Bukan Suami Takut Istri

Bukan Suami Takut Istri
Habis sabar


__ADS_3

Hari ini, Maya pulang kerja lebih lama dari biasanya. Karena, ia harus melatih anak didiknya yang akan ikut lomba turnamen volly. Banyaknya kegiatan hari ini membuatnya merasa sangat lelah. Lelah fisik, pikiran dan hatinya. Apalagi di sekolah ia banyak mengalami hal yang menguras emosil. Mulai dari sikap siswa yang buat kesal, kerjaan yang menumpuk, belum lagi ia digosipkan orang dekat dengan Ibrahim dan harus melatih anak-anak main bola volly.


Maya menenteng tas ransel motif chanel berwarna coklat. Ia keluar dari kantor dengan muka lelahnya. Hanya ia guru yang belum pulang. Untuk menghilangkan kesunyian saat menapaki koridor sekolah itu, Maya bersenandung sepanjang koridor menuju parkiran. Saat sampai di parkiran. Ia menaiki motornya, menyalakan mesin motornya. Dan mulai memacu motor bebeknya itu.


"Eehh.. Ke, kenapa ini?" Dengan paniknya Maya turun dari motornya. Menstandar kan motornya itu, kemudian memeriksa ban motornya. "Astaga.. Bocor..!" Ujar nya sedih penuh keputusasaan.


Huuffftt..


Maya menarik napas berat dan panjang. Baru juga ia lima meter mendorong motornya, rasanya sudah lelah sekali. Maya tidak mau mengendarai motornya yang kempes itu, takut ban motornya rusak dan akhirnya ganti ban baru.


"Ya Tuhan... Aku sudah lelah yang cari nafkah ini. Pingin kawin, biar dinafkahi..!" teriaknya lantang dengan spontan sambil mendorong motornya. Kali ini, Maya mengambil jalan pintas. Agar lebih dekat ke bengkel. Dan jalan yang ia lalui cukup sunyi.


"Ya Tuhan... Datangkan bala bantuan. Aku sudah lelah sekali. Pingin tidur, luruskan ini pinggangnya." Ujarnya lagi, terlihat serius mendorong motornya


"Ma, Maya..!"


Deg


Dengan debaran jantung yang terasa cepat dan tidak berirama, Maya mengangkat wajahnya. Di hadapannya, berdiri pria yang ia kenal, dan selalu ingin ia hindari.


"Pak Ibrahim." Sahutnya tersenyum tipis. Dan ia dengan cepat membuang pandangannya dari Ibrahim.


"Motornya mogok?" Ibrahim yang sudah menepikan motornya. Langsung memeriksa motornya Maya. "Oohh.. Kempes ban nya?"


Maya menganggukkan kepala lemah. Ia lirik Ibrahim yang masih memeriksa ban motornya.


"Eemm... Biar aku yang dorong!" Ibrahim mengambil Alih stang kemudi motornya Maya.


Dengan bingungnya Maya memberikan akses kepada Ibrahim mengambil alih motornya untuk di dorong.


"Eemm.. Terus motornya pak Ibrahim gimana?" tanya Maya dengan bingungnya. Menunjuk ke arah motornya Ibrahim, sambil berjalan mengekori Ibrahim.

__ADS_1


"Nanti, aku jemput lagi." Sahut Ibrahim ramah, dan terus mendorong motornya Maya.


Maya merasa tidak enakan, apalagi mereka sudah melewati perumahan warga dan juga akan melewati rumahnya Ibrahim.


"Pak, gak usah. Aku bisa sendiri!" Maya ambil alih paksa setir motornya lagi.


"Gak apa-apa Maya " Ibrahim tetap memegang kendali stang motornya Maya.


"Pak, semua harus dijaga. Aku gak mau nantinya orang-orang membicarakan kita." Ujar Maya, bicara to the point.


Ibrahim terdiam, ia tatap sekilas Maya. Kemudian memperhatikan sekitar. Dan akhirnya ia pun memberikan motor Itu lagi pada Maya. Dengan cepat Maya naik ke atas motor. Dan ia pun mengendarai motor yang ban nya kempes itu. Biar lah ban nya makin rusak.


Ibrahim masih menatap kepergian Maya, hingga wanita itu menghilang saat di persimpangan. Ada rasa sedih di hatinya, karena tidak bisa membantu wanita itu.


Huufftt..


Ibrahim menarik napas panjang dan berat. Ia pun membalik badan, berjalan cepat ke arah motornya yang ia parkir. Dan ia pulang ke rumah.


Praangg..


Kuali melayang ke arahnya. Syukur Ibrahim mengelak, sehingga tidak mengenai wajahnya. Rasanya darahnya sudah mendidih sampai ke ubun-ubun, melihat sang istri yang kesetanan di hadapannya saat ini.


"Sarifah... Apa yang kamu lakukan..!" teriak Ibrahim, menatap tajam sang istri yang terlihat emosi itu.


Sarifah menjulurkan tangannya. "Mana, mana minta goreng nya!" Sarifah bicara dengan penuh emosi. Menengadahkan tangannya, meminta minyak goreng yang ia tunggu sejak tadi.


Ibrahim nampak panik dan bingung. Karena ia jadi lupa beli minyak goreng. Sore ini, istrinya itu minta dimasakin nasi goreng. Saat Ibrahim ingin memasak, ternyata persediaan sembako mereka habis. Tidak ada minyak goreng dan telur lagi. Ibrahim pun keluar untuk membeli itu semua. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Maya. Gara-gara menolong Maya, ia jadi lupa dengan tujuannya ke luar rumah.


Braakkk..


Pintu kembali Ibrahim tutup dengan kuat. Ia memilih keluar dari rumah itu. Untuk menahan dirinya, agar tidak terpancing emosinya atas sikap sang istri yang di luar batas. Ibrahim tidak bisa sabar lagi, akan sikap sang istri, yang menurutnya dibuat-dibuat, untuk cari perhatiannya dan minta dikasihani. Istrinya itu seolah kecanduan dengan sikap tidak menghargai nya.

__ADS_1


Penyakitnya Sarifah sudah jauh membaik. Epilepsi yang ia alami sebagai akibat dari cedera otak yang dialami, saat kecelakaan tidaklah membahayakan nyawanya lagi, asalkan rutin minum obat dan bersikap tenang. Tapi, sepertinya. Sarifah sudah kecanduan dimanja oleh Ibrahim selama ini. Jadi, jika sesuatu hal yang ia ingin kan tidak langsung dituruti oleh Ibrahim, maka ia akan mengamuk. Dan apabila dibujuk atau ditenangkan malah semakin menjadi-jadi. Inilah yang membuat Ibrahim mulai bosan dan jenis dengan pernikahannya.


Harusnya, sang istri berusaha sabar dan mengontrol dirinya. Jangan me mancing-mancing emosi sendiri.


Praakk..


Kembali kuali di lemparkan Sarifah ke pintu rumah itu. "Gimana abang tidak lupa belinya. Abang asyik berduaan dengan Si Maya.!" Ujar sang istri dengan nada kuat dari dalam rumah.


Ibrahim yang memilih duduk di kursi teras rumahnya dibuat pusing mendengarkan ocehan sang istri.


"A, aku mau mati. Mati...!" teriak Sarifah lagi dari dalam rumah.


Ibrahim pun akhirnya masuk ke dalam rumah itu. Ancaman istrinya itu membuatnya ketakutan. Karena ia tidak mau hal buruk terjadi pada sang istri.


Dengan perasaan yang campur aduk, antara sedih, kesal dan putus asa. Ibrahim meraih tubuh sang istri yang tersungkur di ruang tamu itu.


"Sudah, jangan marah-marah seperti ini. Gak baik didengar tetangga." Ujar Ibrahim lemah. Ia usap lembut punggung sang istri, yang sudah basah karena keringat.


"Doakan aku mati. Agar abang bisa nikah lagi!" ujar Sarifah menangis sesenggukan dalam pelukan sang suami.


Ibrahim menatap malas Sang istri. "Kalau aku ada niat nikah lagi. Tidak perlu ku doa kan kamu meninggal."


Sarifah menatap kesal Ibrahim. Apapun yang diucapkan suaminya, selalu buatnya jengkel. "Terus kenapa abang selalu tebar pesona pada Maya. Abang ingin menggodanya kan?"


Ibrahim mengurai pelukannya dari Sarifah. Kalau bahas Maya lagi, ia jadi kesal. Entah berapa kali lagi Ibrahim jelaskan, kalau ia tidak ada niat menggoda Maya. Ia dan Maya sama-sama mengajar mata pelajaran PJOK, hal itu tentu membuat mereka sering komunikasi terkait pelajaran.


"Muak... Bosan aku Sarifah, selalu bahas bahas itu. Sudah ku katakan, kalau aku mau nikah lagi, sudah lama ku lakukan itu. Please... Sarifah. Jangan uji kesabaranku lagi. Sikap mu ini membuatku muak melihatmu. Aku tidak sanggup lagi membimbingmu" Ibrahim pun meninggalkan Sarifah di ruang tamu. Ia tidak sanggup lagi terus terusan bertengkar dengan istrinya itu.


***


Bersambung

__ADS_1


tinggalkan like komentar positifnya guys


__ADS_2