Bukan Superwomen

Bukan Superwomen
Gratis


__ADS_3

Suatu siang, saat aku sedang menyiapkan bubur untuk makan siang Dio, anak lelakiku yang baru berusia 10 bulan. Datanglah Sela, anak tetangga yang usianya masih 4tahun.


"Dio..." sapanya saat memasuki rumah bagian belakang alias dapur.


"Mama Dio, ada es batu? Mama suruh ambil satu" tanyanya begitu duduk di hadapanku.


Aku memang berjualan es batu dan es lilin, hitung-hitung memanfaatkan freezer kulkas yang sering kosong.


"Gak ada" jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari Dio.


Anak itu langsung berlari keluar


"Ma, es tidak ada" teriaknya dari belakang rumahku.


"Tidak ada betulkah? Sudah periksa di freezer?" tanyanya sambil berteriak dari rumahnya. Rumah kami memang bersebelahan, hanya saja rumah mereka berada di atas bukit.


Ku dengar Sela kembali masuk ke dapur dan mencoba membuka pintu freezer. Karena susah di buka, Sela berlari keluar


"Tidak bisa di buka, ma" Teriak Sela


Keluarga ini sepertinya hobi berteriak.


Tidak lama mamanya yang datang ke rumah, saat itu aku sedang menyuapi Dio di depan tv. Pintu belakang memang selalu kami buka kalau di siang hari.


"Mama Dio, ada es batu?" Tanya Bu Min, mamanya Sela. Sepertinya dia ada di belakang.

__ADS_1


"Gak ada" jawabku singkat.


Sepi.


"Mungkin sudah pulang" pikirku.


Tak lama, terdengar bunyi pintu kulkas di buka


"Lho ada ini es batu, Mama Dio"


Aku cuma diam.


"Ada 3 lagi" sambungnya.


Aku masih diam.


"Belum keras kayanya, Bu" jawabku


"Sudah kok, keras semuanya. Bilang aja gak di jual, pake banyak alasan" Cercanya


Jujur saja aku kaget mendengar perkatannya itu.


"Iya, Bu. Gak di jual. Rugi saya, kalau gratisan terus."


Dia kaget, sepertinya dia mulai ingat sesuatu.

__ADS_1


"Alah, cuma 2ribu, gak bikin bangkrut juga"


"Cuma 2ribu, kalau cuma sekali dua kali, ya tidak masalah. Kalau terlalu sering, ya enak di situ. Saya yang rugi" jawabku tanpa melihat ke arahnya sedikitpun. Dia berdiri tepat di abtara dapur dan ruang tv.


"Iya sih cuma 2ribu, receh banget. Tapi dari uang 2ribu itu kalau di kumpulin bisa buat beli sayur, bu. Situ dapet es gratis, gak bantu bayar listrik juga kan?!" omelku.


Terdengar kasar dan menyakitkan memang, tapi sesekali gak apalah. Semoga ke depannya, dia tidak melakukan hal yang sama lagi.


Tanpa berkata apapun, Bu Min langsung berjalan keluar meninggalkan rumahku.


Suami yang daritadi di kamar, langsung keluar begitu Bu Min pulang.


"Kok gak di kasih esnya?" Tanyanya sambil membuka freezer.


"Ini ada es 3, sudah keras semua juga" lanjutnya


"Bu Min itu sudah sering banget nyuruh anak-anak ambil es, tapi gak di bayar. Baik es untuk dia jual, ataupun buat konsumsi sendiri. Mau di tagih juga, gak enak" Jawabku


"Jangan pelit sama tetangga"


"Kalau sesekali, ya gak apa-apa. Ini udah berkali-kali, lagipula kita kalau beli di kiosnya gak boleh utang kan?!"


"Kalau pas di awal tadi, dia yang datang beli. Pasti aku kasih esnya. Tapi tadi kan anaknya yang datang duluan, pasti nanti bilang bayarnya nanti. & berujung jadi gratisan lagi" lanjutku


Suami langsung diam seribu bahasa, dia langsung kembali masuk ke kamar.

__ADS_1


****


Terima kasih sudah membaca, tinggalkan vote dan komen ya biar makin semangat bikin cerpennya🙏🙂


__ADS_2