
Maya tidak bisa membendung kesedihan di hatinya. Perlakuan orang-orang yang tidak ia kenal itu, sukses membuat nya traumah. Dipermalukan di depan khalayak ramai, tanpa kita tahu salah kita apa, itu adalah hal yang sangat menyakitkan sekali. Entah dasar apa, mereka mengatakan Maya seorang pelakor. Jalan bareng dengan Ibrahim saja tidak pernah. Di sekolah pun, tempat mereka kerja, sikap keduanya masih dalam hal wajar.
Sepanjang jalan menuju pulang ke rumah. Air matanya Maya terus saja mengucur deras, membasahi pipi merahnya. Ia sangat kesal sekali kepada keluarganya Ibrahim. Entah dosa apa yang pernah ia lakukan, hingga ia dipermalukan seperti tadi.
Hua... Hua... Hua....
Teriaknya menangis kejer saat mengemudikan motornya. Jalanan masih ramai, karena malam minggu. Maya tidak bisa ngebut. Padahal, ia sudah tidak sabar ingin sampai di kost an. Ingin menangis sekencang-kencangnya. Meluapkan kesedihan. Kenapa ia dikatakan pelakor. Pacaran saja ia tidak pernah. Bahkan ia sering dikatakan perawan tua oleh kerabatnya. Karena di usianya yang sudah kepala tiga, ia belum menikah juga.
Sesampainya di depan kost an. Maya dengan cepat melap air matanya yang membanjiri pipinya. Ia bergegas turun dari motornya, membuka pintu kost an dengan sesekali menarik ingusnya yang terus saja naik turun.
Fiiuuhh..
Ia pun membuang ingusnya, setelah berhasil membuka pintu rumah. Rencananya ia akan memasukkan motornya ke dalam kost an, dan masuk kamar. Saat hendak memasukkan motornya. Ia dikejutkan dengan keberadaan Ibrahim yang ada di depan kosannya.
Maya tidak tidak memperdulikan keberadaan Ibrahim yang kini berdiri di hadapannya, dengan muka penuh penyesalan.
"May, maafkan aku ya!" ujar Ibrahim, memundurkan langkahnya ke samping. karena Maya hendak menabraknya. Saat ini, Ibrahim menghalangi langkahnya Maya. Hal itu membuat Maya semakin kesal. Ngapain juga, Ibrahim menyusulnya.
"Pak, jangan buat keributan di sini. Sebaiknya bapak pergi dari tempat ini!" Ujarnya tegas, ia tidak mau menatap Ibrahim. Karena ia yakin, matanya sudah bengkak, karena menangis kejer di jalan tadi.
"I, iya May. Kamu gak apa-apa kan?'
tanya Ibrahim dengan penuh kekhawatirannya. Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya untuk meminta maaf lagi pada Maya, yang terlihat sangat sedih dan terpukul itu.
Ibrahim pun berniat membantu Maya memasukkan motornya. Pria itupun akhirnya mencoba meraih stang motornya Maya, Tapi, Maya menipis kuat tangannya Ibrahim. Dan melototkan kedua matanya ke Inrahim.
"Pak, please... Pergi dari tempat ini. Aku tidak mau dengan kehadiran bapak. Malah menambah masalah." Ujar Maya menatap kesal Ibrahim.
Maya merasa sial sekali, karena Ibrahim. Seumur hidup, ia tidak pernah semalu ini, dengan kejadian tadi.
"Iya May, maafkan aku, kalau kamu ingin aku pergi dari tempat ini, kamu harus maafkan aku dulu!"
"Bapak sudah saya maaafkan. Ku mohon pergilah!" ujar Maya tegas, ia semakin menatap kesal Ibrahim.
Ibrahim yang tidak mau pergi, membuat Maya semakin panik. Ia bakal jadi bahan gunjingan tetangganya, karena kedatangan Ibrahim. Memikirkan hal itu, membuat Maya semakin sedih. Air mata yang sejak tadi ia tahan, tidak terbendung lagi. Sehingga cairan bening itu lolos sudah mengucur deras membasahi pipinya. "Pergi pak... Pergi...!" teriaknya dengan isak tangis. Tubuhnya bahkan sampai bergetar, menahan sedih yang tidak tertahankan.
Ibrahim tersentak mendengar bentakan dari Maya. Hal itu semakin membuatnya semakin merasa bersalah. Sedangkan tetangganya Maya pada keluar semua dari rumah masing-masing, karena mendengar suara teriakan Maya yang kencang. Hal itu kembali jadi tontonan penghuni kost an. Yang kebanyakan sudah berkeluarga.
"Pak Ibrahim...!" Sapa seorang pria, yang mengontrak di depan kos an nya Maya. Bergegas menghampiri Ibrahim dan Maya, yang masih bersitegang.
Ibrahim menoleh ke asal suara. Ia usap wajahnya kasar. Dan menarik sudut bibirnya, sehingga menciptakan senyum tipis ke pria itu. Senyum dipaksakan, untuk menutupi kegelisahan. Sedangkan Maya buru-buru masuk ke dalam kosan dan menutup pintunya dengan kuat. Ia tidak peduli dengan Ibrahim yang kini tengah bicara dengan tetangganya.
__ADS_1
Brruukk..
Maya pun ambruk di ruang tamu, setelah menstandarkan motornya. Hatinya terasa sakit sekali. Kejadian tadi terus saja terngiang- ngiang di pikirannya, yang membuat dadanya terasa sakit, nyeri dan ngilu. Masalah ini membuat kepalanya terasa mau pecah, seperti baru di pukul oleh palu bogem.
Maya yang tidak tahan lagi dengan rasa sakit di kepalanya serta sesak di dadanya. Akhirnya melampiaskan rasa sakit itu dengan nemukul-mukul kuat dadanya yang berdebar debar kuat tidak berirama, serta kepalanya yang terasa sakit mau pecah itu.
"Ya Tuhan... Cobaan apa lagi ini? belum lagi hilang cap perawan tua orang-orang kepadaku dan sekarang, aku dikatakan seorang pelakor!" ujarnya penuh ratapan, menatap langit langit ruang tamu dengan penuh keputusasaan. Sedangkan tangan nya, masih setia mengusap usap dadanya yang terasa sakit dan sesak itu. Lelah menangis di atas ambal lembut di ruang tamu kost an. Maya pun akhirnya memilih untuk menunaikan sholat Isya.
***
Ibrahim yang begitu mengkhawatirkan Maya, akhirnya mengirimkan chat kepada wanita itu.
Maafkan aku ya Bu Maya..!
Chat terkirim, tapi masih belum dibaca.
Setelah mengurimkan pesan kepada Maya. Ali yang duduk tidak tenang di dalam mobilnya, terlihat berulang kali menarik napas panjang dan dalam. Ia sungguh kacau saat ini. Karena, memikirkan Maya. Maya telah jad korban, dari kebrutalan saudara-saudaranya Sarifah.
Huufftt
Ibrahim menyalakan mesin mobilnya. Setelah merasa sedikit tenang. Ia pun melajukan mobilnya menuju rumahnya. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tidak sabar untuk sampai di rumah. Meminta penjelasan dari sang istri, atas terjadinya kekacauan di depan warung bandrek. Yang dilakukan oleh keluarga besarnya Sarifah.
"I, itu ayah sudah pulang!" teriak Ledy dengan ceriahnya. Gadis kecil itu tentu saja merindukan ayahnya. Karena, sejak sore hingga kini pukul 11 malam, ia baru melihat sang ayah.
Ibrahim meraih tubuh sang putri, menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Nah.. Itu si Ibrahim sudah datang!" ujar ibu mertuanya Ibrahim. Semua kerabatnya Sarifah bangkit dari duduknya dengan muka berlipatnya. Kecuali ayahnya Ibrahim, yang nampak sedih.
"Nak Ibrahim, duduk lah!" Pinta ayah mertuanya lembut. Meraih pundaknya Ibrahim, dan menuntunnya agar duduk di sebelahnya.
"Ayah.. Ayah...!" Celoteh Ledy, gadis kecil itu tidak bisa tidur. Kalau tidak didongengkan sang anak. Beda dengan hafidz yang sudah tidur dari pukul 9 malam.
Ibrahim mendudukkan bokongnya, kemudian memangku Ledy sang putri. "Iya nak, kamu jangan ribut dulu ya!"
"Iya ayah " Ledy memasrahkan kepalanya di dada bidangnya Ibrahim. Ayahnya itu pun mengusap usap lembut punggung sang putri. Menidurkan anak gadis manjanya itu
"Lihatlah, ekspresi wajahnya begitu tenang. Ia tidak merasa bersalah sama sekali." Ujar Kakaknya Sarifah yang tertua dengan muka masamnya menatap Ibrahim. Tatapannya penuh dengan kebencian. Sangat bengis, seolah Ibrahim adalah manusia paling hina di dunia ini.
Ibrahim tetap bersikap tenang. Ia sudah bosan dihakimi seperti ini. Ini bukan pertama kalinya buatnya, disidang keluarga besarnya Sarifah. Sejak menikah dengan Sarifah. Ia sudah direndahkan. Karena Ibrahim, berasal dari keluarga miskin.
"Rimma, diamlah!" Ujar sang ayah dengan tegas. Memang anak-anak nya semuanya sikapnya frontal, seperti istrinya
__ADS_1
"Ini gak bisa didiamkan ayah. Lihatlah gara-gara kelakuan bejatnya Ibrahim. Penyakitnya Sarifah kumat. Kak Sofi juga sudah dibawah ke rumah sakit. Yang melukai Kak Sofi, selingkuhannya Ibrahim." Ujar kakaknya Sarifah dengan nada tinggi. Mukanya sangat menyebalkan.
"Iya, kamu tenang dulu. Kita kesini mau selesaikan masalah. Bukan mau cari masalah baru. Atau mencari siapa benar, siapa yang salah " Sahut sang ayah tegas.
"Dia yang salah ayah, Ibrahim selingkuh. Ini wanita selingkuhannya. Teman kerja nya, yang videonya tadi ku tunjukkan kepada ayah." Si Rimma tetap ngotot menyalahkan Ibrahim.
Video?
Gumam Ibrahim.
Ibrahim sebenarnya sudah panik dan was was atas ucapan kakak iparnya Rimma, terkait adanya video Maya yang mereka tonton.
Masih dengan bahasa tubuh tenang nya. Walau pikirannya kacau, Ibrahim tetap tenang. Hal itu membuat ipar-iparnya semakin geram.
"Lihat, lihatlah ayah. Dia tidak menyelah tuduhan kita. Itu berarti benar ayah!"
"Rimma.. Diam... Kamu...!" teriak sang ayah lagi dengan keras. "Astagfirullah...!" pria itu memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit. Ia emosi sudah.
"Ayah....!" putra terkecilnya yang masih lajang, mencoba menenangkan sang ayah, dengan mengusap lembut punggung pria tua itu.
Huuffftt.
Ayahnya Sarifah menarik napas panjang dan dalam. Ia harus bisa tenang, agar tidak kena serangan jantung
Sementara saudara Sarifah yang lainnya, meminta Rimma untuk diam dan tidak usah ikut campur dulu. Cukup mereka mendengarkan dulu penjelasan dari Ibrahim.
Saat ini, ada tiga lagi saudara Sarifah di rumah itu. Sedangkan satu saudaranya, menemani kakak iparnya Sarifah yang masuk rumah sakit. Karena, dibanting oleh Maya.
Huuffftt.
Ibrahim menarik napas panjang. Dan menghembuskannya kasar. Ia melakukan itu berulang kali, hingga ia merasa lebih tenang.
"Cukup sudah tuduhan kalian atasku. Aku tidak tahu, apa yang dikatakan Sarifah kepada kalian semua, hingga kalian melakukan penyerangan kepada Maya, teman kerjaku."
"Kamu selingkuh!" Rimma kakaknya Sarifah memotong ucapan Ibrahim
Ibrahim menatap tajam ke arah kakak iparnya itu. Memang wanita inilah yang jadi orang ketiga, perusak rumah tangganya .
***
Reader sayang, cerita nya dibaca dengan penuh penghayatan ya!
__ADS_1