Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan

Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan
Di Antara Tamu Yang Ada


__ADS_3

Setelah dia tiba di ruang kerjanya, dia di kejutkan dengan begitu banyak bunga dan sebuah paper berisi kado.


Ratu sudah bisa menebak siapa pengirimnya.


Diapun meminta karyawannya memindahkan bunga tersebut dari ruangannya. Tak terkecuali dengan kado.


Sedetik kemudian, ponselnya berdering.


Melihat nama sang pemanggil, dengan tarikan nafas, dia mennggeser tampilan hijau di layar.


“Assalamualaikum Ratu, selamat ulang tahun ya.. aku harap kamu gak terpengaruh sama ucapaan mama kemarin.. Aku akan mencoba meyakinkan mamaku, kamu yang sabar ya.” Suara Raka terdengar sangat lembut di seberang sana


“Waalaikumsalam..” sejenak Ratu mengambil nafas dan menghembuskannya pelan.


Mencoba menetralkan perasaannya


“Raka, bagaimana bisa aku menerima lamaran kamu, sedangkan pernikahan bukan hanya menyangkut dua hati yang saling menginginkan saja."


"Juga bukan cuma menyatukan dua hati yang berbeda menjadi satu untuk menuju ikatan yang halal. Bukan hanya soal itu saja Raka."


"Tapi juga tentang menyatukan dua keluarga yang berbeda. Keluargaku dan keluargamu" Lanjutnya lagi


"Kamu tau seperti apa ibumu. Dan kamu juga, kenapa gak ngomong soal perjodohanmu..?" Tanya Ratu dengan datar


"Aku tau Ratu.. Tapi aku menginginkan kamu yang menjadi istriku.. Aku yakin mamaku pasti akan menerimamu setelah dia kenal kamu lebih dalam." Jawab Raka di seberang sana dengan nada memohon


"Tapi aku gak bisa.. Aku ingin kamu lanjutan perjodohanmu dengan wanita itu.." Ucap Ratu


"Jangan gini dong Ra.. Ini hidupku, aku yang jalani, bukan ibuku.. Apa kamu gak ngerti gimana perasaanku..?" Jawab Raka memelas


“ Kamu tau, syurgamu ada di telapak kaki ibumu. Sekeras dan seambisi apapun dia terhadapamu, kamu tetap gak bisa menyakiti hatinya. Kamu dengar sendiri gimana ibumu gak menyukaiku, gimana bisa kamu menginginkanku menerima lamaranmu.”


“Kita gak akan bisa menyatu, kita bukan jodoh Raka. Terimalah wanita pilihan orang tuamu."


"Dia gak sebaik yang mama kira." Potong Raka


"Jika dia gak baik menurutmu, didiklah dia, bimbinglah dia, dan bersabarlah atasnya, Insya Allah kamu akan mendapatkan kebahagiaan bersamanya.”

__ADS_1


Dengan tenang Ratu mengucapkan semua isi hatinya


“Tapi Ratu, aku..”


“Aku masih banyak kerjaan, Assalamualaikum.” Potong Ratu menutup panggilan dari Raka secara sepihak


Berapa detik kemudian, ponsel yang dia letakan di meja kembali mendapat panggilan dari Raka


Ratu hanya terus memandangi ponselnya yang terus saja berdering, hingga panggilan itu berakhir.


Ratu meraih ponselnya dan menyetingnya ke mode pesawat.


Dengan tangan bertumpu di meja, Ratu menunduk dengan mata terpejam.


Dia tahu perasaan Raka saat ini, namun ada begitu banyak hati yang harus dia jaga.


Dan diapun percaya bahwa ini yang terbaik dari Allah untuknya.


Sementara di seberang sana, Raka terus mengusap mukanya dengan kasar. Sesekali dia menyugar rambutnya kebelakang dan sedikit menjambaknya.


Dia begitu frustasi mendapati nomor ponsel Ratu yang sudah tidak bisa dia hubungi lagi.


Sorepun menjelang, dengan langkah santai Ratu memasuki rumahnya. Dia di kejutkan dengan kedatangan bu Riana dan pak Hendra bersama seorang laki-laki yang terlihat tampan tengah berada di antara tamu yang ada.


Ratu sudah bisa menebak bahwa laki-laki tersebut sudah pasti adalah Wahyu.


Lelaki yang akan menjadi suaminya kelak. Lelaki yang di siapkan orang tuanya untuknya sejak lama


Wahyu Rayanzah adalah putra satu-satunya dari pasangan Ardiansyah Hendra dan Riana Nasir.


Seorang Dokter spesialis anak yang saat ini berumur 25 tahun.


Seorang Dokter muda berbakat yang penuh dengan prestasi yang juga pernah mondok di pesantren milik kakeknya sendiri.


“Sini nak, kebetulan kamu sudah pulang.” Ajak sang ibu pada Ratu untuk ikut bergabung


Ratu menuruti. Dengan senyum dia duduk di antara mereka, di samping sang ibu tentunya.

__ADS_1


Ratu sempat beberapa kali melirikan matanya ke arah Wahyu. Namun Ratu tidak bisa melihat wajahnya dengan begitu jelas


Wahyu terus menundukan wajahnya.


"Mmm begini nak.." Ucap sang Ayah memecahkan keheningan


Bu Rini memberi kode pada suaminya untuk meminta agar dia saja yang memberi tahu anaknya tentang apa yang mereka bahas bersama Wahyu dan orang tuanya.


“Ratu, tanggal pernikahan kalian sudah kami tetapkan Dek." Ucap sang ibu hati-hati


"Besok semua berkas dan persyaratan sudah harus di siapkan. Lebih cepat lebih baik.” Ucap sang ibu lembut


Sontak Ratu mengangkat wajahnya menatap sang ibu.


Mengerti keterkejutan sang anak, bu Rini mengelus lengan anaknya dan tersenyum lembut


Ratu lantas menundukan kepalanya.


Tak ada yang bisa dia lakukan lagi. Semua karena dirinya sudah terlanjur menyetujui perjodohan ini.


Setelah semuanya sudah disepakati dan akhirnya sudah di setujui oleh Ratu, Wahyu dan orang tuanya pamit undur diri


Dari ujung jalan, Mirza yang baru pulang kerja melihat ada mobil keluar dari halaman rumahnya


Mirza tahu itu mobil calon mertua adiknya. Diapun melajukan mobilnya dan buru-buru masuk ke rumah mencari adiknya itu.


"Ratu mana ma..?" Tanya Mirza menghampiri sang ibu yang masih berada di ruang tamu


" Ada di kamarnya.." Jawab sang ibu


"Mirza samperin dulu ya ma.." Ucap Mirza berlari kecil menaiki anak tangga


tok.. tok.. tok..


“Dek, kakak boleh masuk?” Panggil Mirza depan pintu kamar Ratu


Tak ada jawaban. Mirza terus mengetuk hingga pintu kamar terbuka, namun tak menampakkan sang pemilik kamar.

__ADS_1


Mirza mengintip ke dalam hingga akhirnya masuk dan melihat sang adik duduk di balkon kamarnya


“Dek..?” Sapa sang kakak dengan lembut


__ADS_2