Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan

Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan
Tamu Di Siang Hari


__ADS_3

“Maaf kak, Ratu kesiangan.” Ratu yang memang ketiduran setelah sholat subuh merasa bersalah


“Ya sudah ayo sarapan." Ajak sang kakak


"Ehk tunggu dulu, matanya kenapa sembab? kamu habis nangis dek?” Tanya Mirza menyelidik wajah sang adik


Ratu gelagapan


“Semalaman Ratu kerja depan laptop kak, jadi gini deh matanya.” Elak sang adik dengan cengiran


“Oh gitu. ya sudah ayo, udah di tungguin di meja makan.” Ucap Mirza pura-pura percaya masih dengan mata sesekali melirik adiknya.


Karena dia tahu seperti apa adiknya itu yang hanya akan bercerita jika memerlukan dukungan dan saran jika di rasa sudah buntu.


Selesai sarapan, rumah kembali sepi. Ibu yang ikut pengajian, sang Ayah dan kakak yang sudah berangkat kerja sejak pagi


Keadaan rumah yang sepi membuat Ratu bosan sendirian di rumah yang besar itu.


Hari ini dia sengaja tidak kerja dikarenakan kepalanya yang terasa pusing efek dari tidak tidur semalaman.


“Non, ada tamu cari ibu sama bapak.” Ucap mbok Marni sang asisten rumah tangga dengan setengah berbisik


“Siapa mbok?” Ratu yang sedang membaca buku di halaman belakang rumah merasa heran ada tamu di siang hari


“Gak tau non, katanya cari ibu sama bapak gitu.” Jawab mbok

__ADS_1


"Mbok gak bilang kalau papa siang gini gak di rumah adanya di kantor..?" Tanya Ratu


"Sudah non, tapi katanya ada perlu gitu, biar nungguin aja gitu katanya." Jawab mbok dengan ekspresi serius membuat Ratu merasa penasaran


“Ya sudah, biar Ratu temui tamunya. Suruh masuk aja mbok, jangan lupa bikini minum ya mbok.” Ucap Ratu dengan senyum


“Siap non.” Jawab mbok dengan langsung berlari ke depan, membuat Ratu geli dengan tingkanya


Ratu mengintip siapa tamu yang mencari orang tuanya itu dari balik pintu belakang ruang tamu sebelum masuk.


Merasa tidak mengenal sosok tamu tersebut, Ratu mencoba menghampiri lebih dekat


“Assalamulaikum.” Sapa Ratu dengan senyum hangat


Sejenak kedua pasangan itu saling pandang dan tersenyum hingga kembali menatap Ratu dengan senyum hangat


“Maaf tante, om, papa sama mama gak ada di rumah.” Ucap Ratu dengan sopan


“Tadi tante udah nelpon mama kamu, sebentar lagi mama kamu pulang, kami gak apa-apakan nunggu disini?” ucap bu Riana minta ijin


Ratu diam tak menjawab. Hanya terus memandangi sepasang suami istri itu secara bergantian.


Mengerti dengan kebingungan Ratu, pak Hendra suami dari bu Riana menyenggol lengan sang istri


“Oh, maaf nak Ratu. Nama tante Riana dan ini suami tante Hendra. Kami sahabat mama papa kamu sejak kami masih sekolah dulu hingga sekarang.”

__ADS_1


Jelas bu Riana dengan lembut


"Oh sahabat mama. pantas aja." Gumam Ratu dalam hati


“Iya tante maaf, Ratu gak tau.” Ucapnya tak enak hati


Sementara itu mbok Marni datang menyuguhkan minuman hangat dan cemilan sebagai pelengkap.


Tak lama, bu Rini pun tiba dan langsung menyapa kedua tamunya dengan riuh.


Kedatangan keduanya tentu sudah ada perencanaan sejak dulu. Karena ada hal yang ingin mereka wujudkan bersama di masa depan.


Melihat keakraban mereka, Ratu menjadi ikut tersenyum. hingga tak jarang ikut terlibat dalam obrolan meraka.


“Seperti yang kita rencanakan sebelumnya, Kita gak usah lama-lama deh nunggunya." Ucap bu Rini pada kedua sahabatnya


"Hendra hari ini selepas meeting langsung pulang. Tadi aku udah nelpon dia. Lagian gak enak ada tamu special yang udah datang jauh-jauh kesini.” Ucap bu Rini dengan senyum lebarnya


“Jarak dari tempat kami kesini cuma dua jam lebih sedikit kok. Gak jauh-jauh amat.” Timpal pak Hendra


Sambil terus bercengkrama, pak Hendra matanya sesekali melirik Ratu. Dia tersenyum saat melihat Ratu yang sejak tadi terlihat bingung


Ratu akhirnya memilih pamit ke kamarnya.


Dari ujung tangga dia masih bisa mendengar tawa dan candaan di ruang tamu, bahkan ucapan pak Hendra yang memuji dirinyapun masih terdengar olehnya.

__ADS_1


__ADS_2