Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan

Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan
Pisah Kamar


__ADS_3

Wahyu langsung teringat saat hari pernikahan mereka, dia sibuk menghubungi Ilham anak dari ustadz Alif lewat pesan medsos untuk membantunya menemui Maryam dan orang tuanya.


Maryam adalah wanita yang menarik simpatiknya karena kepribadianya yang baik


Dan pada saat itu, ponselnya tidak sengaja ketinggalan di kamar dan baru menyadari saat sudah berada di dalam mobil


“Sekarang aku mengerti, kenapa semua kesalah pahaman ini terjadi.” Runtuknya dalam hati


Di dalam kamar, Ratu duduk di tepi tempat tidur dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


Dia berusaha menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh Wahyu.


Sementara Wahyu sendiri mengusap mukanya dengan kasar. Bingung harus bersikap seperti apa.


Dia kecewa dengan keadaan yang sudah terlanjur terjadi, juga pada dirinya sendiri yang kenapa tidak jujur dari awal


Andai waktu bisa dia putar kembali, dia sudah pasti akan memilih untuk jujur sebelum semua ini terjadi


***


Pukul 10 malam, perut Wahyu terus merasakan lapar. Dia teringat masakan istrinya yang sudah pasti lezat karena dari aromanya saja sudah tercium.


Wahyu keluar kamar dan menuju dapur. Di meja, masakan masih terlihat utuh.


Wahyu kembali berdiri dari duduknya dan berniat memanggil istrinya untuk makan bersama. Dia khawatir sang istri sakit jika tidak makan.


Wahyu berniat minta maaf dan akan jujur pada istrinya. Kesalah pahaman yang terjadi adalah kesalahan yang harus segera dia luruskan


Dengan ragu Wahyu mengetuk pintu kamar Ratu. Namun tak ada jawaban.

__ADS_1


Wahyu terus mengulangi hingga berulang kali. Tetap saja tak ada jawaban dari dalam.


Wahyu sudah pasrah istrinya sudah pasti marah dan menghindarinya. Untuk itu istrinya berdiam diri di kamar tamu tersebut


Tiba-tiba dia ingat sore tadi istrinya keluar dari kamar tamu dengan keadaan fresh seperti baru sehabis mandi.


Diapun bergegas kembali ke kamar dan memeriksa lemari pakaian dimana sang istri menata pakaian dan barang-barangnya. Ternyata kosong


Wahyu kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Dengan langkah cepat dia kembali menuju kamar tamu, mengetuk dan tetap tidak ada sahutan.


“Ratu, tolong buka pintunya. Setidaknya kamu harus makan dulu.” Pintanya dengan terus mengetuk pintu


“Ratu, makan malam dulu yuk..? Kamu boleh marah, aku terima kemarahan kamu asal kamu makan dulu.” rayunya dengan lembut


Ratu tak juga nampak membukakan pintu untuk suaminya.


Dengan terpaksa, Wahyu kembali ke dapur dan makan sendirian. Sesekali dia melirik ke arah ruang depan dimana kamar mereka berada. Berharap Ratu keluar kamar dan ikut makan bersama


Selesai makan, Wahyu membereskan bekas makan dan merapikan kembali. Berharap istrinya nanti keluar kamar untuk makan malam yang terlewatkan itu.


Biar bagaimana pun Wahyu khawatir jika istrinya nanti bisa sakit jika tidak makan malam ini.


Apa yang akan dia katakan kepada mertuanya dan juga pada orang tuanya jika itu terjadi


***


Pukul 07 pagi, Wahyu baru keluar kamar dengan keadaan sudah rapih dengan pakaian kerjanya.


Dengan seulas senyum dia menuju dapur

__ADS_1


Berharap pagi ini istrinya sudah berada disana seperti biasa


Wahyu melebarkan matanya saat melihat kondisi dapur yang sepi. Dan lebih kaget lagi saat melihat makanan di meja masih seperti semalam, tak berubah.


“Kenapa dia gak keluar kamar sejak semalam. Apa dia sakit hati dengan ucapanku kemarin?” gumamnya dalam hati


Sementara di kamar, Ratu belum juga beranjak dari tempat tidurnya. Badannya yang menggigil, memaksa dia terus berada di balik selimut tebalnya.


Ratu memang sudah merasakan kurang fit sejak hari sebelumnya. Namun dia terus memaksakan diri memindahkan barang-barangnya dari kamar pribadi suaminya.


Di tambah lagi semalam dia melewatkan makan malam. Membuat tubuhnya drop pagi ini


Wahyu penasaran sedang apa istrinya di dalam kamar. Apa yang dia lakukan sejak semalam hingga sudah menjelang siang istrinya belum juga keluar kamar


Karena tahu istrinya masih marah, dia tidak berani lagi mengetuk pintu kamar istrinya


Wahyu mengambil ponsel dalam saku celananya dan mengirimi istrinya pesan


“Aku udah pesan sarapan untuk kamu. Jangan lupa di makan. Saya gak mau kamu sampai sakit.”


“Maafkan aku jika ada perkataanku yang menyinggung perasaanmu. Aku berangkat kerja dulu ya.. Assalamualaikum istriku.”


Lama Wahyu menunggu balasan pesannya. Tapi istrinya belum juga membacanya.


Hingga sepanjang jalan Wahyu masih terus bolak balik membuka aplikasi hijau di ponselnya untuk mengecek pesannya sudah di baca atau belum


"Ya Allah, maafkan istriku.. Dia seperti ini bukan karena ketidak taattanya kepada suaminya.. Tapi karena masih ada salah paham yang belum saya luruskan." Wahyu Berharap istrinya tetap dalam keridhoannya sebagai suami


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2