
Wahyu terbangun saat merasakan tubuhnya menggigil karena terpaan angin. Dia melirik ke arah balkon yang ternyata pintunya terbuka lebar.
Ternyata dia lupa menguncinya sebelum tidur tadi.
Setelah Wahyu selesai melaksanakan sholat tahajud, dia kembali berbaring di ranjangnya.
Wahyu kembali teringat ucapan istrinya lagi
Sungguh Wahyu tak mengerti apa yang di maksud oleh suami di atas kertas yang di lontarkan istrinya itu.
Mungkinkah Ratu hanya terpaksa menjalani pernikahan ini dan menjadikan pernikahan ini pura-pura, gumam Wahyu dalam hati.
Sekilas dia menatap ke arah istrinya hingga memiringkan tubuhnya menghadap istrinya hingga iapun terlelap dalam mimpinya.
***
“Kenapa gak membangunkan aku?” Ratu terlonjak kaget oleh suara Wahyu yang berdiri persis di belakangnya yang sedang sibuk memasak sarapan pagi mereka
Ratu memilih diam dengan tatapan tidak suka dan kembali melanjutkan aktivitasnya di dapur tersebut.
Sedangkan Wahyu yang merasa di cuekin akhirnya memilih menyiapkan kopinya sendiri dengan terburu-buru sambil melirik jam di tanganya
“Anda dududk saja, biar saya yang siapkan.” Ucap Ratu mematikan kompornya
Wahyu melirik sekilas ke istrinya dan kembali melanjutkan menyeduh kopi di tanganya.
Melihat itu, Ratu kembali melanjutkan acara memasaknya
__ADS_1
“Terlepas dengan sikap dan ucapan saya semalam, saya akan tetap menyiapkan semua keperluan anda termasuk sarapan." Ucap Ratu
"Anda tinggal ngomong apa yang anda ingin makan dan minum biar saya siapkan. Karena saya belum tau tentang anda apalagi soal kesukaan anda.” Ucap Ratu sambil sibuk menyiapkan sarapan mereka di atas meja.
Wahyu terus memandangi istrinya yang sibuk wara wiri di depannya
Tak habis pikir olehnya pernikahan seperti apa yang di inginkan oleh wanita yang ada di hadapannya ini.
Jika marah, kata-katanya begitu lugas dan menohok.
Ketika di hadapannya, begitu tegas dan menunjukan kepribadiannya yang kuat.
Tidak mau di sentuh tapi niat berbakti
"Sungguh aku gak bisa menebak apa yang ada di dalam fikiranmu Ratu.. Kamu bagai teka-teki rubik yang terlihat mudah tapi begitu sulit aku pecahkan menjadi satu warna yang sama ." Lirih Wahyu sangat pelan namun samar-samar masih terdengar oleh Ratu
Wahyu terus saja di buat bingung dengan sikap istrinya itu. Hingga iapun memutuskan untuk sarapan dan segera berangkat kerja karena sebentar lagi dia akan melakukan operasi pada pasiennya.
Di tengah perjalanan, Wahyu terus saja memikirkan sikap dan semua ucapan istrinya.
Hingga dia di sadarkan oleh bunyi klakson kendaraan yang meminta dia maju karena lampu merah sudah berganti hijau.
“Kenapa wanita itu bersikap angkuh di depanku. Ehk bukan, bukan angkuh tapi sarkas. Ahk sama saja.. astaghfirullahal adziim.” Wahyu terus bermonolog sepanjang jalan
Sementara itu, Ratu yang tengah sibuk membenahi barang-barangnya dan memindahkan ke kamar tamu, menghentikan sejenak kegiatannya dan duduk di tepi ranjang.
Dia menangis terisak menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Flashback on
Mau kemana dia? Gumam Ratu melihat suaminya keluar kamar dengan buru-buru.
Dia melihat ponsel tergeletak di ranjang, berniat mengambil dan menyusul suaminya untuk memberikan ponselnya yang tertinggal.
Namun langkahnya terhenti saat tak sengaja melihat notif di ponsel suaminya.
“Baiklah saya akan tunggu di rumah. Biar saya dan istri saya yang akan menjadi perantara untuk kalian. Nanti kita bahas depan Abah dan ummi ta’aruf yang kalian jalani ini.” bunyi pesan yang masuk di ponsel Wahyu
Deg..
Bagai sembilu menusuk jantung. Perih, terluka, tapi tak berdarah. Itulah yang Ratu rasakan
Pernikahan yang semula sudah dia terima dengan berharap bahagia, justru berbalik dengan apa yang dia harapkan.
“Belum sehari, baru beberapa jam berlalu, kenapa sudah seperti ini.” lirihnya sembari meremas dadanya yang sakit
Tak ingin di ketahui oleh suaminya, Ratu bergegas kembali melanjutkan merapikan pakaiannya di dalam lemari.
Benar saja, Wahyu kembali masuk ke kamar mencari ponselnya yang tertinggal dan pergi tanpa melirik lagi ke arahnya.
Ratu meremas dadanya yang semakin terasa sakit. Air matanya jatuh perlahan membasahi pipinya.
Dengan kasar dia menghapus air matanya sambil terus menghembuskan nafas untuk sekedar menetralkan perasaannya
"Ya Tuhan kami, jangan lah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakan lah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." pintanya dalam doa sembari meremas dadanya yang terasa sakit
__ADS_1