Bukan Suami Takut Istri

Bukan Suami Takut Istri
Info


__ADS_3

Dua hari kemudian


Suasana di kantor guru sedikit heboh, setelah selesai upacara bendera. Waktu masih ada tersisa 10 menit, untuk masuk kelas. Dan waktu itu disempatkan para guru-guru, untuk berdiskusi, prihal kunjungan sosial, atas masuk rumah sakitnya Bu Sarifah. Istrinya Ibrahim.


"May, kamu ikut kan ke rumah sakit?" tanya Doni, yang duduk di sebelah Maya. Ya, Doni sedang PDKT kepada Maya. Jadi, dimana pun Maya berada, pasti ada Doni. Padahal mejanya Doni ada di sudut, tempat meja para guru seni budaya.


"Gak Don." Sahut Maya malas.


"Loh, koq gak mau ikut. Kan kamu free les hari ini." Ujar Doni dengan bingungnya. Pasalnya tadi, hasil kesepakatan guru-guru, siapa yang free les, harus ikut menjenguk Bu Sarifah ke rumah sakit.


"Banyak tugas, aku sedang melatih anak-anak. Karena, seminggu lagi mereka akan ikut turnamen bola Volly." Jawab Maya datar. Ia kembali sibuk memeriksa LKS siswa yang ada di hadapannya.


"Eemmm.. Padahal, aku sudah semangat mau ikut juga. Kirain kamu mau ikut May." Ujar Doni bete.

__ADS_1


Maya melirik sekilas Doni yang manyun itu. "Itu tuh, masih banyak yang mau ikut." Maya menunjuk para guru-guru yang semangat untuk jenguk bu sarifah.


"Males lah!" Sahut Doni datar. "Mending, aku kerjakan tugas juga." Ia hidup lap top yang baru saja ia keluarkan dari tas nya.


Maya tidak menanggapi lagi ocehan Doni. Ia fokuskan memeriksa tugas anak didiknya.


Sementara di meja lainnya. Guru-guru yang free les, mulai membahas Sarifah dan Ibrahim.


"Si Sarifah itu beruntung banget punya suami seperti Ibrahim. Sudah baik, tampan dan setia lagi. Biasanya pria kalau hasratnya tidak terpenuhi, pasti selingkuh. Atau nikah lagi." Ujar Bu Dahlia dengan semangatnya. Guru lainnya juga semangat mendengarkan.


"Kalau dia selingkuh, itu namanya tidak tahu diri. Selama ini kan, Sarifah yang jadi tulang punggung, saat Ibrahim masih menjadi guru honorer. Jangan mentang-mentang sudah PNS, dan istri lagi sakit, dianya malah selingkuh." Timpal Bu Darmi.


"Iya sih, sebenarnya aku itu kasihan loh lihat Sarifah. Untuk bertahan hidup dia harus minum obat anti kejang-kejang, obat penenang gitu. Makanan banyak pantangnya. Gak boleh makan sayur kol, kangkung, bayam, daun ubi. Hadeuhh.. Pantesan kurus kering, makan aja susah." Sahut Bu Ros sedih. Ia seperti ikut merasakan penderitaan Sarifah. Karena Sarifah sering cerita tentang keadaan dirinya kepada Bu Rose.

__ADS_1


"Kalau gak sanggup kerja. Jangan kerja lagi, mengundurkan diri saja jadi ASN." Sahut Bu Dahlia.


"Ya rugi lah. Lagian kan, Sarifah itu pintar. Hanya saja, sejak ia mengalami kecelakaan itu. Dianya jadi seperti itu." Ujar Bu Darmi lagi sedih.


Teeett....


Bel istirahat pun berbunyi. Acara ngerumpi pun bubar. Dan kantor itu semakin ramai saja. Karena guru-guru yang ada di kelas tadi, kembali lagi istirahat ke kantor. Dan saat ini para guru-guru yang tidak ada jam mengajarnya, diperbolehkan ikut menjenguk Bu Sarifah di rumah sakit.


Maya yang sejak dari tadi menguping pembicara para guru, jadi ikut sedih. Ia baru tahu, soal Bu sarifah. Yang akibat kecelakaan, jadi emosional. Tidak bisa mengontrol diri, disaat sedang panik, lelah dan tertekan.


"May, ayo...!" Ajak Bu Darmi.


"Aku masih ada kerjaan bu. Orang ibu saja yang mewakili sudah cukup itu. Aku kirim doa saja." Sahut Maya sopan kepada Bu Darmi.

__ADS_1


"Oohh.. Iya deh." Bu Darmi menyusul para rekan kerjanya. Kali ini mereka berangkat rombongan menggunakan Bus sekolah. Dasar ibu -ibu kurang piknik. Ke rumah sakit harus ramai-ramai. Belum tentu semuanya diperbolehkan masuk ke ruangan tempat Sarifah dirawat.


****


__ADS_2