
Huufffttt...
Maya menarik napas dalam dan panjang. Ia harus tenang. Tidak boleh emosi saat menghadapi siswa yang tidak punya adab ini. Tapi, bukan berarti dia akan diam. Maya menyeret kakinya ke arah anak didiknya Badsah. Tatapannya masih bersahabat menatap Badsah yang menantangnya.
"Nak Badsah... Kata-kata yang kau ucapkan tadi tidaklah baik. Sebagai manusia, kita itu harus punya sopan santun. Bicara yang baik dan penuh makna."
Praakkk..
Badsah menggebrak meja dengan kuat. Ia tatap tajam Maya yang kini terkejut atas sikap tidak sopan anak itu.
"Tidak usah banyak ceramah bu."
"Badsah...!"
Suara lantang seorang pria dari ambang pintu membuat semua penghuni kelas itu menatap ke asal suara
Pak Ibrahim
Gumam Maya, memperhatikan lekat Ibrahim yang kini menghampiri nya. Sebenarnya, Maya tidak takut menghadapi siswa yang tidak punya akhlak ini. Hanya saja, ia tidak ingin bersikap kasar pada anak itu.
"Bu Maya, aku yang akan lanjutkan pelajaran ini." Ujar Ibrahim sopan. Ekspresi wajahnya datar. Tidak ada senyum tercipta di wajah guru tampan itu
"Oouuww.. Baiklah!" Maya melirik siswa yang bernama Badsah, yang kini nampak pucat itu. Kemudian membuang pandangannya ke arah Ibrahim yang masih menampilkan muka datarnya. Maya juga heran, kenapa Pak Ibrahim sudah masuk kerja. Padahal Ibrahim masih cuti hingga besok.
***
Satu jam kemudian
Terlihat Ibrahim dan siswa yang bermasalah Badsah, keluar dari kelas. Karena memang les PJOK telah selesai.
Maya yang sedang duduk bersama Doni di tempat piket, memperhatikan dengan penasarannya Ibrahim dan Badsah yang masuk ke ruang WKM 1 atau wakil kepala bagian kesiswaan.
"Itukan si Badsah, mau di DO." Ujar Doni dengan muka masamnya.
Maya menatap lekat Doni yang bicara. Maya yang tidak masuk di kelas nya Badsah tidak terlalu banyak tahu masalah anak itu. "Di DO?" tanya Maya dengan bingungnya.
"Iya, di DO. Karena dia sudah buat perjanjian. Sekali lagi dia masuk ke ruang WKM 1, dia harus keluar dari sekolah ini. Masalahnya sudah banyak. Jelas Doni serius menatap Maya.
__ADS_1
"Ya ampun.. Sayang sekali. Kan sebentar lagi ujian." Sahut Maya lemah. Ia buang pandangannya ke arah ruang WKM. Ia pun bangkit dari duduknya dengan rasa penasaran yang tinggi tersirat di wajahnya.
Graapp..
Doni menahan lengannya.
"Mau ke mana?" tanya Doni.
"Ke ruang WKM."
"Gak usah ikut campur May. Lagian kamu gak masuk di kelas 9-6." Ujar Doni, memaksa Maya kembali duduk di kursinya. "Gak usah urusi kerjaan Pak Ibrahim. Nanti istrinya tahu. Bisa-bisa kamu disalahkan."
"Apa sangkut pautnya aku dengan bu Sarifah?" tanya Maya malas.
"Hei... Cantik... Kamu gak sadar ya, kalau istrinya Pak Ibrahim itu cemburu padamu." Jawab Doni nyolot.
"Cembruru? apa yang dicemburuin? aku gak ada hubungan dengan Pak Ibrahim." Jawab Maya malas.
"Eemmm... Orang-orang juga bisa nilai kali, kalau Pak Ibrahim itu tertarik padamu May. Kamu dan Pak Ibrahim kan kompak."
"Hee.. Jangan ngarang cerita. Pak Ibrahim kompak pada semua guru, tidak denganku saja." Jawab Maya cepat. Menatap malas Doni.
"Iihh.. Don. Jangan buat gosip. Sudah ahhkk.. Malas bahas begituan." Maya bangkit dari duduknya.
Doni menatap lekat Maya yang terlihat kesal yang menyeret kakinya menuju kantor guru. Tapi, langkahnya harus terhenti disaat Ibrahim memanggilnya. Ia pun membalik badan ke arah asal suara.
Terlihat Ibrahim menghampirinya. "Bu Maya, maaf ya sikap Badsah tadi " Ujar Ibrahim tersenyum tipis.
"Maaf?" tanya Maya dengan herannya. Ngapain pula si Ibrahim yang minta maaf, padahal yang buat salah si Badsah.
"Iya bu. Sikap Badsah tadi gak usah ibu ambil hati, dan bawa ke forum rapat besok." Ujar Ibrahim dengan memelas.
"Oouu.. Iya pak." Maya membuang pandangannya cepat. Rasanya ia tidak sanggup lagi bersitatap dengan Ibrahim. Karena ucapan Doni tadi, yang mengatakan Ibrahim suka padanya.
"Makasih ya bu Maya. Sudah mau masuk kelasku menginval." Ujar Ibrahim tersenyum manis. Menambah topik pembicaraan, agar mereka terus saja bicara.
"Iya pak." Maya meninggalkan Ibrahim dengan muka bingungnya.
__ADS_1
"Waahh.. Koq bapak datang? bukannya ajukan cuti seminggu?" tanya Bu Darmi, saat melihat Ibrahim masuk ke kantor.
Huufftt..
"Iya Bu, aku ke sini. Mau urus si Badsah juga. Ada surat panggilan untuknya. Ibunya gak bisa datang. Terpaksalah aku yang jadi walinya." Jawab Ali datar. Ia dudukkan bokongnya di kursi meja kerjanya.
Bu Darmi juga mendudukkan bokongnya di kursi kosong sebelah Ibrahim. "Bagaimana keadaan si Sarifah?" tanya Bu Darmi dengan penasarannya. "Maaf, semalam gak busa jenguk ke rumah kalian." Bu Darmi adalah tetangganya Ibrahim.
"Ya begitulah Bu. Sudah mau makan sedikit." Jawab Ibrahim lemah.
"Oouuww... Syukurlah, semoga Sarifah cepat sembuh."
"Amin.. Makasih ya bu!" Jawab Ibrahim ramah kepada Bu Darmi.
"Kamu mau kerja, atau urus masalah si Badsah ke sini?"
"Emang napa bu?"
"Kalau mau kerja, jam nya si Sarifah kamu yang handle, kan lumayan uang invalannya kamu yang dapat." Ujar Bu Darmi serius.
"Oouuww.. Baiklah Bu!" Ibrahim bangkit dari duduknya. Ia ambil buka paket Matematika dari meja kerja sang istri. Dan ia pun masuk ke kelasnya Sarifah, menggantikan jam pelajaran istrinya itu.
Sepeninggalannya Pak Ibrahim. Bu Darmi pun mendekati Bu Ros, yang tengah serius mengoreksi tugas siswa. Bu Darmi mendudukkan bokongnya, di kursi plastik yang ada di sebelah kanan Bu Ros. Melihat Bu Darmi mendekatinya. Ia pun tersenyum tipis, pada wanita paruh baya, yang suka ngegosip itu.
"Aku bisa baca hatinya Ibrahim. Pasti setiap hari dia berdoa, agar istrinya itu cepat menghadap yang kuasa." Ujar Bu Darmi serius.
Bu Ros yang terkejut dengan ucapan Bu Darmi, menatap heran wanita paruh baya itu. Koq bisa kalimat itu keluar dari mulutnya.
"Iya Bu Ros. Aku yakin sekali akan hal itu!" Bu Darmi mempertegas ucapannya. Karena ia lihat Bu Rose menampilkan ekspresi wajah masam padanya.
"Bu Darmi, jangan terlalu ikut campur urusan orang lain. Dan jangan menduga-duga perasaan orang lain. Tidak ada seorang suami yang ingin jadi duda." Jawab Bu Ros, ia tatap Bu Darmi dengan muka masamnya.
Bu Darmi melirik Bu Rose dengan muka kecutnya. Hari ini, ia salah ajak teman ngegosip. Ceritanya tidak bersambut.
"Kita itu harus dukung Pak Ibrahim. Agar tetap sabar merawat istrinya. Toh, dulu Bu Sarifah sehat. Ia jadi seperti sekarang kan peninggalan dari kecelakaan yang ia alami." Jelas Bu Ros menatap Bu Darmi yang tersenyum kecut padanya. Bu Darmi menutupi rasa malunya dengan senyumnya. Karena, ia kena ceramahi Bu Rose.
***
__ADS_1
Dukung novel ini dgn like dan komentar positifnya say. ,,😍