
Mirza melihat adiknya seperti terpaksa menerima perjodohan dari orang tua mereka.
Karena kepatuhan terhadap orang tua, wujud baktinya terhadap orang tuanya, dia terpaksa meski batinnya menderita. Seperti itulah yang terlihat di mata Mirza
Mirza menghampiri sang adik dan mengelus kepalanya
“Allah menciptakan manusia itu berpasang-pasangan dek. Dan Allah selalu tau apa yang terbaik untuk hambanya. Termasuk soal jodoh, Allah sudah menuliskan siapa yang bakal jadi pasangan kita."
"Kamu sudah pasti mengetahui. Bahwa apa yang kita sukai, belum tentu baik untuk kita. Dan apa yang tidak kita sukai, bisa jadi itulah yang terbaik untuk kita." Tutur hangat sang kakak
Ratu tersenyum kecil menatap sang kakak.
"Kamu berserah dirilah pada sang pencipta, istikharah minta petunjuk kepada-Nya. Allah pasti akan ngasih jawaban atas doa - doamu.” Lanjut Mirza
Ratu menunduk mendengar nasehat sang kakak. Dia tidak ingin kakaknya melihat matanya yang mulai berkaca-kaca
"Ratu sudah ikhlas menerima perjodohan ini kok." Ucapnya pelan hampir tak terdengar
Mirza tersenyum mengelus puncak kepala sang adik. Dengan penuh sayang, Mirza memeluk sang adik hangat
“Ingat ya dek.. Nanti kalau sudah menikah, kamu harus taat pada suami. Baik buruk suami harus kamu terima. Jaga aibnya dan aib rumah tanggamu. Kodratnya istri adalah taat pada suami, dan bersedia ikut kemana suami mengajak.” Ratu mengangguk dalam dekapan sang kakak
“Kakak pasti akan kesepian, terlebih kakak sudah kehilangan istri kakak. Kakak benar-benar akan sendirian." Curhatnya pada sang adik dengan terus menatap ke depan
Ratu mengeratkan pelukannya ikut merasakan apa yang kakaknya rasakan
"Tapi kakak juga bahagia karena adik kakak yang cantik ini sebentar lagi akan menjadi seorang istri.” Mirza tersenyum di balik kesedihannya.
Mirza tidak menyangka sang adik yang dia sayangi sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Dan akan pergi ikut suami
__ADS_1
“Insya Allah Ratu akan ingat nasehat kakak.” Ucap Ratu sambil memeluk sang kakak
“Ratu boleh gak tinggal disini aja?” Mirza mengelus kepala sang adik yang terlihat manja dengan permintaannya
“Boleh kalau suamimu mengijinkan.” Mirza tersenyum lembut memandang sang adik yang mendongak menatapnya
***
Seminggu berlalu, semua keluarga tengah berkumpul untuk menyaksikan ijab qobul Ratu dan Wahyu.
Lafaz qobul dengan lantang terucap dari bibir Wahyu.
Semua terlihat bahagia. Terutama orang tua Ratu, terbit senyum dan air mata haru menyaksikan anak gadisnya telah sah menjadi seorang istri.
Satu hal yang lebih membuat keluarga meneteskan air mata terharu.
"Wahyu Rayanzah, kini kamu sudah sah menjadi seorang suami dari anak gadisku yang saya beri nama Ratu Anatasyah Raharja.
Dan kamu harus tau, bahwa saya sangat mencintai dan menyayangi Ratu setelah ibunya dengan segenap jiwa saya. Sejak kecil hingga dewasa, saya selalu mencurahkan kasih sayang saya setiap harinya untuknya.
Dia tetaplah gadis kecil saya meski kini dia sudah dewasa. Dan hari ini, saya telah menyerahkan dia kepadamu, untuk menjadi istrimu, maka satu hal yang saya minta kepadamu, tolong lanjutkan semua itu. Gantikan saya untuknya. Jika suatus saat kamu tidak lagi ridho pada istrimu, tolong kembalikan dia kepada kami secara baik-baik."
Wahyu ikut meneteskan air matanya mendengar permintaan sang mertua. Dengan mengucap Bismillahir Rahmannir Rahiim, Wahyu menyanggupi permintaan itu.
***
Setelah semua acara usai, kini Ratu di boyong keluarga Wahyu ke apartemen milik Wahyu.
Wahyu bekerja di salah satu rumah sakit sebagai dokter spesialis anak. Sejak dia bekerja, dia memilih tinggal sendiri di apartemen yang tidak begitu jauh dari tempat dia bekerja.
__ADS_1
Sementara orang tua dan keluargnya tetap berada di kampung halaman mereka.
“Nak, ini kamarnya Wahyu, kamar kamu juga. Mulai sekarang, kamu tinggal disini sama suami kamu, Wahyu.” Tutur bu Riana tersenyum lembut sambil mempersilakan
“Semoga kalian bahagia nak. Mama sama papa sekarang bertambah anak lagi. Bukan hanya Wahyu, tapi sekarang ada dua yaitu kamu.” Lanjut sang mertua mengelus lengan Ratu penuh kasih
Ratu tersenyum menanggapi mertuanya.
Wahyu yang menyaksikan itu hanya diam.
Dengan handpone di tangannya, dia mulai sibuk bertukar pesan entah dengan siapa.
Ratu mulai sibuk mengeluarkan isi kopernya dan menatanya di lemari yang sudah di siapkan mertuanya sebelumnya.
Sementara Wahyu masih sibuk dengan handpone di tangannya
Wahyu melirik wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu sesaat. Terlihat jelas wajahnya yang begitu cantik, teduh saat di pandang.
Ini pertama kali Wahyu melihat wajah sang istri dengan jelas.
Karena sebelumnya dia selalu menundukan pandangannya.
“Aku keluar sebentar. Ada urusan yang harus di selesaikan dan mungkin pulang telat." Ucap Wahyu sambil memakai jacket
"Kalau ada apa-apa, kasih tau mama atau hubungi aku aja.” Ucap Wahyu dengan langsung keluar kamar
Ratu terpaku melihat suaminya pergi tanpa salam bahkan tanpa mengulurkan tangan untuk di cium olehnya.
Namun Ratu kembali berfikir positif yang mungkin ada urusan yang benar-benar sedang mendesak hingga suaminya lupa akan hal itu.
__ADS_1