Bukan Superwomen

Bukan Superwomen
Di Ujung Penantian


__ADS_3

Seolah bersekutu dengan matahari pagi, seorang gadis berdiri di tengah taman memandangi bunga-bunga yang tumbuh di taman itu. Matanya menyapu hamparan taman yang di tumbuhi mungkin lebih dari 100 macam tanaman. Wanita itu berdiri tepat di tengah taman, matanya tak pernah berkedip, seolah ia takut kehilangan hamparan bunga yang indah walau sedetik.


Ia berdiri tegak, seperti memberi hormat kepada sang surya, yang menerpa wajahnya. Angin pagi yang hanya sepoi-sepoi mengibarkan helai rambutnya yang panjang. Wajahnya tirus, kelihatannya pakaiannya agak basah. Embun pagi telah memandikannya


Aku memgawasinya dari jauh. Aku teramat ingin tahu tentang gadis itu. Tapi aku tak berani mendekatinya seorang diri. Aku hanya mengawasinya dari bangku taman ini.


"Apakah orang itu waras?" tanyaku pada seorang wanita yang tengah menyapu daun-daun yang berguguran.


"Yang mana?"


"Wanita yang di tengah taman itu."


"Wanita yang menghadap le timur itu?"


"Benar"


"Oo... Masyarakat disini mengenalnya sebagai Rosa" jawab wanita tua itu.


"Sudah 3 hari ini aku melihatnya mematung disitu, Bu"


"Memang Masnya baru 3 hari disini"


"Maksud Ibu?"


"Gadis itu sudah bertahun-tahun disitu"


"Bertahun-tahun?"


"Sudah 3 tahun"


"Setiap hari?"

__ADS_1


"Iya, setiap pagi setiap harinya" wanita tua itu mendesah "Dia selalu datang pagi hari dan pulang menjelang tengah hari. Esoknya datang lagi. Terus menerus selama 3 tahun ini."


"Apakah dia warga disini, Bu?"


"Entahlah, tak ada yang tau dari mana ia berasal. Tapi dia sangat murah hati, dia suka membagikan uang & makanan kepada pekerja disini"


"Apakah ada orang yang tidak takut padanya?"


"Hehehe, dia juga manusia biasa seperti kita, Nak"


"Tapi mengapa orang disini tidak berusaha mengusir wanita itu?"


"Nak, wanita itu juga manusia biasa seperti kita. Dia juga tidak melakukan hal-hal yang merusak taman ini. Dia juga orang yang baik & pemurah. Jadi tak masalah bagi kami dengan keberadaannya disitu"


"Jadi dia bukan hantu penunggu taman ini, Bu?"


Aku tak bisa menahan keceplas-ceplosanku. Tapi kulihat wanita tua itu tak terpengaruh dengan omonganku. Amat menarik. Gaya bertutur ibu ini mengingatkanku pada almarhum nenekku yang bijaksana. Tak seperti mami yang setiap ucapannya bagaikan titah dan sabda yg bercampur pemali.


"Menurut cerita orang-orang disini, wanita itu merupakan putri dari seorang pengusaha kaya yang tinggal tak jauh dari taman ini. Dia punya seorang kekasih, yang sangat ia cintai. Bak bumi dan langit, kekasihnya hanya orang biasa yang hidupnya jauh dari kata cukup. Tentu saja ayah sang gadis tak menyetujui hubungan mereka"


"Konon pria itu dulu merupakan salah satu tukang sapu di sini. Jadi taman ini merupakan tempat pertemuan mereka. Wanita itu selalu menanti kedatangan kekasihnya disitu"


Wanita tua itu melirik wanita yang berdiri mematung di tengah taman. Spontan akupun ikut meliriknya.


"Matahari sudah mulai naik"


Aku mengerti maksud ibu ini. Tapi aku masih sedikit penasaran dengan gadis itu. Begitu besar cinta pada kekasihnya sampai dia rela berdiri disitu selama bertahun-tahun. Mungkinkah aku bisa berkenalan dengannya?


"Matahari mulai naik, gadis itu akan segera pulang dan kembali kesini besok menjelang matahari terbit.


"Begini, bu. Apakah aku boleh mengenalnya secara dekat? Kalau boleh biarlah besok atau lusa aku langsung menemuinya."

__ADS_1


"Nak, gadis itu tak terlalu menanggapi orang asing. Tapi, tak ada salahnya dirimu mencobanya. Tapi, jangan memaksakan keadaan ya" Wanita itu menjawab sambil meninggalkan aku.


Matahari mulai menduduki singgasananya, kulihat gadis itu mulai meninggalkan taman dan berjalan melewatiku. Aku mencoba tersenyum padanya, tapi pandangannya tetap lurus kedepan, tak menghiraukanku sedikitpun.


"Lain waktu saja ku coba mendekatinya" hiburku pada diriku sendiri.


***


Karena sibuk, setelah hampir 2 minggu aku baru kembali ke taman.


Meski sudah berkeliling, tapi disana tak ku temui sosok wanita itu.


"Apa kekasihnya sudah pulang?" batinku.


"Permisi, bu. Saya mau numpang tanya" tanyaku pada seorang petugas kebersihan yang kebetulan lewat.


"Iya, mas. Mau tanya apa?"


"Perempuan yang biasa berdiri di tengah taman kemana ya?"


Kulihat raut muka Ibu itu berubah sendu


"Dia sudah meninggal, nak"


"Astaga, yang benar, Bu?"


"Iya, nak. Dia meninggal 3hari yang lalu. Kecelakaan sepulang dari taman ini"


Tiba-tiba lidahku terasa kelu, tak lama ibu itu berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya. Aku hanya bisa mengangguk.


Matahari mulai tinggi, aku bergegas meninggalkan taman. Saat mataku menatap tengah taman, aku melihat perempuan itu. Dia tersenyum, meski pucat tapi dia terlihat bahagia. Mungkin dia sudah bertemu dan bersatu dengan kekasih hatinya. Aku hanya mengangguk, sambil berlalu meninggalkan taman.

__ADS_1


****


Terima kasih sudah membaca, tinggalkan vote dan komen ya biar makin semangat bikin cerpennya🙏🙂


__ADS_2