
Suasana kelas cukup riuh karena guru yang akan mengajar belum memasuki kelas. Itu terjadi, karena Ibrahim masih belum masuk kerja. Dan guru yang ditunjuk menggantikannya, juga tidak hadir tanpa kabar. Hal itu lah yang membuat guru piket telat mengetahui kelas yang kosong.
"May, kamu gak ada les lagi kan?" tanya Bu Darmi dengan muka berlipat. Hari ini bu Darmi yang piket.
Maya yang sedang menyiapkan materi ajar power point di laptopnya. Kini menoleh ke arah Bu Darmi. "Gak ada sih bu. Emang napa bu?" tanya Maya tersenyum tipis. Mukanya Bu Darmi sudah berlipat, tak baik, jika Maya mukanya berlipat juga bicara dengan Bu Darmi.
"Kelas 9-6, ribut kali. Kamu tahu kan kelas danger itu." Ekspresi wajah Bu Darmi masih bete
"Iya, emang napa bu?" tanya Maya dengan penasarannya. Maya beranggapan, Bu Darmi ada masalah dengan kelas 9-6.
"Pak Asrol gak masuk. Padahal dia yang gantiin Pak Ibrahim, yang lagi cuti seminggu. Kamu mau kan masuk ke kelas 9-6?" ujar Bu Darmi penuh harap.
Seketika ekspresi wajahnya Maya berubah murung. Jujur, ia juga kadang kesal, jika masuk ke kelas 9-6. Siswanya pada gak beres. "Guru yang lain saja ya bu. Aku lagi ngerjain tugas ini." Tolak Maya enggan.
"Maya, kamu kan guru penjaskes. Makanya aku minta kamu yang masuk ke kelas itu. Karena sekarang mereka masuk jam pelajaran penjaskes." Ujar Bu Darmi dengan muka masamnya. Sudah lima guru dia minta masuk untuk inval kan kelas Ibrahim, tapi gak ada guru yang mau masuk kelas itu.
"Gimana negara kita mau maju, kalau gurunya seperti ini semua. Maunya enaknya saja!" ujar bu Darmi kesal. Suaranya yang keras, menyita perhatian guru lainnya.
"Hei Bu Darmi, jangan bilangin orang saja kamu bisanya. Kamu saja tidak mau amankan kelas itu." Ujar Bu Ros sewot. Ia tersinggung dengan ucapan Bu Darmi, yang mengatakan guru-guru tidak ingin masuk ke kelas itu. Dan guru-guru inginnya masuk di kelas yang enak. Atau ke kelas siswanya yang baik-baik perangainya.
__ADS_1
"Emang faktanya gitu."
"Ya sudah, Kamu saja yang masuk ke kelas itu." Jawab Bu Ros cepat, memotong ucapan Bu Darmi. "Kamu saja gak mau masuk kan? padahal kamu juga free les."
"Sudah.. Sudah... Jangan ribut. Aku saja yang masuk ke kelas 9-6." Ujar Maya lembut. Ia akhiri pekerjaannya. Kemudian beranjak dari duduknya. Menyeret kakinya cepat, ke kelas Danger itu.
Benar saja, dari luar kelas. Suara gaduh dari dalam kelas terdengar sangat jelas. Bisa Maya pastikan aktivitas yang dilakukan siswa di kelas itu pastinya sangat beraneka ragam. Ada siswa yang asyik mengobrol, ada siswa yang asyik bernyanyi bak sedang konser musik, ada pula siswa yang menjaili siswa lain. Memang kelas ini terkenal danger.
Maya menekan handle pintu kelas, yang sengaja di tutup para siswa, agar guru tidak masuk ke kelas mereka. Agar mereka bebas berekspresi di dalam kelas.
Braakk..
Maya yang mendorong kuat pintu, membuat perhatian para siswa tersita ke arahnya. Suasana yang tadinya riuh, mendadak hening. Apalagi Maya menajamkan kedua matanya ke para siswa yang sedang berulah.
"Assalamualaikum.....!" ucapnya tegas. Wajah cantiknya benar-benar membuat para siswa menatapnya lekat. Ya, maya tidak mengajar di kelas ini. Tapi, ia sering menginval di kelas itu. Jadi, ia sudah tahu watak para siswa di kelas ini. Kebanyakan para siswanya tidak punya akhlak yang baik. Dan tidak pantas dikatakan sebagai siswa.
"Walaikum salam..!" Sahut sebagian siswa. Sedangkan Siswa yang ribut dari tadi tidak menanggapi ucapan salamnya Maya. Malah menatap malas sang ibu guru.
Maya tidak terlalu ambil pusing dengan sikap siswa yang tidak punya akhlak itu. Ia harus tetap tenang dan sabar. Selama sikap sang anak didik tidak keterlaluan.
__ADS_1
Maya menatap satu persatu peserta didik dengan tersenyum tipis. Tapi, dengan bahasa tubuh yang tegas. Sebagian siswa mulai terhipnotis dengan sikap tegas dan ramahnya Maya. Siswa itu pun mulai memperhatikan Maya yang terlihat respeck pada mereka.
"Anak-anak ibu tercinta. Berhubung pak Ibrahim tidak hadir. Jadi, kali ini. Ibu yang akan ajarkan pelajaran PJOK kepada kalian." Ujar Maya dengan tegas tapi tidak kasar. "Ayo buka buku kalian!" lanjutnya lagi. Siswa kelas 9-6 ini memang tergolong siswa yang sangat beda dengan kelas lainnya. Cenderung malas belajar. Terbukti, guru sudah mulai pelajaran. Para siswa masih belum mempersiapkan diri untuk belajar.
"Eemm... Ayo duduk yang bagus!" Maya menegur siswa yang duduk tidak sopan. Melihat siswa itu tidak mengindahkan ucapannya, Maya pun menghampiri siswa tersebut. Ia tatap nama peserta didik di name tag nya. "Badsyah.. Ayo duduk yang sopan!"
Siswa yang bernama Badsah, mengubah posisi duduknya dengan lurus menghadap papan tulis.
"Pertemuan kali ini, kita akan bahas mengenai Budaya hidup sehat." Maya memberi instruksi agar siswa kembali membuka buku paketnya.
"Setiap manusia tentunya ingin memiliki tubuh yang sehat. Agar memiliki tubuh yang sehat, tentunya harus menjaga dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. Seperti berolahraga dan memakan makanan-makanan yang sehat. Menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh adalah hal yang sangat penting. Apalagi buat kalian, yang sedang dalam masa pertumbuhan."
"Hahahaha.. banyak bacot..!"
Deg
Maya tersentak mendengar umpatan siswa yang bernama Badsah. Ia yang sedang mulai menerangkan materi pelajaran, terpaksa berhenti bicara. Ia tidak bisa berkata-kata lagi saking syoknya. Selain itu, pikirannya juga langsung kosong dan materi yang akan disampaikan lenyap dari kepalanya.
***
__ADS_1
Bersambung