Bukan Superwomen

Bukan Superwomen
Pulang


__ADS_3

"Terima kasih, pak." Ujarku pada supir taksi setelah menurunkan koperku.


Sepeninggal taksi itu, aku mulai menarik koper menyusuri jalan yang sudah 5 tahun tak ku lewati. Aku memang sengaja minta di turunkan di depan lorong. Menikmati pemandangan yang dulu sering ku lalui.


Semuanya sudah banyak berubah. Tanah kosong yang ini yang dulu sering di jadikan tempat bermain layangan, kini telah menjadi taman bermain yang di penuhi aneka permainan anak-anak. Di beberapa tanah kosong, telah berdiri bangunan baik rumah maupun toko. Semakin ramai saja disini.


***


5thn silam


"Mira, maaf. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Sania sedang mengandung anakku, aku harus segera menikahinya. Ku mohon, maafkan dan lupakan aku. Pram"


Pesan singkat itu menghancurkan duniaku saat itu juga. Dia mengkhianatiku lagi, dengan wanita yang sama. Aku merasa bodoh telah memaafkan Pram setelah pengkhianatannya. Cintaku terlalu dalam pada Pram, sehingga membuatku tak bisa berpikir dengan jernih.


Aku hanya bisa menangis merutuki kebodohanku, apalagi sampai mau menerima lamaran Pram. Padahal Mbak Ambar memintaku mempertimbangkan hal itu baik-baik, karena dia tahu persis perjalanan kisah cintaku dengan Pram.


Semua kerabat telah berkumpul, tenda telah di pasang, katering telah di pesan, kebaya pengantin pun sudah di antarkan ke rumah oleh penjahitnya, tukang dekor pun sudah selesai memasang dekorasi dan segala pernak-pernik pernikahan. Semua persiapan pernikahan ini nyaris sempurna.


Meski tidak ada yang mengatakan apapun, raut wajah setiap orang yang ku temui, seakan mengatakan agar aku tegar. Sepertinya mereka sudah tahu.


Tak sanggup dengan tatapan mereka yang seakan mengasihaniku. Aku pergi, meninggalkan tempat penuh kenangan ini. Pergi ke tempat baru, bertemu orang2 asing. Memulai segalanya dari awal. Ibu dan Mbak Ambar dengan berat hati mengizinkan ku pergi.


Jika bukan karena telepon mbak Ambar, yang mengabarkan jika ibu sakit. Aku pasti takkan kembali kesini.

__ADS_1


***


Seseorang menepuk bahuku,


"Masuk, neng"


Aku hanya mengangguk, rupanya cukup lama aku termenung di depan pagar rumah. Rumah ayah, rumah tempat aku di lahirkan, hingga bertumbuh dewasa.


Perempuan itu mengambil alih membawa koperku. Perempuan itu Mak Ni, asisten rumah tangga ibuku. Mak Ni sudah bekerja sejak Ibu baru menikah. Beliau seusia ibu, hanya saja nasibnya tak seberuntung ibu.


***


Bak doping, ibu langsung sehat begitu melihat kedatanganku, bahkan beliau langsung memasakkan makanan kesukaanku. Aku memang tak memberitahu siapapun tentang kepulanganku.


***


Aku sedang menikmati pemandangan langit malam saat Mbak Ambar menghampiriku, dia duduk di sampingku.


"Bertahun-tahun gak pulang, ternyata kamu masih suka menatap langit malam" ujar mbak Ambar


"Iya, mbak. Selama di kota, aku jarang bisa menikmati langit malam"


Kami lalu bercerita mengenang masa kecil kami yang sangat bahagia.

__ADS_1


"Mir, ikhlaskan dan maafkan masa lalu ya. Memang berat, tapi Mbak tahu kamu pasti bisa. Kamu orang baik, Mir. Mbak tahu, kamu wanita yang kuat. Jangan menjadi jahat, hanya karena pengkhianatan orang yang belum tentu baik bagimu. Pram sudah mendapat karmanya, istrinya meninggal karena kanker setahun yg lalu. Anaknya cacat, sampai di usia 5tahun ini dia belum bisa bicara. Pram sendiri di pecat dari kantornya karena penggelapan uang perusahaan" Ujar mbak Ambar dengan hati-hati, sambil menggenggam kedua tanganku.


Aku hanya diam, antara senang dan sesih. Sulit di ungkapkan.


"Aku ikhlas, mbak. Aku sudah memaafkan Pram. Aku sadar, aku salah sudah pergi dan meninggalkan keluarga ini. Dengan kejadian itu, aku jadi tahu kalau Pram bukan jodoh yg baik untukku."


"Mbak senang mendengarnya. Jangan trauma ya, Mir. Mbak yakin, Tuhan pasti akan mengirimkan jodoh terbaik untukmu."


"Iya, mbak. Lagipula baru 26tahun, banyak wanita yang sudah sukses belum menikah. Masa aku yang belum ada apa-apa udah ngebet nikah."


"Bisa aja kamu, Mir"


"Lagipula aku ingin punya tabungan dan kehidupan yang mapan sebelum menikah, agar tidak di pandang rendah lagi"


Aku bisa merasakan Mbak Ambak tengah menatapku.


"Terlebih aku ingin membahagiakan Ibu dan mbak, serta keponakan-keponakanku. Bukanlah kita harus mengutamakan keluarga?!"


Iya, Pram meninggalkanku demi kekayaan yang di miliki Sania, yang merupakan anak tunggal pengusaha sukses. Saat itu aku baru saja lulus kuliah, belum menghasilkan apa-apa.


"Iya, Mir. Mbak selalu mendoakan semua yang terbaik bagimu" ujar mbak Ambar sambil memelukku erat.


***

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca, tinggalkan vote dan komen ya biar makin semangat bikin cerpennya🙏🙂


__ADS_2