Bukan Suami Takut Istri

Bukan Suami Takut Istri
Sekali serang


__ADS_3

"Kak Ipar....!" teriak Ibrahim kesal. Ia ambil dengan paksa hijab Maya yang di tangan wanita frontal itu. Kemudian menutupi kepalanya Maya dengan hijabnya. Maya pun langsung memakai hijabnya, tanpa dipenitikan.


Maya sangat merasa malu sekali. Orang-orang yang berkerumun sudah melihat auratnya. Ia bukanlah seorang ustadzah yang mendalami ilmu agama. Tapi, ia seorang muslimah, yang kesehariannya berhijab.


Maya sangat kesal atas sikap wanita yang melabraknya. Kalau bukan di tempat ramai seperti ini, mungkin ia sudah menghabisi wanita yang menamparnya.


"Maaf ya May." Ujar Ibrahim dengan penuh rasa bersalah. Maya tidak menyahuti permintaan maaf Ibrahim. Ia akan pergi dengan motornya.


Walau begitu Ibrahim tetap melindungi Maya, dengan menghalau sang kakak ipar yang kesetanan dengan merentangkan kedua tangannya, agar wanita yang salah paham itu tidak berhasil menjamah Maya. Maya harus pergi cepat dari tempat itu. Karena mereka sudah dikerumuni orang banyak. Jadi, Maya susah untuk pergi dan menerobos orang orang yang kepo, dengan apa yang terjadi.


Graapp..


Maya merasakan bajunya ditarik seseorang dari belakang. Ia pun terpaksa menghentikan motornya. Karena kemeja yang ia kenakan ditarik dengan sangat kuat. Hingga membentuk bodinya.


"Hei... Mau ke mana kamu..!" Ujar seorang wanita lain.


Maya menoleh kebelakang. Ia tatap tajam wanita yang menahan bajunya.


"Kak, kalian jangan main hakim sendiri. Ia bukan pelakor!" Ujar Ibrahim, ternyata kini Ibrahim sudah ditahan sang abang ipar, agar tidak menolong Maya.


"Ini wanita pelakor!" teriak wanita yang masih menahan bajunya Maya.


Maya pun akhirnya turun dari motornya. Sedangkan wanita itu masih menahan kuat bajunya Maya.


Ibrahim masih menahan kuat tangan sang kakak ipar, agar tidak menyerang Maya. Sedangkan Ibrahim tubuhnya ditahan kuat abang iparnya, agar tidak bisa menolong Maya. Sepertinya Maya ingin diberi pelajaran atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan


Habis sudah kesabaran Maya. Darahnya rasanya mendidih sudah hingga ke ubun ubun. Dari tadi, ia sudah mencoba sabar, agar tidak terpancing dan tidak membuat keributan. Tapi, sepertinya diamnya, membuat keluarganya Ibrahim ngelunjak.


Maya angkat dagunya. Ia perhatikan sekitarnya yang kini sudah ramai penonton. Keadaan tidak aman lagi. Suasana semakin panas, apalagi orang-orang mulai terpengaruh dengan ucapan kakak iparnya Ibrahim, yang mengatakan ia seorang pelakor.


"Hei.. Pelakor.... Kamu harus ikut kami..!" Teriak kakak iparnya Ibrahim satunya lagi. Tangannya masih memegang kuat bajunya Maya dari belakang.

__ADS_1


"Aku bukan pelakor..!" Maya mencoba melepaskan tangan kakak iparnya Ibrahim dari bajunya. Tapi, wanita itu tetap bersikukuh.


"Dia pelakor... Itu suami adikku!" Menunjuk Ibrahim, yang tubuhnya ditahan abang iparnya Ibrahim.


"Lepas... Aku bukan pelakor. !" Maya kembali mencoba lepas dari kakak iparnya Ibrahim. Tapi, tetap saja bajunya susah lepas dari tangan wanita itu. Saking kuatnya bajunya Maya ditarik, baju itupun koyak sudah. Yang akhirnya menampilkan punggung mulusnya Maya.


Maya tidak bisa menahan emosinya lagi, kedua tangannya mengepal kuat.


"Dia bukan pelakor. Semuanya tolong tinggalkan tempat ini!" Ujar Ibrahim, yang kini tubuhnya sudah ditahan dua pria yaitu kedua abang iparnya dan satu kakak iparnya.


Para warga yang menonton, saling bisik. Antara percaya dan tidak atas ucapan Ibrahim.


Sementara Maya, tidak mau diam lagi. Ia putar tubuhnya cepat kuat. Dan tangannya mengangkat tubuh kakak iparnya Ibrahim.


"Hiyakk... !"


Braakkkk..


Huuuuuh..


Maya menarik napas panjang dan berat. Ia rapikan bajunya yang berantakan. Mencoba menutupi punggungnya yang terekspos itu. Muka kesal nya Maya, tidak bisa ia tutupi lagi. Sungguh, ia sangat kesal akan kejadian hari ini. Entah mimpi apa dia semalam, sehingga dipermalukan di depan orang banyak.


"Aku bukan pelakor. Dari tadi aku mencoba diam dan sabar, karena aku tidak mau ada keributan di sini. Tapi, kalian semena-mena kepada saya." Ujar Maya tegas. Walau ia tegas, tapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak emosional. Kedua matanya kini berkabut sudah.


Para penonton tetap saling bisik, menatap Maya yang terlihat sedih itu.


Salah satu kakak iparnya Ibrahim, menolong saudarinya yang masih tergeletak di lantai parkiran. Karena wanita yang dihempaskan oleh Maya itu, tidak bisa bangkit lagi. Sepertinya tulang punggungnya ada yang patah.


"Abang.. Tolongi Sofi...!" Kedua pria yang menahan tubuhnya Ibrahim pun, melepaskan Ibrahim dan menolong wanita yang bernama Sofi untuk bangkit. Tapi, Sofi tidak bisa bangkit.


"Bubar... Bubar...!" Teriak Ibrahim, mengibaskan kedua tangannya kepada orang-orang yang berkerumun, sambil menghampiri Maya yang kini sudah naik kembali ke motornya.

__ADS_1


Ibrahim mendekati Maya.


"May, kamu tidak apa-apa?" tanya Ibrahim dengan penuh khawatirnya. Tapi, Maya tidak menanggapi ucapan Ibrahim. Bahkan ia tidak sudih menatap Ibrahim. Ia nyalakan mesin motornya. Membunyikan kuat klakson motornya, agar Orang-orang memberikannya jalan.


Ibrahim sangat merasa bersalah, atas kejadian ini. Gara-gara dia, Maya dipermalukan. Ia tidak menyangka, ini semua akan terjadi, kakak-kakak iparnya beserta Abang iparnya itu akan menyerang Maya. Lagian siapa yang mengatakan kepada ipar iparnya ini, kalau Maya adalah pelakor. Ia dan Maya tidak ada hubungan. Hanya sebatas hubungan kerja.


"Ibrahim... kenapa kamu malah khawatirkan pelakor itu. Tolong kakak ipar mu ini.!" teriak Abang iparnya, saat melihat Ibrahim menaiki mobilnya dan meninggalkan iparnya di tempat itu.


"Cepat angkat sofi, kita harus bawa dia ke rumah sakit."


"Bawa pakai apa? gak mungkin naik motor."


"Itu cepat stop Ibrahim, Istriku harus cepat dibawa ke rumah sakit!"


Iparnya Ibrahim berlari untuk menyetopnya, yang masih melajukan mobilnya pelan, karena masih banyak orang-orang menonton di tempat itu.


"Ibrahim... Stop... Ayo kita bawa Kakak mu Sofi ke rumah sakit!" teriak kakak iparnya Ibrahim. Ya, dua pasang suami istri melabrak Maya.


Tin


Tin


Tin


Ibrahim membunyikan klakson dengan tidak sabarannya. Sehingga ia diberi akses keluar. Dan kakak iparnya tidak berhasil menyetopnya.


Ibrahim menyetir mobilnya dengan tidak tenangnya. Ia akan menyusul Maya. Meminta maaf, atas apa yang terjadi barusan. Sungguh, ia tidak perduli lagi akan keadaan kakak iparnya yang sekarat, karena dibanting oleh Maya. Maya jago ilmu bela diri. Makanya, melumpuhkan wanita sok garang seperti kakak iparnya Ibrahim tidaklah sulit buatnya.


Ibrahim juga merasa bersalah, atas sikapnya yang lemah tadi. Ia harusnya menghajar kedua abang iparnya, yang mencoba menahan tubuh nya, untuk melindungi Maya. Tapi, Ia tidak lakukan itu. Karena tidak mau ada pertumpahan darah di keluarganya. Sempat, ia berkelahi dengan kedua abang iparnya, mungkin masalahnya akan semakin rumit.


***

__ADS_1


Hai Reader Sayang.... please dibaca ceritanya dengan baik-baik ya, jangan di lompat-lompat. Dan tinggalkan like komentar positifnya


__ADS_2