Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan

Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan
Halal Untuk Melakukannya


__ADS_3

Ratu terbangun dari tidurnya. Dia berusaha menegakan tubuhnya dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidur, air matanya menetes perlahan.


Rasa rindunya pada orang tuanya saat sakit seperti ini membuat dia terisak pada akhirnya.


Ratu meraih ponselnya yang berada di nakas untuk menelpon ibunya.


Saat Ratu membuka layar ponsel, ada notif pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal.


Namun saat membaca kalimat dalam pesan tersebut, Ratu jadi tahu siapa pengirimnya


Ratu kembali menyimpan ponselnya di atas nakas dan memejamkan matanya dalam posisi duduk bersandar


Kepalanya semakin terasa pusing hingga wajahnya semakin memucat


Di rumah sakit, saat jam istrahat tiba Wahyu terus gelisah saat melihat pesannya telah di baca namun tidak ada balasan dari istrinya.


Dia melihat istrinya terakhir online sudah 1 jam yang lalu.


Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang.


Karena rasa khawatirnya pada istrinya, perjalanan 30 menit, menjadi singkat hingga akhirnya tiba di apartemen miliknya.


Bergegas dia masuk, memeriksa keadaan dapur dan sarapan yang dia pesan pagi tadi, benar dugaannya bahwa istrinya belum keluar kamar.


Berbagai praduga mulai berseliweran di benaknya. Mulai dari apakah dia sakit. Apakah dia sebenarnya tidak ada di kamar. Apakah dia kabur dan sebagainya membuat Wahyu parno berlari menuju kamar tamu dan membuka handle pintu


Dengan kepanikan yang ada, Wahyu bergegas mencari kunci cadangan di dalam laci lemari di kamarnya


Wahyu berlari menuju kamar tamu dan memasukan kunci dengan tergesa-gesa dan berhasil.


Tanpa membuang waktu, Wahyu memutar handle pintu dan mendorong masuk.


Gelap tanpa cahaya sedikitpun.

__ADS_1


Wahyu melangkah menuju jendela dan membuka gorden hingga masuklah cahaya dari luar


Saat berbalik, sontak mata Wahyu membulat mendapati wajah sang istri dengan kondisi pucat dan bibir membiru.


Di sentuhnya kening sang istri dan ternyata suhu badannya terasa panas.


Wahyu bergegas keluar kamar dan mengambil peralatan medisnya serta kotak obat yang selalu dia sediakan di rumahnya.


Karena kondisi istrinya begitu lemas, Wahyu memutuskan untuk memasangkan selang infus di tangan istrinya.


Rasa bersalah menyelimuti perasaannya mendapati istrinya dalam keadaan sakit seperti itu.


Andai dia tahu, dia gak akan berangkat kerja pagi tadi


Kini Ratu sudah selesai dipasangi selang infus. Wahyu mengelus punggung tangan sang istri tepat di jarum infus bersarang


Wahyu terus memandangi wajah sang istri dengan perasaan bersalah.


Wahyu beranjak dari duduknya memutuskan membuatkan bubur untuk istrinya.


Sepeninggal Wahyu, Ratu terbangun.


Matanya terus mengamati kondisi kamar dengan pintu balkon sudah terbuka lebar. Sehingga angin masuk dengan leluasa.


Ratu merasakan perih di punggung tangannya. Ratu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan saat melihat selang infus bersarang disana.


Meski demamnya sudah mulai turun, namun pusing di kepalanya belum berkurang.


Di ambang pintu, Wahyu terburu-buru masuk melihat Ratu yang memaksakan diri untuk bangun.


“Diam disana. Jangan sentuh saya.” Ucap Ratu dengan tangan naik ke atas


“Dalam keadaan sakit aja kamu masih kayak gitu.” Ucap Wahyu tak habis pikir

__ADS_1


Wahyu lantas duduk di tepi ranjang dengan gerakan pelan. Dia menatap Ratu dengan tatapan lembut.


Ternyata tidak mudah menghadapi istrinya itu. Harus butuh kesabaran ekstra


Ada rasa simpatik yang mulai bersemayam di hati Wahyu tatkala melihat Ratu yang dalam kondisi bagaimanapun masih tetap bertahan pada pendiriannya.


“Kita boleh marah karena kecewa pada seseorang. Tapi jangan melewati waktu tiga hari.” Ucap Wahyu dengan lembut


“Bukankah agama kita mengajarkan jika melebihi tiga hari maka perbuatan itu sangat di sukai oleh syetan.”


“Sedangkan Allah sangat membenci itu.” Wahyu tersenyum menatap istrinya


“Saya tau, dan saya bukan marah pada anda.” Tegas Ratu


“Saya hanya tidak mau di sentuh oleh anda.” Lanjutnya menatap sang suami


Wahyu menarik nafas dan menghembuskan pelan


“Kasih alasan yang tepat kenapa saya gak boleh menyentuh kamu. Sedangkan saya halal untuk melakukannya.” Tutur Wahyu dengan dengan tegas


Ratu diam tak menjawab


Kesabaran Wahyu kembali di uji oleh Ratu


“Apa kamu terpaksa menikah dengan saya? Atau kamu mempunyai calon suami lain?” desak Wahyu


Ratu memalingkan wajahnya dan tersenyum sinis


“Apa saya pernah berkata demikian pada anda? Apa anda tidak ingat setelah ijab qobul terucap, saya berterima kasih sudah menerima saya pada saat mencium punggung tangan anda? Apa perlu saya ingatkan lagi disini?” jawab Ratu dengan sinis


Wahyu mengerutkan keningnya


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2