
Suatu sore di taman kompleks perumahan.
Aku yang jarang keluar rumah, sore ini membawa si kecil Dio untuk jalan-jalan di taman.
Sebelum menikah dan tinggal disini, keluarga memberitahu kalau tetangga disini kebanyakan suka bergosip. Baju robek sedikit saja, sekompleks akan tau itu. Makanya aku hanya keluar rumah saat ada keperluan saja, bercerita dan berkumpul seperlunya saja.
"Biar gak di bilangi takut hitam karena gak pernah keluar rumah" batinku sambil tersenyum jahat, sebelum keluar rumah.
Di taman ternyata ada Bu Martha dan keponakannya, Rika. Kebetulan Santi, putri sulung Bu Marta juga punya bayi seusia dengan Dio, namanya Alin. Bayi kami sama-sama minum susu formula merk L dan baru pertama kali punya anak. Jadi kami sering berbagi pengetahuan. Usia Alin dan Dio saat ini sudah 4bulan.
Melihat kami, Rika langsung meminta mengendong Dio.
"Si Alin tu gendut dan berat sekali, baru gendong sebentar saya sudah capek, tangan udah terasa sakit. Ini Dio padahal udah sejam di gendong, gak berasa apa-apa" Kata Rika
"Wajar gendut, mamanya bilang susu yang 750gr cuma cukup buat 5 hari" sahut Bu Martha
"Emang berat badannya Alin sekarang berapa?" tanyaku
"Sama, Dio juga susu 750gr juga cuma cukup 5 hari" sambungku.
"Beratnya pas 2 bulan saja sudah 5 kg lebih, 5.200 gr. Dio beratnya sekarang berapa?"
"Bulan ini 5,4kg."
"Masa sih?! Kok kecil?! Di gendong lama gak berasa apa-apa"
__ADS_1
"Mungkin pengaruh anak saya lebih panjang, jadi kelihatan kecil. Lagipula wajar kalau kelihatan kecil, Bapak Ibuknya saja perawakannya kecil. Yang penting sehat" Jelasku.
"O iya, bisa jadi" Bu Martha dan Rika tampak saling melihat dengan tatapan sinis.
Bukan rahasia lagi, cucu Bu Martha menderita jantung bawaan. Bahkan di usianya yang baru 2bulan sudah beberapa kali di bawa ke Rumah Sakit.
"Ini Dio mandinya masih pakai air hangat?" Tanya Bu Martha
"Masih, bu" jawabku
"Alin dari umur 3bulan sudah mandi air dingin. Biar kuat" jelas Bu Martha dengan bangga
"Dio belum saya mandiin pakai air dingin. Nanti aja, kalau sudah agak besar. Pelan-pelan saja"
"Ooo..."
***
Pernah suatu hari, aku bertemu Bu Martha di rumah keluarga suami. Saat itu ada acara keluarga, dan rencananya kami akan berangkat bersama-sama.
"Bapaknya Dio mana? Tidak ikut ya?" tanya Bu Martha begitu melihatku
"Bapaknya kerja"
"Alasan saja, inikan tanggal merah. Harusnya kalau ada acara keluarga seperti ini minta ijin kan bisa" cercanya panjang lebar
__ADS_1
Aku hanya diam, dia masih sibuk berkomentar tentang kami.
"Kalau hari ini dia gak kerja, bisa-bisa besok kami gak makan, susuny Dio juga sudah habis" batinku.
***
Suatu hari di pagi yang cerah, saat mengantar barang titipan saudara. Kebetulan juga Bu Martha ada di situ.
"Selamat pagi" sapaku sambil membuka pintu pagar
"Pagi, tante" jawab keponakanku
"Tumben datang pagi-pagi. Gitu dong kalau datang bawa sesuatu, gak tangan kosong" sambutnya
Aku cuma tersenyum, dan langsung masuk ke dalam rumah. Setelah menyerahkan titipan, aku langsung pamit pulang.
"Mau pulang ya? Lama-lama sedikit kek" tutur Bu Martha saat melihatku keluar dari rumah
"Iya, Bu. Bapaknya Dio masih di rumah, dia pasti nungguin sarapannya" ujarku pada orang rumah sambil menunjukkan kantong plastik transparant yang ku tenteng.
Tak ada jawaban.
Entah ada masalah apa, setiap bertemu aku, Bu Martha suka sekali menyinggung perasaanku. Entah sengaja atau tidak, selalu ada komentar buruk tentang kami. Awalnya semua itu masuk telinga kanan, keluar lewat telinga kiri. Lama-lama, aku merasa tersinggung dan sakit hati. Mungkin aku terlalu baperan.
Sejak saat itu aku selalu menghindari Bu Martha. Setiap ada keperluan, aku lebih suka menghubungi anaknya. Kalaupun tidak sengaja berada di satu tempat yang sama, aku memilih mojok yang penting tidak terlihat oleh Bu Martha.
__ADS_1
****
Terima kasih sudah membaca, tinggalkan vote dan komen ya biar makin semangat bikin cerpennya🙏🙂