Bukan Suami Takut Istri

Bukan Suami Takut Istri
Kumat lagi


__ADS_3

Ibrahim pamit pergi ke sekolah lagi kepada Sarifah. Dan setelah kepergian Ali. Tibalah para saudaranya Sarifah di rumah itu.


"Hua... Hua... Hua... Adikku Sarifah, kakakmu Sofi dan Mega serta Abang mu sekarang sedang diperiksa pihak berwajib di kepolisian..!" Lapor kakak tertuanya Sarifah, Rimma.


Sarifah yang baru saja duduk berselonjor di ambal berwarna merah di ruang TV, sangat terkejut mendengar laporan sang kakak.


"Apa? di kantor polisi?" tanya Sarifah dan ibunya secara bersama-sama.


Si Rimma menangis penuh penghayatan di hadapan kedua orang tuanya dan Sarifah.


"Iya Bu, ini semua kerjaannya Ibrahim. Dia dan selingkuhannya melaporkan Mega, Sofi dan Ammar serta Ridho kepolisian, dan sekarang mereka sedang diinterogasi.


" Kak Sofi juga dibawah ke kantor polisi?" tanya Sarifah dengan tegangnya. Wajahnya mulai panik. Ia tidak boleh mendengar kabar buruk, yang membuat pikirannya kacau.


"Eehh.... Kalau Sofi gak ditangkap. Dia masih di rumah sakit. Yang ditangkap Mega dan suaminya beserta Ridho." Ujar Rimma panik.


"Terus siapa sekarang teman kak Sofi di rumah sakit?" tanya Sarifah dengan pikirannya yang kalut.


"Gak ada dek. Kakak tinggalkan dia sebentar di rumah sakit. Tadi, kak pas jenguk Kakakmu Sofi. Tiba-tiba polisi datang cariin Mega, suami nya dan Ridho." Jelas Rimma dengan paniknya.


Uuuggghhkkk...


Sang ayah mengeluh sakit di dadanya. Berita yang ia dengar sangat mengguncang kejiwaan nya. Masalah tidak pernah selesai di keluarganya.


"Ayah...!" Rimma menghampiri sang ayah yang kini memilih untuk berbaring. Ayahnya mereka tiba-tiba drop.


"I, ibu...!" teriak Sarifah. Ia memegangi kepala yang terasa sakit. "Ge, gelap bu!"

__ADS_1


Bruuggkkk..


Sarifah pun akhirnya ambruk, dan kejang-kejang di hadapan orang tua dan kakaknya Rimma.


"Bang... Ke sini. Tolong....!" teriak Rimma, kakaknya Sarifah ke suaminya, yang sejak tadi memilih duduk di teras rumah.


Saat ini tubuhnya Sarifah sudah kehilangan kendali. Tubuh kurusnya terlihat menyentak dengan menatap kosong ke atas. Melihat adiknya seperti itu tentu ia ketakutan sekali. Begitu juga dengan kedua orang tuanya Sarifah, panik melihat putrinya kejang -kejang.


"Telpon Ibrahim bang!" ujar Rimma panik pada sang suami.


"I, iya..!" Suaminya Rimma menelpon Ibrahim. "Tidak diangkat!"


"Abang cepat jemput Ibrahim ke sekolah!" titah nya dengan tegas pada sang suami. Kemudian wanita itu berusaha membuat Sarifah rileks dengan meletakkan bantal lembut di bawah kepalanya, juga mengendorkan pakaian yang Sarifah kenakan saat ini.


"Dek, kamu tenang ya?" bisik Rimma lembut, walau Sarifah tak merespon, ia tetap mengucapkan Kata-kata semangat. Serta beristigfar.


"Ini gara-gara Ibrahim!" umpat Rimma kesal.


"Nak, jangan bilang seperti itu!" Sang ayah yang juga drop, memperingati putrinya Rimma.


"Bener ayah, coba ibrahim tidak selingkuh!"


"Rimma...!' teriak sang ayah. " Aauuhhkk...!" ayah pun akhirnya pingsan.


"Ayah... Tolong... Tolong....!" teriak ibunya Sarifah.


Keadaan di ruang TV Itu sangat mencekam. Ayah dan putrinya dalam keadaan sekarat.

__ADS_1


Rimma jelas panik. Ia keluar dari rumah. Berlari mencari bantuan ke tetangga. Tapi, karena masih jam kerja. Kompleks itu sepi senyap.


"Tolong...!" teriaknya lagi dengan histeris.


Saat itu juga, ia melihat mobil Ibrahim masuk ke pekarangan rumah.


Rimma yang sedikit takut pada Ibrahim. Berlari cepat, sembunyi ke belakang, sebelum Ibrahim melihatnya. Ia takut disalahkan, atas drop nya sang ayah fan Sarifah.


Ibrahim turun dengan tergesa-gesa dari mobilnya. Ia seret kakinya cepat masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah. Ibrahim cukup terkejut melihat keadaan sang istri. Tadi pagi, istrinya itu sehat walafiat.


"Astagfirullah....!" Ujar Ibrahim, meraih tubuh sang istri. Ia gendong istrinya itu ke dalam mobil. Ia akan bawa ke rumah sakit. Karena memang kebetulan sekali, sekarang sudah waktunya chek up.


"Bang, angkat ayah!" titah Ibrahim pada abang iparnya, suami Rimma.


Saat Ibrahim menidurkan Sarifah di kursi. Ternyata istri nya itu sudah pingsan.


"Di, disini abang tidurkan ayah." Ujar Ibrahim panik pada abang iparnya itu. Ayahnya mereka di baringkan di jok bangku baris kedua.


"Ayo, ikut kami bang!" Titah Ibrahim tegas.


Suaminya Rimma pun masuk ke dalam mobilnya Ibrahim, duduk di kursi sebelah Ibrahim.


Ibrahim tancap gas. Ia tidak boleh telat sampai ke rumah. sakit, karena nyawanya Sarifah terancam.


***


Di sekolah, kembali masalah keluarganya Ibrahim jadi bahan gosipan orang-orang. Apalagi saat Abang iparnya datang mencarinya dengan hebohnya.

__ADS_1


Bahkan kini para guru mengusulkan rapat, untuk menindak lanjuti Sarifah, yang sudah tidak layak lagi jadi guru, akibat dari penyakitnya yang mengganggu proses belajar mengajar


__ADS_2