Bukan Superwomen

Bukan Superwomen
Sepotong Donat


__ADS_3

"Bu, maaf. Boleh saya minta itu?" dia menunjuk donat yang baru selesai di taburi gula halus.


Seorang gadis kecil memakai pakaian lusuh, rambutnya tampak di kuncir asal. Usianya mungkin sekitar delapan tahun.


"Boleh, sini masuk" ajakku


"Tapi, bu..." ujarnya ragu-ragu


"Gak papa. Ayo duduk sini, gak baik makan di luar" ajakku


Dia mulai masuk dan mendekat


"Ini, di habiskan ya. Kalau masih mau, bilang aja!" Ujarku sambil menyodorkan piring berisi empat buah donat dan segelas es jeruk.


Aku memang berjualan donat, karena hanya ini keahlian yang kumiliki, satu-satunya warisan dari almarhum ibuku. Semasa hidup ibuku berjualan donat, ada yang di jajakan sendiri, ada juga yang di titipkan di beberapa warung sekitar rumah. Donat buatan ibu sangat enak dan lembut, tak heran jika banyak yang menyukainya. Dagangan ibu juga habis tak bersisa setiap harinya.


Beliau bukanlah ibu kandungku, bukan wanita yang melahirkanku. Bukan saudaraku, bukan pula kerabatku. Tapi Ibu yang merawat dan menyayangiku sejak kecil, hingga akhir hidupnya.


Gadis kecil ini mengingatkan pada diriku 15 tahun yang lalu.


****


15 tahun sebelumnya


Suatu hari di kala matahari sedang bertahta di puncaknya

__ADS_1


"Dira, kamu tunggu disini ya, jangan kemana-mana, nanti bunda akan datang lagi menjemputmu" pamit perempuan yang menyebut dirinya, bunda.


"Iya, bunda. Jangan lama-lama ya"


"Iya sayang, bunda pergi membeli es krim kesukaan Dira dulu ya." kata bunda


Dira kecil yang sedang asyik dengan mainnya, hanya mengangguk sambil tersenyum.


Tak terasa, matahari sudah mulai kembali ke peraduannya. Lampu-lampu taman juga sudah mulai di nyalakan. Tapi Bunda belum kembali juga. Orang-orang yang sedari tadi lewat, menatapnya heran.


"Nanti bunda jemput aku, bunda sedang pergi membeli es krim" ujar Dira riang sambil menunjuk kedai es krim yang letaknya di seberang taman.


Dira kecil mulai ketakutan, saat taman sudah mulai sepi. Tapi dia ingat pesan bunda. Untuk mengalihkan rasa takutnya, dia memakan roti yang tadi di siapkan bunda.


Malam sudah semakin larut, Dira semakin ketakutan saat seorang perempuan duduk di sampingnya. Perempuan itu membawa 2 kotak yang cukup besar.


"Bunda sedang pergi membeli es krim, nanti bunda jemput aku" jawabnya lesu.


"Toko sudah tutup dari tadi, tapi bunda belum datang menjemput juga" batinnya


Dira kecil mulai menangis, perempuan itu tampak panik.


"Kamu pasti lapar, makan ini dulu" perempuan itu mengeluarkan sebuah donat yang di taburi gula halus dari kotak yang di bawanya.


Dira meraih donat itu dan memakannya dengan lahap.

__ADS_1


"Sudah ya, ikut ke rumah Ibu dulu yuk. Kamu tunggu bunda di rumah ibu saja, disini dingin dan banyak nyamuk" bujuknya


"Nanti Ibu titip pesan ke bapak yang jualan disitu, supaya pas bunda kamu datang, bunda bisa langsung jemput di rumah ibu."


Akhirnya Dira mau mengikuti ibu itu pulang, rumahnya tak begitu jauh dari taman tadi.


Namun nyatanya selama 15 tahun ini, wanita yang menyebut dirinya Bunda, tak pernah sekalipun muncul untuk menjemput Dira. Meski setiap hari Dira mendatangi taman itu.


****


Flash off


Tanpa ku sadari, mataku mulai basah. Aku segera menghapusnya


"Ibu kenapa nangis" tanya gadis itu


"Gak papa, cuma kelilipan. Sudah selesai makannya? Masih mau lagi?"


Gadis kecil itu mengeleng


"Nama kamu siapa? Rumah dimana?" tanyaku sambil membungkus donat pesanan Ibu RT


"Saya Mila, Bu. Saya gak punya rumah, Bu"


"Kok bisa?! orang tua kamu?"

__ADS_1


"Mama papa saya sudah bercerai, bu. Mama sudah menikah sama om David, papa menikah dengan tante maya. Tapi mereka tidak mau, Mila tinggal di rumahnya. Dulu Mila tinggal sama nenek, tapi nenek sudah meninggal" jelasnya dengan wajah sedih.


__ADS_2