
Dari benda pipih berukuran 5 inchi itu terdengar lagu Jaga Selalu Hatimu dari band Seventeen, lagu kesukaanku. Sudah lebih dari 3 kali berdering.
Aku yang sedang di kamar mandi segera menyelesaikan kegiatanku dan keluar untuk mengeceknya.
Dia menelpon
"Halo" Sapaku setelah menekan tombol hijau
"Apa kabarmu dek?" Sapa lelaki di tempat yang jauh disana.
"Kabarku baik. Selepas kepergianku, gimana kabar kakak?"
"Mengapa kamu pergi dan tidak meminta pertanggung jawabanku. Sebanyak yang kukenal saat wanita sudah direnggut kesuciannya pasti meminta lelaki itu untuk bertanggung jawab dan menikahinya."
Pertanyaan yang meluncur, bagai membuka lembaran kelam di masa lalu. Bak membuka plester di luka yang belum kering.
Hari itu, 7 tahun yang lalu. Perkenalanku dengannya pun tanpa sengaja. Tidak pernah terlintas lelaki itu menyimpan rasa suka, dan hasrat memiliki yang menggila.
__ADS_1
Setelah pertemuan pertama, lelaki itu datang berkunjung kerumah, selayaknya tamu dan banyak lelaki lain yang diterimanya sebagai teman.
Gadis yang beranjak dewasa, cantik, berkulit putih, berambut panjang sepinggang dan bermata sipit. Ramah dan gampang bergaul dengan siapapun. Membuat banyak orang nyaman berada dekat dan mengenalnya.
Dan laki-laki itu menginginkan hubungan yang lebih dari sekedar berteman.
Petaka buruk menimpanya di malam tahun baru, lelaki itu mengambil paksa masa depan, kehormatan, dan satu-satunya kebanggaannya. Bahkan dia melakukannya berulang kali.
Hancur sudah keinginannya bersanding kelak dengan lelaki yang dicintainya. Hati dan fisiknya sakit.
Setelah kejadian mengerikan itu, aku memutuskan untuk pindah ke kota lain, di seberang pulau. Tempat yang ku yakini, tak ada yang akan mengenali diriku.
Pernyataannya membuyarkan lamunanku, terdengar penuh penyesalan dan kesedihan
"Pertanyaanmu terlambat, kak."
"Kamu hamil dek?" Diulangi lagi pertanyaan yang sama.
__ADS_1
"Kalaupun aku hamil, tidak akan kukejar tanggung jawabmu!."
Nada kalimatku seketika meninggi.
Ini kali ketiga lelaki itu menghubungi ku di telpon, sejak teleponnya yang pertama, sengaja aku tidak menghapus nomornya. Sudah 3 kali juga aku ganti nomor, tapi tetap saja dia mendapatkannya. Entah darimana dan siapa, aku juga tak pernah mencari tahu. Melalui media sosial, aku tahu kehidupannya sekarang dan sudah ku lihat-lihat keluarganya. Setidaknya aku sudah tau lelaki itu sudah memiliki dua anak.
Dan, masih haruskah kau mencariku dan mempertanyakan kenangan dan luka yang sudah kukubur dalam. Bahkan luka ini sudah mulai kering.
Pandanganku melihat pria tampan berusia 6 tahun, tidak bisa dihilangkan saat aku menatap wajahnya, bayangan jelas Ayah biologisnya ada di dirinya. Wajah mereka bagai pinang di belah dua, tapi tetap saja priaku lebih tampan.
Dan pria yang kucintai, yang dengan ikhlas menerimaku, meski saat itu aku sudah tak suci lagi. Bahkan tengah mengandung anak dari lelaki itu. Dia sangat menyayangi priaku, bahkan lebih dari rasa sayangnya padaku.
Priaku, biarlah kusimpan sampai mati rahasia masa lalumu. Cukuplah kau tau aku Ibumu, dan pria yang selalu bersamamu adalah ayahmu. Dan kau, tak perlu juga kau tau, tak perlu kau ingat, tak perlu mencaritahu lagi ceceran dosamu yang telah kau tinggalkan.
Bagaimanapun dia putraku, dan aku Ibunya. Dan kami disini sudah sangat bahagia.
***
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca, tinggalkan vote dan komen ya biar makin semangat bikin cerpennya🙏🙂