Bukan Superwomen

Bukan Superwomen
Pecinta Gratisan


__ADS_3

Sebenarnya dia seniorku, dia angkatan satu tahun di atasku. Tapi karena dia harus mengulang di kelasku, jadi sejak itu aku mulai akrab dengannya. Sebut saja Rahma, dia sudah menikah dan punya seorang putra.


Karena kostku dekat dengan kampus, otomatis Rahma sering mampir ke kostku. Sekedar untuk istirahat menunggu jam kuliah selanjutnya ataupun menunggu sang suami menjemputnya.


Di kost, aku sekamar dengan teman kuliahku, Kak Ros. Kita berasal dari daerah yang sama. Hanya saja baru bertemu dan kenal di kampus. Kak Ros usianya 5 tahun di atasku.


***


Awal bulan biasanya kiriman dari orangtua kami tiba. Kebiasaan kami saat terima kiriman adalah makan bakso dan belanja bulanan. Karena ada Rahma di kost, jadi kami mengajaknya serta.


Di minimarket tempat kami biasa belanja bulanan, tanpa kami tawari dan tanpa sungkan Rahma langsung mengambil beberapa barang dan memasukkannya ke keranjang belanjaan kami. Spontan aku dan Kak Ros saling melihat. Melihat reaksi kami, dia hanya tertawa. Otomatis kami yang harus membayarnya. Baiklah


***


Libur smester hampir usai, kak Ros yang baru kembali dari kampungnya, dia membawa banyak oleh-oleh. Dia berniat membaginya dengan Rahma.


Keesokan harinya Rahma singgah di kost, setelah selesai mengurus KRSnya. Kak Ros lalu memberikan oleh-oleh yang sudah di siapkannya untuk Rahma. Dia menyimpan oleh-oleh itu di meja, dia akan memgambilnya saat pulang nanti.


Sambil menunggu suaminya menjemput, kami mengajaknya untuk makan siang bersama. Kemudian tidur siang setelahnya.

__ADS_1


Sore telah tiba, suami Rahma sudah menunggu di depan kost kami. Saat akan pulang, Rahma mengambil oleh-oleh yang dia letakkan di meja tadi. Tiba-tiba dia membuka tempat bumbu, lalu mengambil bawang, tomat, lombok dan penyedap, tanpa mengatakan apapun dia langsung memasukkan barang-barang itu ke dalam tasnya.


Dia hanya tertawa saat tahu kalau aku dan Ros tengah memperhatikannya.


Menyebalkan!!!


***


Rahma suka meminta traktiran, saat dia tahu aku dan Kak Ros baru menerima kiriman. Tak hanya denganku, dengan teman-temannya yang lainpun dia akan tanpa sungkan meminta juga. Tapi, saat kami teman-temannya meminta traktiran padanya, dia akan memelas, menolak permintaan kami.


KZL kan?!


***


Rahma sampai duluan di tempat tujuan, dia pamit sambil tertawa ke arahku. Aku hanya tersenyum melihatnya.


Tiba di tempat tujuanku, aku segera turun dan membayar biaya angkot untuk 1 orang.


"Sorry ya, gak bermaksud mau mengerjai, tapi gak salah kan sesekali bayarin angkotnya orang" chat dari Rahma masuk tepat saat aku sampai di kost.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya


Read, sedang aktif rupanya. Tak perlu menunggu lama, pesan balasan daei Rahma pun masuk.


"Angkot tadi, kamu sudah bayari aku. Sesekali gak apa-apa kan?!"


"Ya ampun, coba ngomong yang jelas tadi. Akupikir kamu sudah bayar, jadi aku bayar cuma satu" semburku.


"Kan kasihan Pak supirnya, sudah tua."


Gemay!!!


***


Meski begitu, Rahma tetaplah wanita hebat. Tetap setia menemani suaminya berjuang, bahkan saat suaminya terlilit hutang. Dia rela meninggalkan kuliahnya, bekerja serabutan demi tetap mengebulnya asap dapur.


Hidup serumah dengan mertua yang tak menyukainya, bahkan pelit terhadapnya. Masa bodoh terhadap sindiran-sindiran yang di lontarkan sang Ibu mertua. Meski begitu, mertuanya tetap mau menjaga putra semata wayang Rahma, saat dia bekerja.


****

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca, tinggalkan vote dan komen ya biar makin semangat bikin cerpennya🙏🙂


__ADS_2