Bukan Suami Takut Istri

Bukan Suami Takut Istri
Urus masalah orang


__ADS_3

"Haah... Kamu, kamu kenapa dek?" tanya Ibrahim dengan mata melotot. Kedua matanya membulat sempurna, seperti hendak keluar


dari tempatnya saat melihat penampakan Sarifah di hadapannya. Ibrahim baru saja keluar dari kamar man-di.


"Ya.. Seperti yang abang lihat!" Maya menaikkan kedua bahunya yang menampakkan tulang selangkanya dengan jelas. Ia pun memusing di hadapan Ibrahim. Berlenggok manja di hadapan sang suami.


"Ta, tapi ini. !" Ibrahim menaik turunkan tangannya, menilai penampilan Sarifah yang aneh.


Malam ini Sarifah ingin memuaskan Ibrahim. Ia pun akhirnya memakai lingerie. Lingerie yang ia beli saat mereka pengantin baru. Sarifah sangatlah cantik, dan menggoda dulunya. Tapi, sejak ia operasi otak dan mengalami penyakit epilepsi, kecantikannya memudar drastis. Ditambah sikapnya juga berubah, jadi frontal.


"Jangan banyak protes sayang, nikmati saja!" ujarnya mende sah manja, menggigit lembut daun telinganya Ibrahim. Dan, Sarifah mengarahkan tangan Ibrahim ke balon kembarnya yang sudah kempes


Hahahhaha..


Ibrahim tertawa dalam hati, sungguh tingkah Sarifah malam ini sukses membuatnya tertawa geli. Karena tangannya yang sedang memegang balon kempes. Ya, buah dadanya Sarifah sudah melempem. Tidak ada lagi yang mau diremes di sana. Yang tinggal hanyalah ****** gunung itu. Karena gunung kembarnya sudah erupsi. Gak ada yang menonjol. Apa Yang mau dire mas Ibrahim.


"Emmm.. Bener siap? kita sudah lama tidak melakukannya. Kamu tahukan gimana dahsyatnya sodokan suami mu ini?" Ibrahim menaik turunkan alisnya, ia menantang sang istri.


"Siap lahir dan bathin..!"


Graapp..


Sarifah lepas lingerienya. Ia lempar ke sembarang arah. Kemudia ia melompat dalam gendongan sang suami. Posisinya Sarifah yang digendong depan sang suami, membuatnya dengan leluasa mengeksplore tubuh sang istri. Tentu mereka bercum bu panas dalam keadaan berdiri.


Walau tubuh nya Sarifah tidaklah menarik lagi. Ibrahim tidak mempermasalahkan itu. Ia syukuri yang dimilikinya saat ini. Dulu di dua tahun pernikahan mereka. Ia selalu puas dibuat sang istri. Karena, Sarifah lihai bermain di ranjang. Seperti sekarang, walau Sarifah pasrah seperti batangan pisang. Tapi, ia masih lihai mengoyang pinggulnya, sehingga keduanya mendapatkan kenikmatan yang dahsyat.


***


Pagi ini, suasana rumahnya Ibrahim sangat hangat penuh dengan cinta kasih. Sikapnya Sarifah juga sudah kembali seperti dulu, lembut tidak suka marah-marah. Bahkan mereka melakukan hubungan suami istri lagi menjelang shubuh. Hal itu membuat Ibrahim tidak sempat masak. Tapi, syukurlah ibunya Sarifah memasak sarapan mereka.

__ADS_1


Setelah sarapan, Ibrahim mengantarkan Hafidz ke sekolahnya. Kemudian, ia dan sang istri. Naik mobil ke sekolah.


Sesampainya di sekolah. Gosip panas kejadian Maya yang dilabarak kakaknya Sarifah, mencuat kepermukaan. Bahkan, para guru menyerang Sarifah. Menyalahkan Sarifah, karena saudarinya telah menyerang Maya.


"Bapak, ibu Semuanya, ku mohon jangan dibahas masalah keluarga kami di sini. Ini adalah tempat bekerja, bukan tempat ngerumpi." Ibrahim yang tidak ingin sang istri kembali setres memikirkan masalah itu, dengan terang terangan bicara di kantor saat istirahat.


"Iya Ibrahim, tapi lihatlah. Gara-gara Si Sarifah. Maya jadi korban." Sahut Bu Ros dengan tegas. Para guru merasa terpanggil untuk membela Maya.


"Iya bu, itu suatu kekhilafan. Aku sudah minta maaf pada Maya. Ia juga tidak mau membahas masalah ini." Jawab Ibrahim dengan lembut. Ia ingin meredam emosi para guru-guru yang geram pada Sarifah.


"Tapi, Gara-gara ulah kakaknya si Sarifah, Maya jadi malu. Saking tertekannya ia, hari ini dia gak masuk kerja." Ujar Bu Darmi.


"Iya bu, maaf. Kami sekeluarga minta maaf. Ku mohon, masalah ini dilupakan. Jangan dibahas lagi " Tegas Ibrahim, ia rangkul sang istri yang tertunduk malu di sebelahnya.


"Eemmm.. Karena kamu ini sarifah, buat tuduhan gak bener. Mana mungkin Maya mau sama suami loh. Dia itu cantik, sopan berkelas, gak mungkinlah jadi pelakor! lagian, apa yang mau diambil dari Ibrahim. SK nya aja sudah tergadai di bank " Ujar Bu Darmi kesal menunjuk Sarifah.


"Astagfirullah... Bu Darmi. Nyebut...! ini aku di depan ibu loh!" Ibrahim bicara dengan kesalnya menatap Bu Darmi, ia tunjuk tunjuk dirinya. Ia dikatain di hadapan sendiri, di depan istrinya. Di mana harga dirinya di depan guru-guru lainnya.


"Ya, karena kamu di sini, aku berani katakan itu. Aku tipe orang gak mau jelek-jelekin di belakang!' Jawab Bu Darmi sewot


" Astaga bu Darmi. Tidak usah kau urus keluargaku dan masalah masalahku. Kamu kurang kerjaan? kalau mau urus urusan keluargaku, sekalian urusin hutang-hutangku di bank!" Jawab Ibrahim kesal. Bisa-bisa nya ia terpancing, dan meladeni Bu Darmi yang juga tetangganya itu.


"Darmi... Sudah... Kamu ngapain urusin Masalahnya orang!" Bu Jernih, merangkul Darmi, Agar kembali duduk di kursinya. " Sudah... Jangan bahas masalah ini lagi. Cukup sebagai pelajaran saja, untuk kita agar menjaga jarak, perilaku dengan lawan jenis. Jangan terlalu akrab dengan suami atau istri orang. Nanti, keseringan bercanda, curhat, akhirnya merasa nyaman dan kecantol." Jelas Bu Jernih serius di tengah tengah ruang kantor itu.


"Iya.. Kita disini saudara. Jangan ada yang bermusuhan gara-gara masalah ini." Timpal Bu Rose.


Teeett


Bel berbunyi dengan keras. Tandanya waktu istirahat telah habis dan saatnya masuk les berikutnya.

__ADS_1


Para guru meninggalkan kantor dengan berkelompok menuju kelas. Apa lagi yang dibicarakan guru-guru saat menapaki teras kelas, Kalau bukan membicarakan masalahnya Ibrahim, Maya dan Sarifah


"Kasihan Maya ya bu. Nanti pulang sekolah kita jenguk dia di rumahnya yuk!" ajak bu Dewi kepada Bu Azizah.


"Iya bu. Ayok..!" Sahut Bu Azizah dengan antusias.


"Iya, aku masuk dulu!" bu Dewi masuk kelas. Begitu juga Bu Azizah menyeret kakinya cepat menuju kelasnya.


Proses belajar mengajar kembali berlangsung. Guru yang tidak ada jam pelajaran, tetap sesekali membahas masalahnya Ibrahim dan Sarifah. Sudah ketiga kalinya, Ibrahim menangkap basah guru-guru menggunjing tentang masalah rumah tangganya.


Saat kedapatan, para guru-guru yang membicarakannya, pura-pura bahas masalah lain. Dan disaat ia pergi, ia kembali dibahas. Tidak semua guru seperti itu, tapi tetap ada circle tukang gosip.


"Bang... antar aku pulang ya?!' Sarifah mendatangi Ibrahim yang sedang mengisi perut di kantin. Ia sedang tidak ada jam, jadi ia ke kantin.


"Kamu kenapa dek?" tanya Ibrahim menatap lekat sang istri yabg nampak panik.


"Kepalaku pusing!" jawab Sarifah dengan muka masamnya. Ia pegangi kepalanya yang terasa pening.


"Oouuww.. Masih ada jam mu masuk kelas?" tanya Ibrahim.


"Jam ku sudah habis." Sahut Sarifah lemas.


Ibrahim bangkit dari duduknya. "Sudah lapor ke piket, kalau adek mau pulang?"


"Sudah bang!" Sahut Sarifah lemah.


"Baiklah, ayo!"


Pasangan suami istri itu pun berjalan menuju mobilnya yang di parkir.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2