Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan

Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan
Dialah Takdirmu


__ADS_3

Selepas melakukan operasi, Wahyu berjalan menuju ruang rawat ustadz Alif.


Ustadz yang dia panggil Abah, ayah angkatnya semenjak 2 tahun ini dia berada di kota.


Abah Alif adalah ustadz yang dulu pernah mengajar di pesantren milik kakeknya.


Kedekatan mereka sudah terjalin sejak saat itu.


Sehingga tidak salah jika Abah Alif menjadikan Wahyu anak angkatnya.


Saat Wahyu keluar dari lift menuju kamar rawat Abah Alif, terlihat dari ujung lorong, Abah dan anak lelakinya sedang keluar ruangan bersama perawat yang mendorong kursi roda Abah Alif.


Wahyu mempercepat langka untuk mengejar mereka.


Namun setelah sampai di depan pintu, Ummi keluar dengan di temani menantunya, berpapasan dengan Wahyu.


Ummi lantas memintanya untuk duduk di kursi depan kamar rawat Abah Alif tersebut


“Ada apa Ummi?” Tanya Wahyu dengan keheranan

__ADS_1


Ummi terlihat menarik nafasnya


“Ummi baru tau soal pernikahnmu nak. Ummi dan Abah juga sudah menyampaikan kepada ustadz Mahmud dan istrinya perihal pembatalan ta’aruf kamu sama nak Maryam tadi pagi.” Ucap Ummi dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Wahyu


Wahyu akhirnya menyadari bahwa Ummi dan Abah Alif merasa tak enak hati pada ustadz Mahmud dan keluarganya.


Dia yang meminta Abah Alif mejadi perantaranya untuk lebih mengenal Maryam dengan proses ta’aruf, ternyata sudah di jodohkan oleh kedua orang tuanya lebih dahulu.


Dia terlambat membatalkan sebelum ijab qobul di karenakan Abah Alif tiba-tiba sedang di rawat di rumah sakit akibat penyakit lambung yang beliau derita belakangan ini.


Beruntung proses mereka baru masuk tahap bertukar cv atau data diri dan visi misi dalam membentuk rumah tangga.


“Wahyu minta maaf Ummi. Ini semua di luar dugaan Wahyu.” Jawab Wahyu dengan menundukkan kepala merasa tak enak hati pada Ummi


"Wahyu juga sudah banyak merepotkan Ummi dan Abah." Lanjutnya menundukan kepala


“Tak apa nak, ini sudah kehendak dari Allah. Dialah takdirmu, wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrimulah yang Allah kehendakkan kepadamu. Dialah jodohmu.” Ucap Ummi dengan lembut


“Ummi cuma berpesan, jadilah suami yang bertanggung jawab. Didik istrimu jika dia butuh arahan. Tegur dia dengan lembut jika dia melakukan kesalahan. Cintai dia karena cinta kamu kepada Allah. Sebagai seorang suami, kamu di tuntut untuk bertanggung jawab atas apa yang ada pada istrimu. “ nasehat sang Ummi dengan lembut

__ADS_1


Wahyu mengangguk paham dengan ucapan Ummi.


“Insya Allah Ummi.” Jawabnya dengan pelan


“Tidak semua perjodohan berakhir berhasil. Namun tidak sedikit juga berakhir dengan kebahagiaan. Tinggal bagaimana kedua insan tersebut menjalani dan memaknai sebuah pernikahan itu.”


"Iya Ummi." Jawab Wahyu paham


“Kamu bersabarlah jika dalam rumah tanggamu kelak menemui masalah. Ajak istri berkomunikasi dengan baik, agar segalah masalah yang ada bisa di selesaikan dengan baik. sebagai suami, sebagai kepala rumah tangga, sebagai imam, nasib rumah tangga ada di pundakmu nak. Mau kamu bawah kemana, mau seperti apa, kamulah nahkodanya.” Lanjut Ummi menekankan namun tetap lembut


“Terima kasih Ummi atas semua wejangannya. Wahyu cukup terharu dengan segala kebaikan dan perhatian Ummi. Wahyu juga minta maaf kalau Wahyu sudah banyak merepotkan Ummi dan Abah sebagai anak.” ucapnya dengan mata berkaca kaca


Wahyu tidak menyangka, Ummi yang hanya sebagai ibu angkat begitu perhatian kepadanya.


Dia berharap segala kebaikan dan umur yang berkah senantiasa Allah limpahkan kepada orang tua angkatnya itu.


***


Wahyu kaget saat melihat Ratu keluar dari kamar tamu. Lengkap dengan pakaian syar’i dan balutan hijab yang panjang tengah melewatinya.

__ADS_1


“Gak ada orangpun, mengucapkan salam saat memasuki rumah itu sebuah keharusan, apalagi saat di rumah ada penghuni lain.” Sarkas Ratu dengan langka santai menuju dapur tanpa melirik suaminya


__ADS_2