
Pagi ini, matahari bersinar cerah. Angin berkesiur menarikan dedaunan sebagaimana mestinya. Suasana pagi tetap dingin seperti seharusnya. Seperti biasa, irama pagi dan detak jantung kehidupan bermula, seperti itulah adanya.
Minggu pagi, biasanya Maya sudah mulai bersih-bersih di kost an nya. Tapi, kali ini ia tidak melakukan itu. Sejak selesai sholat shubuh. Ia belum beranjak dari atas ranjangnya, hingga kini sudah pukul delapan pagi. Rasanya semangat hidupnya tidak ada lagi. Kejadian tadi malam, sangat membuatnya tertekan. Ia jadi bahan tontonan orang-orang. Apalagi, video dirinya yang berkelahi dengan kakaknya Sarifah, sudah ia tonton, karena sudah viral di media sosial.
Tidak biasanya wanita itu bermalas malasan seperti ini. Ia selalu aktif bergerak, walau dihari libur. Bahkan disaat suasana hatinya buruk sekalipun. Tapi, kejadian tadi malam cukup membuat hatinya terluka dan terguncang hebat, hingga ia tidak tertarik untuk melakukan apapun.
Maya yang sedang kacau pikirannya itu, terus saja memikirkan video nya yang tersebar. Ingin rasanya melapor ke pihak kepolisian. Mengusut orang yang membagikan video itu. Dan membersihkan namanya dari cap pelakor.. Tapi, jikalau itu ia lakukan, maka masalahnya akan semakin melebar. Dan itu akan menyita waktu dan menguras pikiran.
Dert
Dert
Dert
Ponsel yang ada di atas meja belajarnya, terus saja berdering. Berat rasanya untuk bangkit dan mengangkat telepon itu. Tapi, panggilan itu terus saja berbunyi. Memanggil-manggil untuk diangkat.
Huufftt..
Maya akhirnya bangkit dari tempat tidurnya dengan tidak semangatnya. Ia rapikan rambutnya yang terburai panjang itu dengan menyisirkan jemarinya. Kemudian rambut panjangnya ia isanggul.
Dengan malasnya ia menyeret kakinya yang terasa lemas menuju meja belajarnya, tempat ponselnya berada. Saat sampai di sisi meja belajarnya. Ia perhatikan lekat nomor kontak yang memanggilnya. Ternyata yang menelponnya adalah Doni.
"Ya Doni, ada apa?" tanya Maya dengan tidak semangatnya. Sesekali ia usap-usap wajah serta matanya yang terasa ketat karena semalaman ini menangis.
"Apa baik-baik saja kan?" disebrang sana suaranya Doni, terdengar sangat khawatir sekali.
"Emmm.. !"
" Koq Emmmm... Kamu baik-baik sajakan May?" Doni kembali memastikan semuanya.
"Iya Don." Sahut Maya lemah, ia tidak tertarik untuk bicara dengan Doni. Ia sedang tidak ingin diganggu. Maya memang tipe orang, yang suka menyenderi, memendam masalah sendiri. Dia tidak mau curhat pada orang lain.
"Aku ke kost an mu ya?" pinta Doni penuh harap.
"Untuk apa?" tanya Maya masih dengan tidak semangatnya.
"Pokoknya aku ke sana. Kamu bukain pintu. 30 menit lagi, aku sampai."
Tut...
Panggilan telpon pun terputus, sebelum Maya menjawab ucapan Doni.
__ADS_1
"Iihh... Mau apa sih dia? mau mengorek ngorek kejadian semalam?" gerutu Maya kesal sendiri, di dalam kamar. Sungguh, ia hanya ingin menyendiri.
****
Di tempat lain dan diwaktu yang sama.
Ibrahim sedang bicara serius dengan Damir. Damir adalah sepupunya Ibrahim.
"Kenapa kamu tidak talak Istrimu, kalau kejadiannya seperti yang kamu ceritakan!" Damir menatap heran Ibrahim. Ia tidak menyangka ada pria seperti Ibrahim. Tetap bertahan dengan sang istri, yang sudah tidak bisa menjalankan kewajibannya. Mana keluarga besarnya sang istri, Ikut campur dalam masalah keluarganya.
"Gak segampang itu Dam, aku sudah punya anak. Kamu tahu sendirikan, psikis anak-anak bisa rusak, jikalau ayah dan ibunya bercerai." Sahut Ibrahim dengan lemah.
"Dari ceritamu tadi, Sarifah tidak berperan jadi ibu untuk anak-anak mu. Kamu yang menyiapkan semua kebutuhan anak-anak mu. Hanya dengan mu anak-anak mu belajar dan bercengkrama, Sedangkan Sarifah tidak mau tahu itu." Ujar Doni dengan bingungnya.
"Iya, itu sekarang. Dulu Sarifah gak seperti itu." Jawab Ibrahim cepat.
Huuffftt..
Ia tarik napas panjang dan dalam. Kemudian membuangnya kasar. Ibrahim pun bangkit dari duduknya. Pandangannya ia buang jauh ke pemandangan indah persawahan di hadapannya.
"Aku masih berharap, Sarifah bisa sembuh. Bagaimanapun dialah ibu dari anak-anak ku." Ujarnya lemah, ia memegangi pembatas taman yang terbuat dari besi itu.
"Semoga saja Ya Bro. Aku turut prihatin dengan masalahmu!" kini Damir sudah berdiri di sebelahnya Ibrahim. Mereka sama-sama menikmati indahnya pemandangan persawahan yang saat ini padinya sedang menguning.
Dengan perasaan yang berat. Ibrahim menempelkan ponsel itu ke daun telinganya.
"Ya Dek, ada apa?" tanya Ibrahim lembut. Ia pun melirik Damir, yang kini sudah beranjak dari tempat itu.
"Abang mau membunuh aku kan?"
Pertanyaan Sarifah sukses menyulut amarahnya Ibrahim. Sejak tadi malam, ia sudah berusaha menenangkan dirinya. Dan pagi ini, disaat ia sudah merasa sedikit baikan dan lebih tenang. Lagi-lagi pertanyaan Saripah sukses membuat hatinya panas. Siapa juga yang ingin jadi duda.
"Kamu bicara apa sih dek? sudahlah, jangan bahas yang gak penting." Sahut Ibrahim dengan kesal.
"Kalau Gak mau membunuh aku, apa namanya? Abang pergi dari rumah dan membawa anak anak kita. Abang tega meninggalkan aku, dan pergi kepada Maya." Sarifah bicara dengan sesenggukan.
Ibrahim semakin kesal mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya Syarifah. "Sudah ya dek. Kalau kamu tetap membicarakan itu, aku tidak akan mau bicara denganmu!"
"Bunuh... Bunuh saja aku. Aku juga sudah tidak mau hidup di dunia ini..!"
Tutt..
__ADS_1
Ibrahim mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, dia tidak sanggup mendengar ocehan istrinya itu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat pedas, dan buat hati panas dibuatny. Semua ucapannya penuh dengan tuduhan yang membuat darah mendidih sampai ke ubun-ubun mendengarnya.
Hufftt...
Lagi dan lagi, pria itu menarik napas panjang dan dalam. Ia harus bisa menrnangkan dirinya, agar tidak ikutan gila seperti Sarifah
Ngung..
Ngung..
Ibrahim melirik siapa yang menelponnya lagi, dan ternyata yang menelponnya adalah Syarifah. Ibrahim yang belum tenang itu, merasa berat hati untuk mengangkat teleponnya Sarifah. Jadilah ia menatap malas layar ponselnya yang menampilkan nama istriku di layar ponselnya itu
"Ya Tuhan... Beri aku jalan keluar dari masalah ini. Sadarkan istriku ya Tuhan!" ujarnya kesal, mukanya berlipat sudah saat menatap layar ponselnya.
Sarifah terus saja melakukan panggilan suara. Tak hanya itu, karena tidak kunjung diangkat Ibrahim, istrinya itu terus saja menelpon. Kelakuan Saripa membuat Ibrahim takut untuk mengangkat telepon itu. Ia yakin jika ia mengangkat telepon itu, maka Syarifah akan kembali bicara dengan nada keras dan penuh umpatan yang akan membuatnya semakin membenci sang istri.
Tin ning
Satu pesan masuk, tanpa Ibrahim buka, ia bisa baca isi pesan itu.
Angkat teleponnya, angkat
Ibrahim ketakutan melihat ponselnya. Ia bahkan ingin membuang ponsel itu.
Angkat.. Kalau abang tidak angkat teleponnya, aku akan mati. Dan aku mati, karena kamu!
Kali ini Ibrahim membuka pesan W A sang istri. Ia takut juga dengan ancaman istrinya itu. Dan Sarifah kembali menelpon, karena ia melihat Ibrahim sudah membaca chatnya. Dan kali ini, Ibrahim mengangkatnya.
Panggilan video pun tersambung.
"Abang... Pulanglah, jangan siksa aku seperti ini. Kalau kamu tidak pulang hari ini. Aku akan bunuh diri. Aku pun merasa sudah tidak sanggup hidup lagi. Abang tidak mendukungku, Abang tidak peduli padaku!" Sarifah menangis penuh dengan ratapan. Keadaannya sangat kacau. Rambut sudah aut autan.
"I, iya. Sudah, kamu jangan menangis lagi Ya dek!" Ujar Ibrahim lembut, ia tersenyum tipis pada sang istri, agar istrinya itu senang bertelepon dengan nya.
"I, iya bang. Kalau abang mau menikah lagi, aku ridho. Asal, Abang tetap bersamaku!"
Hadeuh ..
Sarifah kembali bicara ngaur
"Sudah, kamu jangan menangis lagi. Abang dan anak-anak, akan pulang."
__ADS_1
****