
Dua hari kemudian.
Kakak, serta abangnya Sarifah, terbukti bersalah dan sudah ditahan di kantor polisi. Sementara Ibrahim masih di rumah sakit menjaga sang istri. Sudah banyak sekali invalan yang akan ia bayarkan, karena ia banyak absen bulan ini.
"Nak Ibrahim, kalau Kamu mau pulang, pulang saja. Ibu bisa jaga Sarifah. Kamu sudah banyak libur kerja bulan ini." Ujar ibu mertuanya lembut.
"Eemmm... Bener Nantulang bisa jaga Sarifah?" tanya Ibrahim dengan tidak yakinnya. Saat ini mereka sedang duduk di atas ambal yang digelar di lantai ruangan Sarifah dirawat. Ibrahim tidak yakin, ibu mertuanya itu. isa menjaga Sarifah. Karena keluarga besarnya Sarifah juga sedang di sandung masalah laporan Maya ke polisi. Jadi, dua kakaknya Maya beserta suaminya sekarang ditahan, tinggal menunggu persidangan.
"Iya, kan ada juga perawat. Habis kerja kamu kan bisa ke sini. Lagian kasihan Hafidz dan Ledy, libur sekolah juga."
"Iya Nantulang, kalau begitu kami pulang dulu. Masih ada waktu." Ujar Ibrahim, melirik jam yang bertengger di dinding kamar itu. Saat ini masih pukul 05.20 Wib.
"Iya nak. Kamu yang sabar ya." Ibunya Sarifah menitikkan air mata di hadapan Ibrahim.
"Iya Nantulang." Ia rangkul ibu mertuanya itu dari samping. "Kita semua harus semangat. Semoga ujian ini cepat berakhir. Istriku Sarifah kembali sehat seperti dulu."
"Aminn.. Ya Allah!" sahut ibu mertuanya dengan lirih.
Wanita tua itu jelas tertekan sekali saat ini. Dua putri dan menantunya ditahan polisi Karena kasus penganiayaan.
"Hafidz, Ledy.. Bangun nak!" ujar Ibrahim pelan membangunkan kedua anaknya. Sarifah sedang tidur nyenyak. Ia tidak mau mengganggu tidur Istrinya itu. Karena Sarifah baru bisa tertidur setelah pukul 3 dini hari.
Kedua anaknya bangun tanpa protes.
"Kita pulang, ayah harus kerja dan kalian harus sekolah!" ujar Ibrahim lembut menatap kedua anaknya.
"Ia ayah!" Sahut kedua nya. Anak nya itu pun mengambil tas nya masing-masing.
"Nak Ibrahim, tidak bisa kah kamu melepaskan kakak dan Abang mu dari kantor polisi?"
Langkahnya Ibrahim terhenti mendengar permintaan ibu mertuanya itu. Ibrahim lirik ibu mertuanya dengan tidak enak hati.
__ADS_1
"Nantulang, aku tidak bisa bantu. Kak Mega dan Sofi serta abang Ridho dan Amrin pantas mendapatkan sanksi atas kejahatan yang mereka lakukan." Jelas Ibrahim tegas.
"Hiks... Hiks... Hiks... Ada apa dengan anak-anak ku semuanya. Kenapa jadi seperti Ini?' ujar wanita tua itu terisak sedih.
Ibrahim kembali merangkul ibu mertuanya itu. " Sabar bu, moga ujian ini cepat berlalu. Semoga kakak dan abang sadar, karena tidak ada gunanya ikut campur urusan orang lain dan main hakim sendiri."
"Iya, harusnya Sarifah gak mengadu pada kakak-kakaknya." Keluh sang ibu mertua dengan penuh penyesalan.
"Bu, kita tidak perlu melihat kebelakang. Yang harus kita lakukan sekarang, sama-sama berubah demi kebaikan kita. Semoga setelah ini, kakak dan abang ipar tidak ikut campur dalam urusan keluarga kami. Harusnya kalian dukung aku, karena Sarifah, sama-sama kita ketahui keadaannya bagaimana."
"Iya nak.. Jangan pernah tinggalkan Sarifah. Jangan khianati dia nak!" Ibu mertuanya itu kembali menangis sedih di pelukan Ibrahim.
Krek..
Pintu terbuka, di ambang pintu telah berdiri ayah mertuanya. Ayah mertuanya Ibrahim, baru pulang dari Musholah. Pria tua itu, sholat shubuh di Mushollah.
"Kalian mau ke mana Nak?" tanya Sang ayah mertua, menatap secara bergantian menantu dan cucu-cucunya
"Oohh.. Iya. Nanti kena teguran pula kalian, karena sering tidak masuk kerja."
"Iya Tulang." Sahut Ibrahim sopan.
***
Di sekolah
Maya dan Ibrahim, tetap jadi pergunjingan guru-guru. Kepala sekolah mulai resah memikirkan masalah itu, apalagi video pengeroyokan Maya yang sempat tersebar di media sosial dan masuk ke media lokal. Sehingga banyak wartawan yang datang ke sekolah menanyakan kebenaran akan hal itu.
"Maya, Ibrahim. Bener kalian gak ada hubungan?" tanya kepala sekolah serius kepada Maya dan Ibrahim yang kini tengah duduk di sofa berbeda berwarna maron di hadapan kepala sekolah.
Maya yang masih tertekan dengan masalah ini memilih diam, rasanya malas untuk menjelaskan semuanya. Toh, gak ada yang akan percaya. Karena sumber masalah ini berasal dari Sarifah.
__ADS_1
"Pak, berita itu tidak benar sama sekali. Aku dan ibu Maya tidak ada hubungan spesial." Jawab Ibrahim tegas, ia lirik Maya yang masih menunduk dengan wajah murungnya.
Bapak kepala sekolah kembali menatap ke arah Maya. "Bu Maya, apa benar yang dikatakan pak Ibrahim?"
Maya mengangkat wajahnya, menatap sedih kepala sekolah yang sudah berusia 58 tahun itu, sebentar lagi akan pensiun.
"Berita itu gak benar pak!" Jawabnya sopan, tegas dan padat.
"Aku belum yakin dengan jawaban kalian, Kalau gak ada api, gak mungkin ada asap. Ipar-iparnya Ibrahim datang melabrak ibu, tentu mereka melakukan itu, karena ada pemicunya." Ujar kepala sekolah penuh selidik.
Huufftt...
Maya menarik napas panjang. "Manusia yang dipegang adalah Kata-kata nya. Aku tekan kan sekali lagi, aku dan pak ibrahim tidak ada hubungan. Lagi pula, untuk apa aku mau dengan pak Ibrahim. Dia sudah punya istri. Pak Kepala, aku ini masih waras. Walau aku sudah berumur, aku masih ingin dapatkan pria yang single dan baik" Jelas Maya dengan muka yang memerah karena kesal.
Pak kepala sekolah terdiam, ia takut juga melihat ekspresi wajahnya Maya yang sedang marah itu.
"Pak, maaf jika masalah ini membuat nama sekolah kita tercoreng. Ini semua memang salahnya Sarifah, istriku." Ujar Ibrahim pasrah.
"Apa alasan istrimu menuduh kalian berselingkuh? pasti kalian pernah di grep Bu Sarifah!" desak Pak kepala sekolah.
"Gak tahu pak. Tahulah Bagaimana sekarang kondisi istriku!" sahut Ibrahim lemah. Ia malu dengan kelakuan sang istri.
"Baiklah, aku pegang Kata-kata kalian. Bu Maya dan Pak Ibrahim, boleh keluar!"
"Terimakasih pak, permisi!" ujar Ibrahim sopan.
"Permisi pak!" Maya pun mengekori Ibrahim.
***
Bersambung
__ADS_1