Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan

Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan
Berdiam Diri Dalam Kemarahan


__ADS_3

Setelah makan malam, Ratu memilih masuk kamar. Beda halnya dengan mertuanya yang memilih menonton tv di ruang tengah.


Waktu sudah menunjukan pukul 09 malam, Wahyu belum juga pulang bahkan sekedar mengabarkan kemana dia beradapun tidak.


Hingga akhirnya pukul 10 malam, Wahyu muncul dengan wajah kusut dan terlihat lelah


“Assalamualaikum. Mama sama papa kok belum tidur?” sapa Wahyu mencium punggung tangan kedua orang tuanya


“Kamu dariman baru pulang jam segini.? Kasihan istrimu. Kalian baru saja menikah malah di tinggal begitu.” Marah sang ayah menatap Wahyu


“Maaf pa, tadi ada urusan mendesak yang harus di selesaikan." Jawab Wahyu menunduk tidak berani menatap wajah sang ayah


"Kamu baru saja menikah nak.. Istri kamu sejak tadi murung.. Apa kamu lupa kalau kamu ini sudah menjadi seorang suami..?" bu Riana kecewa


"Maaf.." Jawab Wahyu menyesal


"Ya sudah, temui isttimu sana.." Pinta sang ibu


Di ranjang, Wahyu tidak melihat istrinya. Di sofa juga tidak terlihat.


Wahyu menajamkan pendengarannya ke arah kamar mandi, mungkin saja istrinya berada di dalam.


Hingga dia memutuskan menunggu sebentar sambil duduk di tepi ranjang.


Lama dia menunggu namun pintu kamar mandi belum juga terbuka, hingga dia mengetuk pintu dan tidak ada jawaban dari dalam.


Dengan ragu-ragu Wahyu memutar handle pintu dan mengintip ke dalam, namun ternyata yang di cari tidak berada disana.

__ADS_1


Kemana dia berada pikirnya, hingga dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum mencari sang istri.


Selesai dengan ritual mandinya, Wahyu tidak sengaja melihat sosok yang sejak tadi di cari berada di balkon kamarnya dengan duduk bersandar.


Ternyata Ratu ketiduran di kursi.


Wahyu menatap istrinya dengan perasaan bersalah. Sedetik kemudian dia tersenyum memandang wajah wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu


Cantik, teduh, itulah yang terlihat oleh Wahyu. Hatinya sedikit goyah.


Bukan semata karena parasnya, tapi juga karena iba melihat seorang wanita yang telah di abaikannya setelah sah menjadi istrinya itu seharian ini.


Niat hati tidak membangunkan sang istri, dia berniat menggendongnya.


Tak di sangka Ratu terusik dan sontak mendorong tubuh Wahyu dan menjauhinya


“Jangan sentuh saya.”


Ratu yang kembali ke kamar bukannya tidur di ranjang malah mengambil bantal dan selimut kemudian menuju sofa.


Wahyu terus menatap tak percaya pada apa yang dia lihat


“Kamu kenapa?” Tanya Wahyu heran


Ratu diam tak menjawab


"Pindah ke ranjang, biar aku aja yang tidur di sofa.” Ucap Wahyu menghampiri

__ADS_1


Tak ada jawaban. Wahyu mulai geram dengan sikap yang di tunjukan oleh Ratu.


“Kalau ada masalah, di omongin. Masalah gak akan selesai jika hanya berdiam diri dengan kemarahan seperti ini.”


Ratu diam tidak menjawab. Dia geram pada suaminya yang merasa tak memiliki dosa setelah meninggalkannya hampir seharian tanpa tahu kemana dia pergi


“Jika pernikahan ini menjadi beban bagimu, hanya karena baktimu kepada orang tuamu, tak apa jika kamu jujur. Aku akan turuti apa maumu.” Puncak kekesalan Wahyu


“Masalah gak akan ada jika tanpa sebab. Beban gak akan ada jika yang semua di awali dengan kejujuran.” Ucap Ratu dengan tenang sambil membaringkan tubuhnya di sofa


Wahyu terdiam mencoba mencerna ucapan Ratu barusan. Belum lagi bisa mengerti maksud dari uacapanya, dia kembali di buat tercengang dengan ucapan istrinya itu


“Selama saya disini, anggap saya hanya sebagai tamu yang menumpang tinggal di tempat anda. Jangan khawatir, saya pasti akan tau diri selama saya disini.” Dengan nada santai Ratu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut


“Satu lagi, jangan pernah berniat menyentuh saya tanpa seijin saya. Seluruh yang ada pada tubuh ini saya haramkan untuk di sentuh oleh suami yang hanya di atas kertas.”


Lagi-lagi Wahyu di buat tercengang dengan ucapannya. Tak di sangka, seorang Ratu yang terlihat lemah lembut itu bisa berucap begitu menohok dan lugas.


Wahyu masih mematung di tempatnya berdiri. Dia terus memandangi istrinya yang tidur di balik selimut tebal di depannya.


Wahyu menyugarkan rambutnya, hatinya terus beristighfar


Dia baru tahu, wanita yang dia nikahi ini adalah wanita yang memiliki pendirian yang cukup kuat, tak terlihat oleh kasat mata


Dikarenakan Ratu adalah wanita muslimah yang lemah lembut jika berada di tengah keluarganya.


Sungguh jauh berbeda ketika hanya berdua dengannya seperti saat ini.

__ADS_1


Wahyu memilih mundur dan berbaring di tempat tidur dengan pikiran yang bingung.


Ucapan istrinya terus saja terngiang di telinganya, hingga ia terlelap dalam tidurnya


__ADS_2