
“Baiklah istriku. Tunggu sebentar ya?” jawab Wahyu membuat Ratu tersenyum geli namun coba di tahan olehnya
Sepeninggal Wahyu, Ratu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
Dia tersenyum di balik tangannya, hingga saat dia menurunkan tangan, Wahyu sudah berada tepat di hadapannya
Dengan salah tingkah Ratu mengambil gelas di tangan suaminya dan langsung meneguknya.
Wahyu tersenyum menangkap gelagat lucu pada sang istri
“Suaminya udah boleh mandi belum ni?” Goda Wahyu membuat Ratu semakin di buat salah tingkah
Ratu mengangguk dengan gelas masih menempel di bibirnya.
Matanya melirik ke arah suaminya yang masih diam berdiri di depannya tanpa niat beranjak
Ratu mendorong pelan perut suaminya. Isyaratkan suaminya pergi dari tempat itu dengan segera.
Wahyu tersenyum menangkap tangan Ratu dengan lembut. Bahagia sudah berhasil menggoda istrinya itu
Ratu menarik pelan tangannya dari genggaman sang suami.
Dia menunduk dengan tangannya memainkan gelas membuat Wahyu tak tega menggoda istrinya lagi.
“Yasudah aku mandi dulu ya?” ucap Wahyu sambil melenggang santai keluar dari kamar itu
Ratu menatap punggung suaminya. Ada banyak yang ingin dia ungkapkan sebenarnya namun tertahan di bibirnya.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian santai ala rumahan, Wahyu kembali masuk ke kamar Ratu
Ratu masih berada di posisi duduknya dengan terus memaingkan gelas di tangannya.
__ADS_1
Entah apa yang sedang dia fikirkan hingga gak sadar akan kehadiran Wahyu di depannya
“Loh sayang? Ko melamun aja?” Wahyu mengerutkan dahinya
“Astaghfirullahal adziim.” Ratu terlonjak kaget.
Hampir saja gelas terlepas dari genggamannya
“Iiihh kebiasaan ya, gak berubah-berubah.” Kesalnya pada sang suami yang sepertinya mempunyai kebiasaan mengagetkan istrinya itu
Wahyu cekikikan di depan istrinya yang terlihat sangat kesal.
Sorot mata Ratu yang tajam lantas tak membuat Wahyu takut.
Justru semakin cekikikan dengan telapak tangan menyumpal mulutnya sendiri mencoba meredam tawanya.
Tawanya terhenti ketika bel apartemenya berbunyi.
"Kamu bebersih dulu ya..? Aku siapkan dulu makan malamnya sebentar." ucap Wahyu yang di angguki Ratu
***
Mereka makan malam setelah selesai melaksanakan sholat isya
Wahyu menyiapkan makan malamnya di kamar Ratu di karenakan Ratu masih terlihat lemas.
“Apa yang membuatmu mau menerima perjodohan ini?” Tanya Wahyu tiba-tiba saat Ratu kembali berbaring setelah berapa saat usai makan malam.
Ratu diam tak menjawab. Terlihat dia tidak tertarik dengan obrolan yang di lontarkan suaminya itu
“Ratu.. Apa kamu sebenarnya tidak menerima pernikahan ini?” desak Wahyu
__ADS_1
Ratu yang merasa greget dengan praduga suaminya, menatap suaminya dengan datar.
Ratu menarik nafas dan membuangnya kasar.
“Bukankah aku udah pernah menjawab pertanyaan seperti ini sebelumnya?” Tanya balik Ratu menatap suaminya
Wahyu mengerutkan keningnya seolah bertanya kapan.
“Apa harus ku ulangi ucapan aku kemarin bahwa aku bahkan dengan ikhlas mau memberikan hak kamu sebagai suami.?” Ucapnya dengan pelan
“Apa itu belum cukup membuktikan bahwa aku tulus sama pernikahan ini..?" lanjutnya lagi
Wahyu tak bisa menjawab
"Mas.. Cinta memang belum hadir di antara kita.. Kita bahkan belum kenal sebelumnya.. Tapi itu bukan alasan untuk tidak menerima pernikahan ini.."
"Karna bagiku, Pernikahan itu bukan untuk main-main.. Bukan untuk ajang coba-coba, yang nanti kita bisa sudahi gitu aja.."
"Jika memang gak merima, sebaiknya tidak ada pernikahan.."
"Pernikahan itu ikatan suci mas.. Sakral.. Ada saksinya dan malaikat mengaminkan ikatan halal itu.. Kita bukan hanya mengucapkan janji di hadapan saksi, tapi juga telah melibatkan Tuhan di dalamnya.."
"Jika memang aku merasa terpaksa, aku pasti menolak sebelumnya.."
"Ketika janji qobul terucap, pada saat itu juga aku berucap syukur pada Allah.."
Wahyu terdiam mendengar semua penuturan Ratu. Ada rasa malu di hatinya karena telah meragukan Ratu.
Bersambung
.
__ADS_1