
Merasa ngantuk, Ratu memilih tidur setelah melaksanakan sholat dzuhur terlebih dahulu.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 03 sore, dimana adzan ashar terdengar sedang berkumandang.
Kebetulan rumah orang tuanya tidak begitu jauh dari mushala.
Setelah adzan ashar selesai, Ratu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan kewajiban menghadap sang pencipta.
Lafaz doa terucap indah dari bibirnya. Tidak ada yang lebih dia harapkan kali ini selain kebahagiaan dan keridhoan sang pencipta yang hakiki di dalam hidupnya hingga kemudian hari.
Tok tok tok
“Non, di panggil bapak sama ibu, di tungguin di ruang keluarga.” Panggil mbok Marni di balik pintu kamar majikannya itu
Mbok Marni terus mengetuk pintu karena merasa tidak mendapat sahutan dari dalam kamar
“Iya mbok, sebentar lagi Ratu turun.” Jawab Ratu sedikit berteriak biar di dengar oleh mbok Marni
Sesaat kemudian, Ratupun sudah ikut bergabung di ruang keluarga. Dia merasa heran kenapa bu Riana dan pak Hendra masih berada disana
Padahal hari sudah sore. Bukankah kampung mereka jauh dan menepuh waktu 2 jam dari tempatnya, pikirnya dengan bingung
“Dek, papa mau ngomong serius sama kamu. Sini duduk dulu” Ratu menatap ayahnya dengan mimik serius
__ADS_1
“Maksud kedatangan bu Riana dan pak Hendra kesini tuh, sebenarnya mau melamar kamu untuk anak mereka.” Ratu tersentak dengan penuturan sang ayah yang tiba-tiba itu
Matanya spontan melirik kedua tamu orang tuanya itu dengan perasaan yang tak karuan
“Iya nak, kami kesini dengan niat baik untuk melamar nak Ratu untuk anak kami Wahyu.” Sambung bu Riana mengelus lengan Ratu yang duduk di antara bu Riana dan sang ibu
Merasa bingung dengan keadaan yang tiba-tiba tersebut, Ratu tak bisa berkata apa-apa.
Dia hanya bingung harus menanggapi apa. Bibirnya terkunci dengan rapat. Lidanya terasa kelu
Mengertipun belum dengan yang terjadi saat ini. Dia kembali tersentak dengan bisikan sang ibu untuk percaya pada pilihan orang tuanya untuknya
Mendapati diamnya Ratu, ibunya mengelus kepalanya dengan lembut.
“Kami sudah memikirkan ini jauh sebelumnya. Mama sama papa memilihkan jodoh buat anak-anak mama sama papa tentu sudah dengan berbagai pertimbangan yang matang."
"Seperti kakak kamu dulu, kamu juga sudah kami siapkan jodoh yang kami yakini baik untuk kamu.” Lanjut sang ibu
Ratu menundukkan kepalanya ke lantai. Terlihat dia menarik nafas dan menghebuskannya pelan
“Bagaimana nak? “ Tanya pak Hendra dengan lembut
Semua mata tertuju pada Ratu, menunggu tanggapan dari semua yang mereka utarakan kepadanya.
__ADS_1
Ratu menatap mereka satu persatu.
Sekilas terlintas bayangan kejadian penghinaan dari bu Meysa, ibu dari laki-laki yang berniat menjadikannya seorang istri itu, membuat dia memejamkan matanya.
Diamnya Ratu membuat semua yang berada di tempat itu menjadi pesimis.
Tak bisa lagi berfikir jerni, Ratu akhirnya mengangguk pelan dengan menundukan kepalanya
Semua yang menyaksikan itu langsung berucap syukur dan tersenyum. Tak terkecuali Mirza yang sejak tadi mendengar percakapan mereka dari ruang depan. Dia sengaja tak langsung bergabung
Mirza sang kakak percaya lelaki pilihan orang tuanya adalah lelaki baik. seperti halnya dia dulu, menikah karena di jodohkan dengan wanita soleha pilihan orang tuanya. Dia menemui kebahagiaan lahir batin.
Terlebih Mirza juga sudah mengenal sahabat orang tuanya itu sejak lama, sejak dia masih tinggal di pesantren dimana orang tua Wahyu itu berada.
Wahyu adalah cucu dari kyai pemilik salah satu pendopo yang kini berada di Surabaya.
Disanalah Mirza mondok selama 3 tahun, sehingga dia percaya adiknya aman bersuamikan pilihan orang tuanya itu.
***
Keesokan harinya, tepatnya pukul 08 pagi, Ratu sudah berada di ruang kerjanya di café miliknya.
Café yang sudah di rintis sejak ia masih duduk di bangku kuliah hingga ia lulus belum setahun ini.
__ADS_1
Tepat hari ini dia berulang tahun yang ke-22 tahun