
Beberapa bulan lalu, ada dua pegawai baru di kantorku. Pegawai yang pertama, sepertinya normal-normal saja. Sedangkan pegawai yang kedua, kulihat agak lain.
Entah kenapa, dia gencar sekali mendekatiku. Kadang tiba-tiba dia masuk ke dalam ruanganku, hanya sekedar untuk ngajak ngobrol ngalor-ngidul yang sebenarnya nggak penting banget.
Di lain hari, dia ngajak makan siang bareng, tapi langsung kutolak. Waktu itu, dia juga sempat minta nomor ponselku. Malam harinya, langsung saja menghubungiku hanya untuk sekedar menyapa penuh basa-basi klasik.
Aku sempat berpikir, apakah dia salah paham dengan sikapku selama ini? Sejak pertama kali berkenalan dengannya, aku memang selalu menyapa dan tersenyum setiap kali bertemu dengannya.
Bukan apa-apa, tadinya takut dikira sombong, mentang-mentang pegawai lama. Tapi kalau sudah begini, rasanya perlu kukaji ulang. Apa karena keramahanku ini kemudian dia jadi terus mendekatiku?
Sudah beberapa kali dia juga selalu membawakan oleh-oleh untukku. Dia bilang baru saja pulang kampung. Mau kutolak takut tersinggung, akhirnya terpaksa diterima walau sebenarnya nggak enak hati juga. Baru kenal sudah segitu baiknya. Takutnya ada udang di balik bakwan.
Beberapa hari ini, rupanya diam-diam dia juga memperhatikan kalau aku berangkat dan pulang kantor selalu naik ojek online, tidak diantar-jemput suami lagi. Suamiku memang sedang bertugas di luar kota
Dengan sigap dia pun menawarkan tumpangan. Kebetulan rumah kami memang satu arah, bahkan berdekatan, hanya beda komplek saja.
Aku terang-terangan menolak karena tak mau merepotkan dan tak mau berhutang budi pula sama orang. Apalagi posisi rumahku agak jauh dari jalan raya. Harus melewati jalan berbelok-belok dulu sebelum sampai ke rumah.
__ADS_1
Namun, sudah berkali-kali kutolak pun, dia terus memaksa. Akhirnya dengan berat hati, aku menerima tawarannya. Dia pun terlihat senang bisa mengantarku pulang. Sepanjang jalan, terus saja berceloteh riang.
Esok harinya, pas jam pulang, dia sudah menunggu di pintu gerbang dan mengajakku pulang bareng lagi. Kali ini dengan tegas aku menolak karena kebetulan memang sudah pesan ojek online juga.
"Maaf, ya. Saya sudah terlanjur pesan ojek. Lagian nggak enak hati juga, masa tiap hari harus ngerepotin orang terus," kataku beralasan.
"Nggak repot kok, Bu. Rumah kita kan satu arah. Ayolah." Dia berusaha untuk memaksa.
"Iya sih, tapi rumah saya kan posisinya di dalam. Kasian harus putar-putar komplek dulu." Aku tetap menolak.
"Terima kasih banyak sebelumnya, insya Allah besok-besok kita bisa bareng lagi. Saya duluan, ya!" pamitku cepat.
Kebetulan ojek pesananku sudah datang. Sebetulnya kasian juga melihat dia bengong sendirian di pintu gerbang.
Malam harinya, ada pesan masuk di ponselku. Ternyata dari dia.
[Bu Elsa, mohon maaf sebelumnya jika selama ini saya sering SKSD sama Ibu. Masalahnya, saya lihat di kantor ini ibu-ibunya jutek semua. Cuma Ibu yang terlihat ramah dan baik hati, makanya saya berusaha mendekati Ibu terus. Saya orangnya periang dan senang berkawan, tapi di sini sepertinya nggak ada teman yang cocok selain ibu. Di ruangan saya juga bapak-bapak semua. Jadi jangan bosan ya, kalau saya sering menemui Ibu. Tks]
__ADS_1
Aku jadi tersenyum sendiri. Rupanya itu alasan Bu Astri selama ini mendekatiku. Pantaslah nggak nyambung, karena kondisiku justeru baru saja dikecewakan oleh seorang teman dekat di kantor. Jadi bukannya senang didekati orang, malah takut.
Awalnya sahabatku juga baik banget. Mulutnya luar biasa manis. Selama ini bahkan kami dekat sudah lebih dari saudara, makan dan minum pun selalu bersama. Tapi ternyata dia munafik, tega menusukku dari belakang. Aibku diumbar kemana-mana.
Makanya sekarang aku trauma untuk dekat dengan orang, walaupun sama-sama perempuan, aku tetap menjaga jarak, tidak mau terlalu dekat.
'Maafkan aku, Bu Astri.
Bukannya aku nggak mau dekat, tapi aku kapok. Jangankan sama orang yang baru kenal, yang sudah bertahun-tahun berteman pun, masih tertipu juga. Okelah kita tetap berteman, tapi teman biasa saja,' ucapku dalam hati.
Aslinya aku juga periang dan senang berkawan, tapi karena sudah terlalu sering dikhianati, akhirnya aku memilih hidup sendiri, berkawan seperlunya saja.
Kini hidupku bagaikan seekor Singa yang berjalan sendirian di tengah hutan belantara.
*****
Terima kasih sudah membaca, tinggalkan vote dan komen ya biar makin semangat bikin cerpennya🙏🙂
__ADS_1