
Wahyu mencoba mengingat kembali kejadian sakral antara dia dan Ratu, dimana Ratu tersenyum merai tangannya untuk di cium sebagai tanda baktinya mulai saat itu.
“Maafkan saya.” Wahyu menunduk
“Bagaimana mungkin saya menghalalkan tubuh ini di sentuh oleh laki-laki yang tidak menginginkan pernikahannya.”
"Apa maksud kamu Ratu..?" Tanya Wahyu dengan lesu
“Bukankah hati anda tertuju pada wanita lain?” Jawab Ratu menatap sang suami
Wahyu mengerutkan keningnya mendengar ucapan istrinya. Wahyu memijat keningnya yang terasa mulai berat
“Ratu, dengar aku. Apa yang kamu pikirkan sayang?” ucap Wahyu menatap mata istrinya dengan putus asa
Bingung harus bagaimana menghadapi istrinya yang keras itu untuk sedikit saja melunak
Ucapanya sontak membuat hati Ratu terusik. Kaget juga iya. Kata sayang yang tersemat di akhir kalimat membuat jantungnya mendadak lari marathon.
Ratu memalingkan mukanya kesamping. Menghindari tatapan lembut suaminya
“Ratu, dengar aku. Semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Ijinkan aku menjelasakan semuanya biar jelas dan gak ada lagi kesalah pahaman lagi.” Pinta Wahyu dengan lembut
Diamnya Ratu membuat Wahyu gemas. Ingin rasanya dia memeluk istrinya saat ini juga namun di urungkannya
Wahyu menghembuskan nafasnya. Di raihnya tangan sang istri
“Makan dulu ya..? setelah itu minum obat. Nanti aku jelaskan, kemarin kenapa aku pergi dan apa yang aku lalukan hingga pulang larut malam.” Wahyu berusaha untuk terus meluluhkan istrinya
__ADS_1
“Aku, kamu, sayang..? kenapa berubah, apa laki-laki memang semuanya seperti ini.” gumam Ratu dalam hati menatap lekat suaminya
Karena lapar, Ratu nurut untuk makan di lanjuti minum obat.
Setelah selesai, dia kembali membaringkan tubuhnya di kasur karena kepalanya masih terasa pusing.
“Kemarin saat hari pernikahan kita, aku keluar untuk menemui saudara angkatku dan istrinya.” Wahyu mulai menjelaskan dengan perlahan dan hati-hati
Ratu tak bergeming. Dia terus memejamkan matanya seolah tidak ingin mendengarkan apapun penjelasan dari suaminya
Wahyu tak peduli istrinya mendengarkan atau tidak. Dia berniat akan menyelesaikan malam ini juga
“Aku memintanya untuk menjadi perantara antara aku dan Maryam, wanita yang aku ajak ta’aruf pada waktu itu.”
Hati Ratu mulai sesak mendengarkan penuturan suaminya. Ternyata benar ada wanita lain
“Sebelum aku tau aku di jodohkan, aku meminta ayah angkatku untuk menta’arufkan kami. Aku mengenal dia dari orang tua angkatku."
"Tapi, kami baru masuk ke tahap bertukar biodata. Belum lebih dari itu."
“Di saat aku baru membacanya, mama sama papa mengajak aku ngobrol bertiga dan bahasannya adalah tentang pernikahan. Itu pernikahan kita.”
Wahyu menarik nafas dan menhembuskannya perlahan sebelum kembali melanjutkan.
“Aku memang awalnya memang ingin mengakhiri masa lajangku dengan menyegerahkan menikah."
"Namun pada saat papa sama mama mengatakan bahwa sudah melamar kamu, aku meminta waktu untuk ingin mengenal siapa sosok wanita yang ingin di jodohkan dengan ku, seperti apa orangnya. Dan jujur bukan soal fisik, tapi lebih kepada pembawaannya dan keimanannya.”
__ADS_1
"Maaf, karena aku belum mengenal kamu bahkan belum pernah melihat kamu, wajar jika aku ingin tahu seperti apa calon istriku."
"Tapi jujur, aku gak ada mengatakan aku menolak."
Ratu mulai tertarik dengan apa yang di sampaikan oleh suaminya. Dia membuka mata dan menatap suaminya, ingin mencari kejujuran dalam matanya.
Ratu diam saja tanpa suara. Ratu membiarkan saja suaminya menyelesaikan hingga selesai
Wahyu tersenyum lembut menatap sang istri. "Apa kamu menyesal menikah dengan aku..?"
“Aku tau aku salah. Aku gak jujur dari awal.” Ucap Wahyu dengan pelan menundukan wajahnya
“Aku menyetujui perjodohan yang di berikan orang tua kita karena memang aku tidak menolak perjodohan itu. Meski aku belum kenal tentang kamu."
Wahyu melihat mimik wajah Ratu mulai serius mendengarkan ceritanya.
"Tapi kenapa baru setelah nikah anda mau membatalkan ta'aruf dengan wanita itu..? Apa karena niat menikahinya juga..?" Tanya Ratu
Wahyu menangkap roman-roman cemburu di mata istrinya. Membuatnya ingin sedikit mengulik
"Apa kamu mau di madu..?" Wahyu mencoba menahan tawa
Ratu memalingkan wajahnya ke arah lain membuat Wahyu tersenyum
“Aku belum sempat membatalkan proses ta’aruf yang berlangsung di karenakan Abah sedang di rawat di rumah sakit kok.." Ucap Wahyu membuat Ratu menatapnya tak percaya
Bersambung \=>
__ADS_1