
Ting!
Sebuah pesan masuk di aplikasi hijauku
"Rana, lagi ngapain? Ketemu yuk!" Chat dari Kak Vina
"Ayo, Kak. Pas banget lagi bosen di rumah. Kita ketemu dimana?"
"Warung bakso aja"
"Ok deh, warung bakso biasa kan?!"
"Bukan, ini warung bakso baru, bakso dan semua menunya enak. Kamu harus coba semua. Nanti aku share lokasinya"
"Siap, 30 menit lagi aku sampai"
"Perlu aku jemput?"
"Gak usah, ada kendaraan kok"
"Ya udah, hati-hati di jalan ya. Sampai ketemu di warung bakso ya"
"Siap, kakakku yang cantik"
"Tumben banget, biasanya dia kan sibuk dan susah di ajak jalan" batinku
****
30 menit kemudian
Disinilah aku sekarang, di warung bakso yang enak menurut Kak Vina sahabat sekaligus sepupuku. Karena dalam keluarga kami, perempuan hanya aku dan kak Vina, jadinya kami sangat dekat.
"Bakso mercon 2, 1 komplit, yang satu cuma pake soun, minumnya es jeruk 2" kata Kak Vina pada pramusaji yang berdiri di samping meja kami.
"Itu saja, kak?" tanyanya setelah selesai mencatat pesanan kami
"Eh sama bakso goreng seporsi sm kerupuknya. Mau apalagi, Ran?"
"Itu aja dulu" sahutku
__ADS_1
"Baik, di tunggu ya kak" ujarnya sambil berlalu
"Iya, terima kasih"
Tak lama kemudian bakso dan semua pesanan kami telah tersaji di atas meja. Tanpa menunda lagi, kami mulai meracik dan menikmati bakso yang hangat dan super pedas ini. Sambil sesekali mengomentari rasanya.
"Ran, habis ini kita ngopi yuk, di warkoo sebelah aja. Aku traktir deh" Ujar kak Vina setelah semua makanan di meja habis tak bersisa.
"Boleh. Dalam rangka apa?" jawabku sambil memainkan gawaiku
"Cerita-cerita aja, kebetulan habis dapet bonus" sahutnya sambil tersenyum
Ah jelas saja, kak Vina memang sudah lama bekerja sebagai marketing perumahan yang gaji dan bonusnya lumayan.
Setelah membayar, kami berjalan kaki ke warkop yang berada tepat di sebelah warung bakson. Kak Vina memesan Cappucino Frappe untukku dan Vietnam drip untuk dirinya.
"Eh, Ran. Kamu di omongin lho sama tetanggamu" kata kak Vina memulai percakapan dengan hati-hati
"Ngomongin apa?" tanyaku sambil menyeruput minumanku
"Ini dia!" batinku
"Apa? Bilang aja, kalau kakak gak keberatan sih" ujarku sambil tersenyum.
Mungkin kak Vina merasa tak enak hati, jadi aku berusaha membuat suasana sesantai mungkin.
"Katanya kamu gak pernah masak, selalu beli makanan di luar. Cuma di rumah, tapi males banget buat masak" terang kak Vina dengan hati-hati
Tetanggaku memang ada yang satu kantor dengan kak Vina, mungkin dia yang selalu melaporkan setiap kejadian di rumahku. Padahal aku tak begitu akrab dengan tetanggaku itu. Aku juga tidak suka membagi cerita tentang keadaan rumah tanggaku sekalipun kepada keluargaku.
"Oh itu, emang iya!" aku nyengir
"Lho kok?! Bukannya kamu suka masak, kok malah beli di luar?!"
"Iya memang, aku suka masak" Aku menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan
"Gini ceritanya, kak Vina sayang. Kakak kan tau kalau Bang Alvin, suamiku tercinta itu suka main judi dan mabuk-mabukkan. Dan dia perhitungan banget kalau untuk uang belanja dan makan"
"Iya terus"
__ADS_1
"Dan dia susah kalau di tegur, ujung-ujungnya dia marah dan pasti berantem. Aku males! Jadi daripada tiap hari ribut masalah yang sama, masalah uang lagi dan lagi yang bikin tetangga mikir kalau aku ini cewek yang mau duitnya aja. Jadi berapapun uang yang dia kasih, aku terima aja. Tanpa protes! Uang itu buat masak makanan dia kalau dia lagi di rumah sama kebutuhan rumah. Kalau dia lagi pergi atau ngantor, aku beli di luar." terangku panjang dan lebar
"Suami kamu banyak duit dong"
"Gak juga sih, sebenarnya buat makan aja pas-pasan, jarang banget bisa nabung. Padahal menurutku harusnya kita bisa hidup lebih baik semenjak Bang Alvin naik jabatan. Tapi sama aja! Jadi kalau uang makan habis di tengah bulan, biasanya dia kasbon di kantor"
"Terus?" cecar Kak Viba penuh penasaran
"Kakak kan tau kalau aku suka nulis, Nah beberapa karyaku sudah bisa menghasilkan uang, kadang aku ikut lomba nulis dan dapet hadiah. Nah uang itu yang aku pakai buat beli makanan sama keperluan pribadiku. Kalau ada lebih, aku tabung"
Keperluan pribadi seperti krim wajah dan lipstik memang aku beli dengan uangku sendiri, karena jika minta pada Bang Alvin
"Aku terima kamu apa adanya, kamu yang muka polosan aja udah cantik, gak usahlah di poles-poles lagi. " jawab Bang Alvin kala aku meminta untuk di belikan lipstik.
"Suamimu tau?" tanya kak Vina membuyarkan lamunanku
"Entahlah, kayanya dia tau. Dia pernah buka-buka hpku, tapi gak pernah ngomong apa-apa"
"Keren kamu!" kak Vina bertepuk tangan, membuat beberapa pengunjung mengakihkan perhatiannya ke meja kami.
"Kak!"
"Kamu hebat, mungkin kalau perempuan lain ada di posisi kamu pasti dia sudah menyerah dan nangis tiap hari."
"Gak juga, kak. Banyak kok perempuan yang lebih menderita dari aku, dan mereka bisa punya penghasilan yang lebih dari yang aku hasilkan. Aku sering baca di novel"
"Tetap aja kamu keren. Aku aja gak sanggup bayanginnya kalau aku ada di posisi kamu"
"Mudah-mudahan setelah baca cerpen ini Bang Alvin bisa berhenti dari semua penyakit buruknya ya, kak"
"Amin"
"Kak, kaya biasa ya"
"Aman!" kak Vina tersenyum, dia sangat paham maksudku. Masalah ini tidak boleh di ketahui orang tua dan kedua kakak laki-lakiku. Dan kak Vina sangat bisa di percaya untuk menyimpan cerita ini, aku tau itu dengan pasti.
****
Terima kasih sudah membaca, tinggalkan vote dan komen ya biar makin semangat bikin cerpennya🙏🙂
__ADS_1