Bukan Suami Takut Istri

Bukan Suami Takut Istri
Geram


__ADS_3

"Ibrahim, jangan pergi nak! kasihan anak-anak mu, mereka butuh kasih sayang ibunya." Ujar sang ayah mertua sedih. Ia tahan tangan Ibrahim yang menggerek kopernya keluar dari kamar tidur.


Ibrahim menghentikan langkahnya ia memutar lehernya menatap sang ayah mertua yang terlihat sangat Terpukul itu. "Tulang, ini yang terbaik!" ujarnya tegas.


Para saudaranya Sarifah dibuat heran dan geram dengan keputusannya Ibrahim. Mereka tidak menyangka, Ibrahim benar-benar akan meninggalkan Sarifah.


"Hei... Ibrahim. Maksud kamu pergi apa? kamu talak dulu si Sarifah baru kamu pergi!" teriak Rimma dengan penuh emosi.


Ibrahim tidak menanggapi ucapan kakak kandung pertamanya Sarifah itu. Ibrahim belum ada niat menceraikan Sarifah. Ia hanya ingin menenangkan diri dulu. Memikirkan keputusan selanjutnya, yang akan ia ambil.


Ibrahim terus melangkah ke luar. Kedua tangannya sudah menyeret koper, sedangkan anak-anak nya sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil. Ibrahim belum ada niat menceraikan Sarifah. Ia hanya ingin menenangkan diri dulu. Memikirkan keputusan selanjutnya, yang akan ia ambil.


Ya, Ibrahim membeli mobil. Mobil itu dibeli dengan uang yang dipinjam dari bank, atas nama Ibrahim. Sarifah serta keluarganya mendesaknya untuk membeli mobil. Karena, dulu sering sekali Sarifah kejang-kejang dan tidak sadarkan diri. Jadi, mobil sangat dibutuhkan untuk membawanya cepat ke rumah sakit.


"Hafidz... Ledy.. Cucuku..!" Si nenek menghampiri kedua cucunya yang sudah duduk di kursi barisan kedua. "Turun sayang, jangan ikut ayah kalian!" bujuk wanita tua itu dengan menangis histeris.


Hafidz dan Ledy hanya diam di tempat. Tapi, raut wajah sedih dan bingung tercetak jelas di wajah mereka. Anak kecil itu sungguh bingung dengan apa yang terjadi.


Tin


Tin


Tin


Ibrahim membunyikan tiga kali klakson, meminta agar sang ibu mertua menjauh dari mobilnya. Karena ia tancap gas.


Hua....


Hua....


Hua...


"Sarifah.... Sarifah putriku..!" teriak ibunya Sarifah, menangis histeris di halaman rumah itu.

__ADS_1


"Bu, sudah. Ayo kita masuk ke dalam rumah. Tidak usah tangisi pria miskin itu. Sudah tepat, ia pergi dari rumah ini. Ibrahim tidak pantas untuk Sarifah Bu!" Ujar Rimma dengan lembut, memberi pengertian pada sang ibu.


"Tidak Rimma, siapa yang akan menjaga Sarifah!" ujar sang ibu menatap sedih putri tertuanya itu.


"Kita bu, kita yang akan jaga Sarifah. Kita akan sama-sama tinggal di rumah ini, jagain Sarifah!" jelas Rimma dengan penuh keyakinan


Sang ibu masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan putri nya itu. Tapi, ia bisa apa.


"Bang, ngapain kalian masih di luar. Ayo masuk!" ujar Rimma dengan menatap masam sang suami, yang menurutnya tidak berguna. Dari tadi diam saja, padahal mereka sudah merencanakan jauh jauh hari sebelumnya, untuk memisahkan Sarifah dengan Ibrahim. Dan kali ini, rencana mereka berhasil.


***


"Ayah, kita mau ke mana ayah?" tanya Ledy menatap lekat sang ayah yang sedang menyetir dengan muka kusutnya.


"Ayah...!" tak direspon Ibrahim. Ledy kembali memanggil ayahnya itu.


Ibrahim melirik sang putri, yang kini sudah pindah tempat duduk ke sebelah nya. "Ke rumah paman Damir sayang!" Ibrahim tersenyum tipis menatap sang putri.


"Oouuww.. Ke rumahnya Salsa?"


"Kenapa mama gak ikut sama kita ayah?"


Pertanyaannya Ledy membuat suasana hatinya Ibrahim semakin kacau. Sebenarnya ia menyesal telah mengambil keputusan pergi dari rumah tanpa diketahui sang istri. Tapi kalau ia tidak pergi dari rumah itu, maka sepanjang malam hingga esok, akan selalu ada perselisihan di rumah itu. Karena saudara-saudaranya Syarifah selalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya.


Sikap baiknya Ibrahim selama ini di pandang rendah oleh keluarganya Sarifah. Padahal, Ibrahim bersikap baik dan sedikit lembek selama ini, karena ia tidak ingin ada pertengkaran dan aalah paham di keluarga besarnya Syarifah. Jadi selama ini Ibrahim Selalu Mengalah atas kata-kata umpatan, kata-kata pedas yang selalu dikeluarkan saudara-saudaranya Syarifah terkait Ia yang dulu masih jadi guru honorer, menikahi Syarifah yang sudah jadi PNS.


"Mama kan lagi sakit sayang."


"Oouuww.. Iya Ayah." Ledy nampak mengerti.


"Sudah, kamu tidur."


"Gak ayah, kan sebentar lagi kita sampai ke rumahnya Salsa!"

__ADS_1


"Masih lama, ada satu jam lagi." Jawab Ibrahim lembut. Ia usap kepala anaknya itu, ia tersenyum manis, kemudian Ia lirik putranya Hafidz yang sudah tertidur di kursi belakang.


Hufftt..


Hari ini ia tidak menyangka, telah melewati Kejadian yang sangat menguras emosi. Rumah tangganya hancur, karena orang ketiga. Orang ketiga yang dimaksud adalah ipar.


Ledy pun akhirnya tertidur. Ibrahim yang sedang kacau itu akhirnya memutuskan menepikan mobilnya di sebuah warung kopi yang masih buka tengah malam ini. Rasanya ia perlu istirahat sejenak untuk menenangkan kepalanya yang terasa panas dan sakit seperti ditimpa batu besar. Kepalanya itu mau pecah, memikirkan kejadian yang menimpanya hari ini. Kejadian yang terjadi hari ini cukup menguras tenaga, pikiran serta membuat hatinya sakit.


Tak pernah ia bayangkan rumah tangganya yang sudah ia bangun dengan Syarifah selama 8 tahun harus berkahir karena ulah keluarga sang istri yang selalu ikut campur.


Ibrahim yang kacau itu menyesap kopi pesanannya. Sesekali ia tatap ke arah mobilnya, melihat keadaan anak-anaknya, siapa tahu sudah terbangun.


Huufftt..


Ibrahim menarik napas panjang.


"Bang, ada rokok?" tanyanya pada pemilik warung kopi.


"Ada bang!" sahut pemilik warung cepat. Pria yang masih muda itu pun menghampiri Ibrahim, dengan menunjukkan beberapa merk rokok.


"Yang ini saja!" ibrahim meraih rokok itu, kemudian si pemilik warung memantikkan api rokoknya Ibrahim.


Ibrahim mulai menyesap rokoknya dalam-dalam. Ia bukan perokok aktif, tapi disaat banyak pikiran, ia mau juga merokok.


Walau sudah menyesap rokok, pikirannya Ibrahim masih dipenuhi perkelahian yang terjadi di depan warung bandrek, dan berlanjut ke rumahnya. Hal itu cukup membuatnya kesal.


Untuk mengalihkan pikirannya, atas kejadian yang terjadi hari ini. Ia pun mulai berselancar di dunia maya. Mulai menscrol aplikasi biru itu. Dan saat asyik berselancar di dunia maya. Ia dikejutkan dengan apa yang ia lihat saat ini di layar handphonenya. Ternyata video perkelahian antara Maya dan kakak-kakaknya Syarifah di depan warung bandrek telah viral di sosial media. Melihat itu membuat Ibrahim jadi teringat kepada Maya.


Aarrggkk..


Ibrahim teriak kencang. Sehingga penjaga warung cukup kaget dengan kelakuan Ibrahim. Tapi, penjaga warung tidak kepo, ia hanya melirik Ibrahim sekilas.


"Sial.." umpatnya dengan penuh kekesalan. Kejadian itu tentu akan membuat Maya malu.Ia sangat menyayangkan sekali kejadian di depan warung Bandrek itu. Kenapa Maya terseret dalam masalah rumah tangganya? Padahal ia dan Maya sama sekali tidak ada hubungan.

__ADS_1


"Kurang ajar, lihat saja. Aku akan balas perlakuan kalian semua!" Ibrahim bicara sendiri, dengan gigi yang rapat. Ia geram, akan kelakuan para saudaranya Sarifah.


****


__ADS_2