Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan

Bukan Tentang Cinta Tapi Tentang Penerimaan
Tak Sebesar Itu Sabarku


__ADS_3

Keduanya memang bukan penganut pacaran. Terlebih Ratu yang memang pernah belajar di pesantren meski hanya di saat hari libur sekolah.


Selain menuntut ilmu, Ratu berniat memanfaatkan hari liburnya di setiap sabtu minggu, bahkan di libur smester sekolah untuk hal-hal yang bermanfaat untuk akhiratnya.


“Assalamualikum tante.” Sapa Ratu dengan ramah


“Waalaikumsalam. Raka mama langsung aja, karna mama ada acara sore ini.” ucap bu Meysa ibunya Raka menatap Ratu dengan pandangan tidak suka


“Raka, kamu tau kalau mama sudah lama mengenal bu Retno." Sinis ibunya pada sang anak


"Bahkan sudah seperti keluarga sendiri Raka. Dan kamu jangan pura-pura lupa Raka kalau kamu ini sebentar lagi bakal jadi menantunya.” Tekan bu Meysa penuh emosi pada anaknya


“Raka tau ma. Maka itu Raka mau mengenalkan Ratu sama mama hari ini. Raka mau mama kenal Ratu dulu sebelum mama ngambil keputusan menjodohkan Raka dengan Susan. Tolonglah ma.” Pintah Raka dengan wajah memelas putus asa


Ratu yang sejak tadi memperhatikan keduanya hanya bisa diam.


Dia menahan diri untuk tidak mengeluarkan sepata katapun karena merasa ibu anak itu tidak menyinggung soal dirinya terlalu dalam.


“Wanita seperti ini yang mau kamu kenalkan ke mama?” tunjuk bu Meysa pada Ratu dengan sorot mata tajam ke arah keduanya bergantian


“Wanita yang seperti apa maksud anda nyonya?” Akhirnya Ratu merasa terusik oleh ucapan bu Meysa

__ADS_1


“Maaf sebelumnya. Saya kesini karena di undang oleh anak anda."


"Dan saya tidak bermaksud untuk mengajak anak anda untuk berdebat dengan ibunya, apalagi di depan saya sendiri.” Ucap Ratu dengan lugas


“Dan kecilkan suara anda nyonya, kita berada di tempat umum. Apa anda tidak malu menjadi tontonan orang?”


Tangan bu Meysa mengepal mendengar ucapan Ratu


“Saya paham akan maksud anda. Dan saya tidak perna tau soal perjodohan yang anda katakana tadi."


"Kalau saya tau, sudah pasti saya akan menolak pertemuan ini.” ucapnya menatap bu Meysa dan Raka secara bergantian


“Raka, hormati ibumu meski kamu merasa hakmu sebagai anak tidak di dengar, meski kamu tidak bisa menemukan kebahagiaan kamu sendiri, kamu harus tetap menghormati ibumu.”


“Entah wanita seperti apa aku di mata ibumu yang tidak tau menau soal siapa aku."


Raka tersenyum kecut mendegar ucapan Ratu. Merasa malu sudah tentu dia rasakan saat ini


Ekor matanya melirik sang ibu yang terlihat syok dengan penuturan wanita pujaan hatinya itu.


“Saya permisi dulu, masih ada urusan di kantor. Terima kasih undangan makan siangnya. Assalamualaikum.” Pamit Ratu kemudian

__ADS_1


“Ratu, maafkan mama. Mama hanya belum mengenal kamu. Aku mohon.” Cegah Raka menghentikan langka Ratu


“Raka.. Wanita ini tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan Susan Raka. Coba lihat dengan benar, tidak punya sopan santun sama orang tua.” Ucap ibunya dengan tatapan mengejek


Ratu tidak berniat menjawab lagi karena menghormati bu Meysa yang kini menjadi tontonan penghuni café, bahkan banyak yang saling berbisik.


Hingga Ratu melanjutkan langkanya keluar meninggalkan tempat itu menuju mobilnya dan langsung meninggalkan tempat itu.


Flashback Off


“Ternyata hatiku tak seluas itu ya Allah. Tak sebesar itu sabarku. Ternyata masih sakit rasanya meski ucapan wanita itu sudah ku coba untuk ikhlaskan. Besarkan lagi ya Allah sabarku, luaskan lagi hatiku untuk menerima setiap masalah yang datang, dengan Ridho-Mu ya Rabb..”


Dengan linangan air mata Ratu terus bermunajat pada sang pencipta.


Berharap tetap berada dalam keistiqomahannya.


***


Pukul 07 pagi, Ratu yang sudah di tunggu oleh kedua orang tua dan kakaknya untuk sarapan belum juga turun dari kamarnya.


Hingga akhirnya sang kakak berniat naik ke lantai dua untuk memanggil sang adik

__ADS_1


“Dek, di tungguin sarapan kok lama sekali?” Tegur sang kakak saat mereka bertemu di anak tangga


__ADS_2