Maya pun memilih sabar. Ia orang baru di tempat itu. Tidak baik membuat keributan di tempat umum.
"Pelakor... pelakor..!" wanita yang dipanggil kakak oleh Ibrahim. Menunjuk nunjuk Maya dengan emosinya yang tidak terkendali.
Maya yang panik dan merasa malu. Memilih pergi dari tempat itu. Ia merasa tidak perlu berdebat di tempat itu. Karena mereka akan jadi tontonan orang orang.
"Hei tunggu pelakor. !"
"Kak... Kakak... !" Ibrahim mencoba menahan tangan sang kakak ipar, agar tidak mengejar Maya yang kini dengan muka malunya menaiki motornya. Tapi, karena si kakak ipar sudah kesetanan. Ia terus saja menepis tangan Ibrahim yang ingin menahannya
Kejadian itu membuat mereka jadi tontonan orang-orang. Hal itu membuat Maya semakin malu dan kesal sekali. Kenapa pula ia dikatakan pelakor. Mana ada ia goda suami orang.
"Pelakor... Bukannya dia seorang guru!" Kupingnya Maya terasa panas mendengar ocehan orang yang kini menontonnya.
Maya yang malu dan kesal itu, membuat dirinya gugup parah. Kunci motornya sangat susah masuk ke lubangnya. Ia terus saja memasukkannya, tapi gak masuk-masuk. Padahal ia sudah sangat ingin pergi dari tempat itu.
"Hei kak... Jangan..!" Ibrahim masih terus menahan tangannya sang kakak, agar tidak mengejar Maya
"Ya Tuhan.. Jangan permalukan aku di tempat ini." Maya berdoa dengan tidak tenangnya. Tangannya terus saja berusaha memasukkan kunci ke lubangnya.
Dan
Maya pun akhirnya bernapas legah. Ia berhasil menghidupkan motornya. Dan sialnya, perasaan lega yang ia rasakan hanya sedetik saja. Karena saat itu juga, wanita yang menamparnya tadi sukses meraih hijabnya Maya, menarik jilbab itu, sehingga kini jilbab segi empat motif bunga warna sage itu lepas dari kepalanya, sehingga nampaklah wajah cantiknya Maya dengan rambut yang tergerai indah. Ternyata ikat rambutnya Maya pun ikut lepas, saat ditarik wanita yang dipanggil kakak ipar oleh Ibrahim.
__ADS_1
***
tinggalkan jejaknya guys dengan like komentar positif