Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan

Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan
Aku Dan Kamu


__ADS_3

“Semua serba mendadak sayang. Maka dari itu pada saat hari ijab qobul kita selesai, aku ingin segera menyelesaikan pembatalan itu." Ucap Wahyu mengelus punggung tangan Ratu yang berada di atas perut Ratu


Wahyu senang karena Ratu membiarkan saja apa yang dia lakukan


"Makannya aku buru-buru pada saat itu, karena saudara angkatku lagi sibuk dan waktunya cuma sebentar katanya. Dia yang akan menemaniku untuk menemui orang tua Maryam.”


“Aku lega, akhirnya semua berjalan lancar. dan orang tua serta Maryam bisa menerima dengan baik tanpa masalah.”


Wahyu mencoba menggenggam tangan Ratu meski ragu. Namun Ratu menarik tanganya dengan pelan. Membuat Wahyu tersenyum simpul


“Istrahatlah, biar cepat sembuh. aku harus balik ke rumah sakit lagi. Ada pasien yang harus di tangani.” Wahyu pamit


“Dua jam lagi aku pulang. Mau di bawakan apa biar aku belikan saat pulang nanti?” Tanya Wahyu dengan lembut


Ratu menggeleng pelan


“Ya sudah, kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi aku.” Ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya


Ratu mengerutkan alisnya melihat Wahyu berdiri mematung menatapnya dengan wajah datar


“Aku akan terus berusaha menjadi suami yang pantas untukmu. Aku akan terus memperbaiki diri hingga kamu memantaskan aku dengan semua hak ku.” Ucap Wahyu


“ Istrahat ya.. Jangan mikirin apa-apa dulu.. Kesehatanmu lebih penting. Aku berangkat dulu, Assalamualaikum.” Pamitnya

__ADS_1


Ratu membalas salam dalam hati menatap pintu kamar yang kembali tertutup saat suaminya keluar dari kamar itu.


Hatinya mendadak perih. Air matanya jatuh perlahan dari sudut mata cantiknya hingga isakan tangisnya memenuhi ruangan kamarnya.


***


Pukul 05 sore, Wahyu baru saja tiba di basement apartemen. Setelah turun dari mobil, dia berlari kecil menuju lift.


Sesampainya,


Belum juga dia membersihkan badanya, belum juga dia berganti pakaian, dengan tas medis di tangan yang selalu dia bawa, Wahyu masuk ke kamar istrinya.


Wahyu ingin memastikan kondisi istrinya


Ratu terusik dari tidurnya saat merasakan kening dan pipinya di sentuh seseorang.


“Masih pusing..?” Tanya Wahyu dengan tangan masih menempel di pipi Ratu memastikan apakah demamnya sudah turun


Ratu menggeleng pelan sambil berusaha bangun dan bersandar di sandaran tempat tidurnya.


Wahyu memeriksan kembali selang saluran infus di tangan Ratu. Ratu tak menolak saat Wahyu menyentuh tanganya


Ratu diam memperhatikan setiap gerakan suaminya

__ADS_1


“Apa kamu perlu aku hubungi mama sama papa?” Tanya Wahyu masih dengan meneriksa saluran infus.


“Gak usah. Aku sudah lebih baik sekarang. Udah gak begitu pusing lagi.” Jawabnya pelan


Wahyu tersenyum istrinya menanggapinya. Dan itu tidak luput dari penglihatan Ratu


“Alhamdulillah. Aku mandi dulu ya.. Nanti kita makan bareng. aku sudah pesan makanan untuk kita.” Ucap Wahyu sambil beranjak


Wahyu terkejut Ratu menarik tanganya dengan lembut. Di tatapnya jemarinya yang di genggam oleh Ratu dengan tak percaya


“Terima kasih” ucap Ratu menatap sang suami dengan tulus


Wahyu tersenyum dan kembali duduk di tempatnya semula. Tangan Ratu belum juga lepas, masih menggenggam tangan sang suami.


Wahyu merai tangan istrinya dan menggenggam lembut.


“Cepatlah sembuh. Jangan pikirkan hal lain selain rumah tangga kita. Kita jalani bareng-bareng, suka duka kita hadapi bersama, aku dan kamu.” Ucap Wahyu dengan lembut


Tatapan teduh Wahyu mampu menghipnotis Ratu. Hingga tanpa sadar tersungging senyum di bibir indahnya, membuat Wahyu bahagia.


“Aku mandi dulu ya? Gak nyaman dekat-dekat istri kalau badan lengket begini.” Ratu berusaha menahan senyum akan ungkapan suaminya itu


“Minta tolong sebentar, haus pengen minum.” Pinta Ratu memelas seakan Wahyu tidak mau menuruti inginnya

__ADS_1


Wahyu tersenyum mengangguk pelan


Bersambung


__ADS_2