
Pukul 8 malam, Ibrahim dan anak-anaknya, akhirnya tiba di rumah. Ibrahim sedikit lelah, karena kakak-kakak iparnya tidak ada di rumah nya.
"Ledy, Hafidz anakku..!" Sarifah berjalan dengan sempoyan, menyambut anak dan suaminya yang kini turun dari mobil. Ia seneng sekali, walau ia masih belum ada tenaga berjalan, ia paksakan untuk melangkahkan kakinya menyambut anak dan suaminya.
Sarifah baru menyadari, pentingnya Ibrahim di hidupnya. Tanpa Ibrahim dia bisa apa. Lagi pula, ia sebagai istri tidaklah sempurna lagi. Ia tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri. Yaitu melayani Ibrahim di ranjang, atau menyiapkan makannya.
Ledy berlari menghampiri mamanya itu. Begitu juga dengan Hafidz. Sarifah pun menunduk dan merangkul kedua anaknya. Kemudian terduduk di lantai teras rumah mereka. Kedua anaknya masih dalam dekapannya.
"Jangan tinggalkan mama lagi ya sayang!" ia kecup kening kedua anaknya secara bergantian dengan mata yang sudah berkabut. Sarifah merasa sedih sekali, jika anak dan suaminya benar-benar meninggalkannya.
"Mama... Jangan menangis!" ujar Ledy dengan sesenggukan. Ia jadi ikutan sedih, melihat ibunya yang menangis dan terlihat memprihatinkan itu.
Ya, Sarifah sangat kurus sekali. Berat badannya hanya 33 kg, dengan tinggi badan 160 cm. Sangat banyak makanan yang tidak bisa ia makan, karena ia juga punya masalah dengan pencernaan nya. Padahal dulu, sebelum diketahui ada cairan di kepalanya. Tubuhnya Sarifah sangat proporsional. Dan Sarifah sangat cantik, sebelum ia sakit-Sakitan seperti saat ini.
"Iya sayang.. Jangan pernah tinggalkan Mama lagi ya sayang!" Ia kembali mengecup pipi kedua anaknya dengan berlinang air mata.
Ibrahim sangat sedih melihat interaksi anak dan Istrinya itu. Bagaimana pun Sarifah adalah istri yang sangat ia cintai. Bahkan semua orang telah mempengaruhinya, terkait Sarifah yang tidak sempurna sekarang, tidak ia ambil hati.
Ibu Darmi, tetangga mereka. Tahu keburukan Sarifah. Yang mau seminggu tidak pernah mandi. Bicara pada Ibrahim selalu kasar di depan orang-orang, disaat penyakitnya mau kambuh. Penampilannya yang jadul, tidak pernah berhias baik di rumah atau pun pergi kerja. Intinya, Sarifah dan Ibrahim, tidak cocok sebagai pasangan. Ibrahim masih terlihat muda dan sangat tampan. Sedangkan Sarifah sudah seperti nenek nenek penampilannya. Bahkan, lebih menarik lagi nenek-nenek dibandingkan dengan Sarifah.
Walau begitu, Ibrahim tetap setia. Tidak pernah sedikitpun ada niat di hatinya ingin selingkuh. Terkait, ia yang digosipkan orang, prihal dekat dengan Maya, adalah karangan orang-orang. Ibrahim dekat dengan Maya, Karena mereka sama-sama guru PJOK.
Sarifah mencoba berdiri, tapi ia malah terhuyung.
"Hati-hati sayang!" ujarnya lembut, dengan Tatapan penuh kasih sayang. Menangkap sang istri yang hendak terjatuh.
"Cie... Cie... Ayah.. Mama..!" ledek Ledy, anak gadisnya itu sok tahu, urusan orang dewasa.
Hua.. Hua..
"Maafkan aku bang..!" Sarifah menangis dalam dekapan sang suami.
Ibrahim memeluk hangat sang istri. Ia bahkan mengecup berulang kali kening dan puncak kepalanya Sarifah.
"Su, sudah.. Jangan menangis lagi!" ujar Ibrahim dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menangis bahagia, akhirnya istrinya sadar akan sikapnya yang salah selama ini. Semoga sikap nya Sarifah baik seperti ini seterusnya. Agar, Ibrahim merasa nyaman dengan wanita itu.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku bang. Maaf, aku terlalu cemburu. Aku yang salah, aku yang tidak tahu diri." Ujarnya dalam dekapan Ibrahim.
"Husshh... Kamu bicara apa sih sayang? sudah, Jangan bahas ini di sini. Ayo kita masuk!" Ibrahim beri kode dengan tangannya, mengajak kedua anaknya masuk ke dalam rumah.
Saat masuk ke dalam rumah. Ternyata kedua orang tuanya Sarifah, masih ada di rumah itu. Hanya saudara-saudaranya Sarifah yang sudah pulang.
Ibrahim masih menuntun Sarifah berjalan dan mendudukkannya di sofa. Sedangkan kedua anaknya ia suruh masuk kamar. Tapi, gak ada yang mau masuk kamar. Hafidz dan Ledy malah ikut duduk di sofa yang sama dengan nenek dan kakeknya.
"Nenek... Kakek...!" Ledy bergelayut manja di pangkuan sang nenek. Neneknya itu menyambut hangat si Ledy dan mencium pipi gembulnya anak itu.
"Bau asem!" ujar sang nenek menggoda Ledy, cucunya.
"Iihh.. Nenek, aku wangi tahu!" Ledy endus ketiaknya.
Semua orang tertawa melihat tingkah nya Ledy.
"Makanya, sana ganti baju nak!" titah Ibrahim menatap lekat Ledy.
"Iya deh." Ledy pun meninggalkan ruang keluarga itu, berjalan ke kamarnya.
sudah ambruk di sofa yang diduduki neneknya.
" Iya ayah!" sahut Hafidz, anak cowoknya itu pun masuk ke dalam kamarnya.
Ayahnya Sarifah menatap sendu Ali yang masih merangkul Sarifah di sebelahnya.
"Nak Ali, maafkan anak-anak Tulang ya?! mereka telah ikut campur dalam masalah keluargamu!" ujar pria tua yang bertubuh kurus itu. Pria tua itu melepas kaca matanya, karena pandangannya terasa kabur, di akibatkan air matanya yang mengucur deras.
Ibrahim tersenyum tipis menatap ayah serta ibu mertuanya itu.
"Iya ayah. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Aku juga banyak salah. Untuk itu aku minta maaf!"
"Kamu, Kamu tidak salah nak! kami yang salah. Sarifah salah, sangat salah. Tidak seharusnya ia ceritakan masalah rumah tangga kalian ke kami ini, kakak, abang dan adiknya." Ujar ayahnya Sarifah sedih. Jemari nya yang keriput terus saja menyeka air matanya.
"Iya Tulang. Kita jangan bahas itu lagi. Marilah, sama-sama berubah menuju kebaikan. Aku, aku akan terus berusaha jadi suami, dan ayah baik untuk keluargaku. Tentu, itu butuh dukungan dari Tulang dan Nantulang. Sekarang, hanya kalianlah orang tuaku." Ujar Ibrahim dengan terisak.
__ADS_1
Ya, Ibrahim adalah anak yatim piatu dan ia tidak punya saudara.
"Iya nak!" sahut Ayahnya Sarifah sedih
"Sarifah, putriku. Kamu pun berusahalah untuk sehat. Lihatlah, kamu masih ada tanggung jawab membesarkan anak-anak mu. Lawan bisikan yang membuat kamu marah. Kamu harus banyak-banyak istighfar. Tidak usah pikirkan yang macam-macam. Fokus pada kesehatanmu. Lihatlah suamimu masih muda nak!" ujar sang ibu dengan berderai air mata.
"Iya bu." Sarifah melepas rengkuhannya Ibrahim. Ia malu pada dirinya sendiri.
Ibrahim kembali meraih tubuh kurusnya Sarifah. Tangannya menjulur, untuk menyeka air mata sang istri dengan lembut. "Sudah Jangan menangis lagi." ujarnya tersenyum tipis pada sang istri.
Suasana di ruang keluarga itu sangatlah mengharukan.
"Kalian istirahat lah, ayah dan ibu pun sudah kantuk!" ayahnya Sarifah mengajak istrinya masuk ke kamar tamu.
Setelah kedua orang tua itu masuk ke dalam kamar. Ibrahim menggendong istrinya Itu menuju kamarnya. Sarifah bahagia sekali, ia senyum senyum dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya Ibrahim.
"Kamu istirahat lah. Abang bersih-bersih dulu. Gerah!" ujarnya lembut, setelah membaringkan Sarifah di atas ranjang.
Sarifah masih mengulum senyum yang manis. "Kamu kalau senyum seperti ini sangat cantik sayang!" puji Ibrahim tulus, ia usap pipi nya Sarifah yang kini memerah, tersipu malu. "Jangan marah-marah lagi ya? kalau kamu mau emosi, jstigfar!"
Cup
Ibrahim kecup keningnya Sarifah. Walau Rasanya minyak kayu putih, ia nikmati saja. Karena, istrinya itu harus mengusapkan minyak kayu putih di kening dan pelipisnya di saat ia merasa kepalanya sangat sakit.
Sarifah mengangguk manja, malam ini ia merasa bahagia sekali. Moment indah diawal awal pernikahan mereka melintas dibenaknya. Sungguh, ia jadi merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Ibrahim.
Sarifah yang bahagia, menatap centil ke arah kamar man-di yang ada di dalam kamar itu, sambil membayangkan keromantisan yang dulu
mereka lakukan setiap hari.
Membayangkan itu membuat Syarifah jadi bergairah malam ini. Sudah hampir 6 bulan ia tidak melayani sang suami di atas ranjang. Dan kali ini, ia akan melakukan itu walau kondisi fisiknya masih lemah.
***
Bersambung
__ADS_1