
"Sebuah tuduhan tanpa bukti yang kuat atau bahkan tanpa bukti sama sekali, maka itu sudah termasuk fitnah. Kalian bersaudara telah memfitnahku. Bahkan Kak Sofi dan Mirnah mempermalukan Maya di depan banyak orang." Ujar Ibrahim tegas, ia bahkan mengacungkan tangannya disaat Rimna kembali ingin menyelah ucapannya.
"Untuk kali ini, saya dulu yang bicara. Kalau Tulang dan nantulang, serta Abang Kakak dan adik-adik semua di sini tidak percaya dengan apa yang saya katakan. Maka, itu terserah pada kalian semua. Asal Kalian tahu, saya tidak pernah selingkuh. Saya tidak pernah berbuat jahat pada Sarifah istriku. Tapi, jika kalian terus menuduhku, menyudutkanku atas semua masalah rumah tangga yang ada di keluarga kami. Aku menyerah, aku tidak sanggup lagi jadi bagian dari keluarga ini" Ibrahim menutup kedua matanya saat mengatakan itu. Hatinya sakit sekali saat ini. Rumah tangganya hancur, karena keluarga sang istri selalu ikut campur dengan masalah keluarganya.
"Kan, kan betul yang kita katakan ayah "
"Kak Rimma, tolong anda diam. Saya belum selesai bicara. Kalau anda tidak bisa diam. Ku harap, anda keluar dari rumah ini!" ujar Ibrahim dengan muka masamnya. Menunjuk ke arah pintu keluar.
Ucapan Ibrahim membuat Rimma berang. Ia bangkit dari duduknya, tangannya sudah mendarat di kedua pinggangnya. "Hei... Ibrahim. Kamu yang harus keluar dari rumah ini. Ini rumah dibangun dengan uangnya Sarifah, adikku. Bukan pakai uangmu, dan apa kamu lupa, sejak menikah kamu itu hanya menompang hidup dengan adikku. Kamu hanya guru honorer, yang tidak punya penghasilan. Dan sekarang, baru juga jadi PNS, kamu sudah selingkuh." Ujar Rimma dengan tegas. Mukanya penuh dengan kebencian menatap Ibrahim.
Ibrahim menatap tajam kakak iparnya itu. Ia sudah tidak tahan lagi direndahkan terus. Sejak dulu, ia selalu disudutkan dalam keluarga besarnya Sarifah. Dulu, saat Sarifah masih sehat. Ia berfikirnya masih waras. Disaat keluarga besarnya menyudutkan suaminya karena, Ibrahim memang tidak memiliki penghasilan yang banyak, ia pasti membelanya. Tapi kini, Sarifah menderita penyakit epilepsi, peninggalan saat ia mengalami kecelakaan mobil saat gadis. Dua tahun pernikahan mereka, Sarifah masih sehat dan normal. Tapi, setelah itu, Sarifah drop, ternyata di otaknya ada cairan. Peninggalan saat ia kecelakaan itu
Untuk mengeluarkan cairan itu, dilakukan operasi besar. Bahkan Sarifah sampai dibotak, saat hendak kepalanya dioperasi. Saat sang istri dalam masa penyembuhan. Ibrahim dengan telaten merawat istri nya itu. Pekerjaan rumah, ia yang handle semua, hingga kini. Disaat kondisi sang istri, dikatakan dokter sudah membaik. Ia tetap mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dan Sarifah, malah memanfaatkan keadaannya, agar tidak pernah melakukan pekerjaan rumah.
Ibrahim tidak mempermasalah kan itu, karena ia tahu, tanggung jawab menyelesaikan pekerjaan rumah adalah tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Kalau ia tidak sanggup melakukan pekerjaan itu, ya sebaiknya gajilah seorang IRT. Tapi, karena keuangan mereka belum stabil. Maka, Ibrahim rela mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, asal istri nya senang dan bahagia. Agar epilepsinya tidak kambuh. Karena memang dokter berpesan, Sarifah tidak boleh terlalu capek.
"Baiklah, saya akan keluar dari rumah ini!" Ibrahim bangkit dari duduk nya. Harga dirinya diinjak injak sudah.
"Ayah... Ayah.. Lihatlah dia benar-benar salah.!" Suara kuatnya Rimna, sukses membangunkan Hafidz yang sudah tidur di kamarnya. Ia pun menghampiri ayahnya. Ibrahim merengkuh anak laki lakinya itu.
"Rimma, Kamu diam dulu!" Kini sang suami memberi peringatan pada Rimna. Rimna menatap malas suaminya, yang sejak tadi diam saja.
Suami tidak berguna, dari tadi diam saja.
__ADS_1
Gumam Risma menatap kesal suaminya.
"Hafidz jangan menangis ya! sekarang, masukkan baju seragam sekolah, buku-bukumu dan barang mu lainnya ke dalam koper!" ujar Ibrahim tegas, tapi ia tatap lembut sang putra.
Hafidz nampak bingung. Anak kecil itu memperhatikan sekitar. "Ayah, emang kita mau ke mana?" tanyanya sedih.
"Ke rumah nenek nak, sana cepat kamu masukin barang-barangmu ke koper!"
"Ibrahim.. Kamu jangan main-main. Lihatlah istrimu sedang sekarat itu. Jangan buat masalah baru dengan keluar dari rumah ini!" Ayah mertuanya bicara dengan sedih.
Ibrahim menatap nelangsa sang ayah mertua.
"Tulang...!" (tulang adalah sebutan ayah mertua di suku batak angkola. Sukunya Ibrahim dan Sarifah). "Ada banyak saudaranya Sarifah di sini, untuk mengurusnya Tulang. Anak-anak Tulang sungguh kompak menghancurkan saudarinya. Pengorbananku selama ini, tidak terlihat. Aku selalu salah dan salah. Dan hari ini, aku tidak sanggup lagi jadi bagian dari keluarga ini!"
Huufftt..
"Bang, aku tidak pernah ingin meninggalkan ibu dari anak-anak ku. Tapi, jika keberadaanku di sini adalah sebuah keburukan untuk keluarga besar kalian, baiklah. Aku akan pergi!" Ujar Ibrahim tegas. Ia masuk ke dalam kamarnya, masih menggendong putri nya Ledy.
"Kalau kamu tidak Ingin pergi, kenapa kamu malah berkemas?" Semua orang mengekori Ibrahim menuju kamarnya.
Saat mereka berada di dalam kamar. Ia sedih melihat keadaan sang istri yang ternyata sudah tertidur pulas. Ia yakin, istrinya itu sudah dicecali dengan minum obat penenang. Ibrahim menatap satu persatu orang yang ada di kamar Itu.
Nantulangnya Ibrahim. Ibu nya Sarifah, dengan setia menemani Saripa dalam kamar. Ia memperhatikan lekat Ibrahim, yang kini mengambil koper di atas lemari. Dan saudara sarifah lainnya, saling pandang, tidak menyangka Ibrahim benar-benar akan keluar dari rumah itu.
__ADS_1
"Nek.!" ucap Lady pelan, menghampiri neneknya yang duduk di tepi ranjang yang sedang terisak.
"Ya sayang," Si nenek membelai lembut pipinya Ledy serta merapikan anak rambutnya Ledy yang kini sudah menutupi sebagian wajahnya. Si nenek masih terisak.
"Mama kumat lagi ya nek?'
"I, iyaya sayang!" Sahut si nenek lembut, dengan suara sedikit bergetar.
"Nak Ibrahim, tolong jangan ambil keputusan disaat emosi. Lihatlah anak-anak mu ini nak!" ujar ibu mertuanya Ibrahim semakin terisak.
Ibrahim yang kini telah membuka koper dan memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper itu, menghentikan aktivitasnya. Ia lirik ibu mertua nya yang memeluk Ledy putrinya.
Ibrahim dibuat dilema serta bingung. Ia sebenarnya tidak ingin pergi. Tapi, harga dirinya sudah diinjak injak saudaranya Sarifah.
"Ada Nantulang, Tulang serta abang dan kakak serta adik yang akan menjaga Sarifah istriku. Aku tidak dibutuhkan lagi di rumah ini." Ujarnya lemah, sambil berkemas. Semua dokumen penting miliknya ia bawa. Termasuk ijazah serta sertifikat pendidiknya.
"Nak, jangan seperti ini, sikap mu ini tidak akan menyelesaikan masalah."
"Masalah ini tidak akan pernah selesai ayah. Akan selalu seperti ini, jikalau Sarifah tidak sadar dan berubah. Serta kalian yang selalu ikut campur dalam masalah keluarga kami." Ujar Ibrahim sedih. Ia tatap sang istri yang masih tertidur di atas ranjang. Wajah sang istri terlihat masih sembab sepertinya istrinya itu sudah menangis begitu lama sekali.
****
Tinggalkan jejak dengan like dan komentar positifnya guys
__ADS_1