
Ada rasa bahagia, saat menyaksikan Sania, putri sulungku berhasil lulus dengan nilai cumlaude. Juga sedih, karena aku tak akan pernah lagi bisa mendampinginya. Air mata bahagia menetes membasahi wajah pucatku.
Aku masih ingat dengan jelas 10tahun yang lalu, saat dokter menvonisku menderita kanker rahim stadium akhir. Padahal tak ada hal aneh yang ku rasakan sebelumnya. Aku merasa duniaku hancur saat itu juga. Seketika aku sadar, bahwa aku tak boleh lama-lama bersedih meratapi keadaan. Meski menyedihkan, aku tak boleh lemah dan terpuruk, aku harus segera bangkit dan tetap semangat.
Aku tahu usiaku tak akan lama lagi, sejak itu aku semakin rajin mencari uang tambahan. Bukan untuk berobat, tapi ku tabung untuk biaya pendidikan Sania dan Sara. Aku hanya meminum ramuan herbal yang banyak di jual di toko obat. Aku tak berharap untuk sembuh, aku hanya ingin punya tabungan yang cukup, agar masa depan anak-anakku cerah, agar mereka bisa memperoleh pendidikan dan kehidupan yang lebih baik dariku.
Semenjak vonis dokter, aku memutuskan untuk menitipkan kedua putriku ke rumah ibuku. Disana ada Maira, adikku yang akan membantu untuk mengurus anak-anak. Maira sangat dekat dengan anak-anakku.
__ADS_1
Mas Adi, suamiku, ayah kandung kedua putriku sudah meninggal, karena kecelakaan. Saat itu Sania masih berusia 3tahun, sedangkan Sara baru berusia 1bulan.
Ibu dan adikku tidak tahu, kalau aku sedang sakit. Kami memang masih tinggal dalam 1 kota, tapi jalanan yang padat dan kesibukanku yang membuat kami jarang bertemu. Aku hanya bilang aku mendapat proyek di luar kota, dan aku tidak bisa percaya pada orang lain untuk menjaga kedua putriku. Aku juga tidak membawa mereka, karena mereka harus bersekolah. Ibu dan Maira percaya pada ucapanku, meski ku lihat ada keraguan tersirat di wajah Ibu. Ahh wajar saja, beliau adalah orang yang sudah melahirkanku. Perasaan seorang Ibu sangatlah kuat.
Beberapa minggu ini aku mulai menjalani perawatan di rumah sakit ini, tanpa di dampingi keluarga. Aku hanya di temani seorang Mia, perawat yang ku sewa khusus untuk mendampingiku selama di rawat di rumah sakit.
Maira sangat menjaga amanahku, dia gunakan uang tabungan yang ku wariskan untuk biaya hidup dan pendidikan anak-anak. Bahkan dia tak pernah berhenti mengingatkan anak-anak untuk tetap mendoakan aku dan Mas Adi.
__ADS_1
Maira pun membuat sebuah toko pakaian atas nama anak-anakku, agar tabungan itu tidak habis sebelum Sania dan Sara selesai sekolahnya. Toko itu di kelola dengan sangat baik, sehingga bisa berkembang dengan pesat, bahkan sudah memiliki beberapa cabang.
Meski sudah menikah dan memiliki seorang putra, Maira tetap tidak melupakan tanggung jawabnya terhadap anak-anakku. Dia tak pernah membedakan anak-anak kami. Ahh, Maira adik kecilku, dia sudah dewasa sekarang. Dia sudah bertumbuh menjadi wanita dewasa yang pandai dan bijaksana.
Sekarang aku memang sudah tenang di alamku, hanya sesekali aku masih menemui mereka. Meski mereka tak pernah menyadari kehadiranku.
****
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca, tinggalkan vote dan komen ya biar makin semangat bikin cerpennya🙏🙂