Bukan Suami Takut Istri

Bukan Suami Takut Istri
Ditangkap


__ADS_3

Ibrahim masih merasa lelah dan kantuk sekali. Jadi, setelah ia berbincang-bincang dengan sepupunya Damir. Ia memutuskan untuk tidur siang sejenak. Setelah itu, rencananya Ibrahim Sore hari nya, ia akan pulang ke rumah. Ia harus dalam keadaan yang fit, menghadapi Sarifah, agar ia bisa tenang berhadapan dengan istrinya itu.


Ternyata Ibrahim malah kebablasan yang tidur siang bareng anak-anak nya itu. Pukul 1 siang ia baru terbangun. Jadi, ada tiga jam Ibrahim dan anak-anak nya tertidur.


"Emm.. Bangun juga kamu ternyata Im?!" ujar sepupunya Damir, yang sedang berdiri di ambang pintu kamarnya Ibrahim. Damir sudah merencanakan membangunkan Ibrahim. Untuk sholat Dzuhur.


"Iya Dam. Kantuk kali aku!" Sahut Ibrahim, masih menguap. Ia pun menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya.


"Ponsel kamu bunyi terus dari tadi." Damir sang sepupu menunjuk ke arah ponselnya Ibrahim yang ia charger di dekat colokan tv. Ya, kamar yang di tempati Ibrhaim, tidak difasilitasi dengan colokan istri.


"Oouuww.. Palingan Sarifah." Sahut Ibrahim, berjalan ke arah ponselnya.


"Gak Im, tadi sempat aku lihat nomor lain koq."


"Oohh.. Iya ya?" Ibrahim sudah memegang ponselnya. Ia pun membuka panggilan tak terjawab itu. "Doni..?" Ujar Ibrahim dengan penasarannya. Ia pun kembali melakukan panggilan ke nomornya Doni.


Dari histori panggilan, Doni menelpon kira-kira 15 menit lalu. Ibrahim tidak tenang, saat menunggu panggilan suara itu terhubung. Dan saat terhubung, Ibrahim langsung bertanya pada Doni.


"Assalamualaikum... Ada apa ya Don?" Tanya Ibrahim dengan nada bicara penasarannya.


"Waalaikumsalam! Pak Ibrahim, apa maksud kalian melaporkan Maya ke kantor polisj?" Tanya Doni dengan kesalnya


"Melaporkan Maya ke kantor polisi? aku..?" Tanya Ibrahim dengan bingungnya.


"Bukan kamu, tapi istrimu dan kakaknya!" sahut Doni dengan nada kesal.


Ibrahim yang penasaran, dengan cepat mengubah panggilan jadi video. Doni pun menerima panggilan itu. Dan langsung mengarahkan camera ponselnya kepada Maya yang sedang diinterogasi pihak kepolisian.


"Astaga.... Don, kamu kawal terus Maya. Aku akan segera kesana. Maya tidak bersalah. Aku yang akan jadi saksi. Kamu tunjukkan dulu video lengkap kejadian." Ujar Ibrahim dengan paniknya. Ia lirik sepupunya Damir, yang duduk di sofa, memlerhatikannya saat menelpon.


"Iya cepat Pak. Aku tidak mau tahu, aku bisa balikkan tuduhan ini, kalau Maya tidak bebas dari tunduhan ini. Istrimu yang akan ku laporkan!" ancam Doni kepada Ibrahim. Mukanya ketat sekali saat bicara dengan Ibrahim.


"I, iya Don." Ibrahim pun memutuskan panggilan, tanpa salam penutup.


Ia langsung menghampiri Damir.


"Kamu harus bantu aku!" Ujar Doni dengan tidak tenangnya.


"Ada apa? adik sarifah kenapa?" Damir

__ADS_1


beranggapan bahwa Syarifah sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Ibrahim mengibaskan tangannya "Bukan, bukan mengenai Syarifah istriku. Tapi Maya!" Sahut Ibrahim dengan tidak tenangnya.


"Maya, Maya wanita yang dilabrak Kakak iparmu?" tanya Damir menatap lekat Ibrahim yang terlihat tidak tenang itu.


"Iya Damir, kamu harus bantu aku!" pinta Ibrahim penuh harap.


"Ok!" Sahut Damir.


Damir adalah seorang pengacara. Makanya Ibrahim berkunjung ke rumah Damir, dalam pelariannya. Karena, ia ingin dibantu oleh Damir untuk cari solusi atas masalah rumah tangganya. Eehh.. Gak tahunya, masalah semakin bertambah.


***


Pukul 4 sore, Ibrahim dan Damir tiba di kantor polisi. Perjalanan dari rumahnya Damir ke kantor polisi, tempat Maya ditahan memakan waktu jam.


"Hafidz, Ledy. Kalian tunggu di mobil sebentar ya? ayah mau masuk ke dalam!" ujarnya tegas pada kedua anaknya. Rencananya Ibrahim, ia akan mengantarkan anak-anaknya ke rumah, setelah memastikan masalah Maya beres di kantor polisi.


"Ayah, ini kan kantor polisi?" tanya Ledy dengan muka pucatnya.


"Iya nak!"


Hufftt..


Ibrahim menarik napas dalam. Anaknya tidak bisa diajak kompromi.


"Janji dulu, di sana nanti jangan ribut, jangan minta ini dan itu!" ancam Ibrahim tegas pada kedua anaknya.


Ledy mengajungkan jari kelingkingnya. "Iya ayah, janji agak akan rewel di sana. Kami duduk manis ayah, tapi jangan tinggalkan kami ayah!" celoteh Ledy dengan sedih nya.


"Iya." Sahut Ibrahim.


Mereka turun dari mobil. Ibrahim menggandeng sang putri, sedangkan Hafidz mengekori mereka.


Sesampainya di ruang tempat Maya diinterogasi. Ibrahim menghampiri Doni. Sedangkan Damir, langsung menemui pihak kepolisian, untuk menjamin Maya bebas.


Ibrahim diberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi, karena ia juga saksi di kejadian itu. Ia kini duduk di depan pihak polisi yang jumlahnya ada dua. Sedangkan Maya, sudah diberi ruang untuk duduk jauh dari meja penyelidikan.


Wanita itu jelas sedih dan tertekan saat ini. Tapi, ia coba untuk tenang dan sabar. Karena ada Doni yang selalu menemaninya. Saat sedang ingin keluar cari makan siang bareng Doni. Maya dicegat pihak kepolisian di halaman kost an nya.

__ADS_1


Maya yang ketakutan itu, hanya bisa berdoa dalam hati, agar masalah ini cepat selesai. Ia bebas dari tuduhan pelakor.


"Pak, Adik Maya adalah korban. Tuduhan kejahatan itu tidaklah benar. Yang benar adalah, pelapor yang duluan menyerang adik Maya. Maya, masih bersabar, tidak mau membalas serangan. Tapi, kesabaran ada batasnya juga, jika harga diri kita sudah diinjak injak. Jadi, saat kejadian. Adik Maya, hanya membela dirinya." Ujar Ibrahim dengan tegas penuh keyakinan.


"Bapak ada bukti kuat, kalau adik Maya ini tidak bersalah?" tanya Pak polisi.


"Bukti kuatnya, ada video kejadian itu Pak. Saat kejadian itu, adik Maya hanya ingin membela dirinya. Siapa juga yang mau dianiaya pak?" Jelas Ibrahim serius. Ia rogoh ponsel dari saku celananya. "Ini bapak tonton videonya!" Ibrahim menyedorkan ponselnya yang sedang menayangkan video pengeroyokan yang dilakukan kakak iparnya kepada Maya.


" Oh...Iini tadi sudah kami tonton. Eh tunggu, yang ini video lebih lengkap. Tadi, memang kami tonton videonya, tapi sepertinya videonya Terpotong-potong. Seolah kesalahan hanya ada di adik Maya ini" Ujar Pak polisi, melirik sekilas Maya, yang sudah pasrah.


"Pak, aku yakin bapak aparat yang amanah. Kalau kejadiannya seperti yang di video. Apa itu salah nya Maya?" kini pengacara Damir, ikut bersuara.


Doni terus saja berusaha untuk menenangkan Maya, dengan sesekali mengusap lembut lengan atas wanita itu. Bagaimanapun, kejadian ini sangat membuat Maya tertekan. Ia orang asing di tempat itu. Ia merantau di kota itu, karena ia di tempat tugaskan di situ.


"Emm.. Bukti kalau Ibu Maya tidak salah cukup kuat. Baiklah, ibu Maya kamu bebaskan dari kasus ini!" Ujar Pak polisi tersenyum tipis.


Maya pun akhirnya bisa bernapas lega, setelah mendengar ucapan pak polisi. Tadinya ia sudah ketakutan sekali. Takut tidak bisa membela diri. Karena bukti video serta visum yang ada dilaporan pelapor sangat kuat.


"Iya pak, terima kasih!" ujar Ibrahim sopan.


Doni tersenyum tipis kepada Maya. Ia juga lelah, akhirnya wanita yang ia taksir itu bebas dari jerat hukum.


Doni merangkul Maya, ia tuntun Maya ke arah Pak polisi. "Pak, sekarang Adik Maya yang akan buat laporan." Ujar Doni tegas.


"Haahh.. Doni..!" Maya tersentak dengan ucapan Doni. Ia tidak mau memperpanjang masalah. "Gak, gak pak. Aku gak mau buat laporan!" Jawabnya tegas. Ia lirik Ibrahim yang Kini menatapnya serius.


Maya juga punya perasaan. Tidak mungkin dia laporkan kakak iparnya Ibrahim.


"Ya, itu hak kamu! kamu laporkan saja May." Ujar Ibrahim serius.


"Iya, laporkan saja. Biar ada efek jera!" timpal pengacara Damir.


Maya dibuat skeptistis. Ia lirik lagi Doni yang semangat menatapnya.


"Baiklah pak, aku mau buat laporan!" ujar Maya dengan serius


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2