Bumi Dan Bintang

Bumi Dan Bintang
Bab 1


__ADS_3

"Gue Bintang, lo berani usik kehidupan gue? Hmm, siap-siap, lo bakal ketemu dewa kematian dalam hitungan detik."


★★★


Sebuah meja kantin digebrak cukup kasar, pelakunya adalah Bintang, seorang anak kelas 12 IPS 1 yang hampir ditakuti seluruh siswa SMA Antariksa. Matanya melotot merah dengan gigi menggertak seakan hendak memangsa lawannya. Tanpa basa-basi, Bintang langsung berteriak.


"Woi, titisan dewa kematian, makhluk astral yang datang gak pernah diundang!" Gadis itu berdecih. "Kek jelangkung aja lo! Di mana kunci motor gue?!"


Bumi Bagaskara, yang tak lain menjadi pusat utama terjadinya perdebatan ini, tetap berada pada posisinya dan bertingkah sebiasa mungkin. Sedangkan teman-temannya yang terkejut, langsung menyemprot gadis itu kembali.


"Weh ... santai dong, Nek Lampir yang gak punya attitude!" celetuk Raja, kesal. Habisnya, gadis yang bernama lengkap Bintang Aurora ini, tidak pernah memiliki sopan santun dan tata krama dalam berbicara. Selalu ngegas dan berteriak seenaknya. Sudah seperti binatang buas saja, pikirnya.


Bintang yang mendengar itu langsung menatap tajam ke arah Raja. Seakan ada percikan api yang memancar dari bola matanya. "Apa lo?! Berani ngatain gue? Hah! Sini, gue hajar lo sampai ke akar-akarnya."


Raja menelan saliva dengan susah payah. Sepertinya, Bintang memang binatang buas. Liar. "Habis dong gua?" ucapnya dalam hati.


Bumi melirik gadis tersebut, lalu berkata, "Bintang, bisa nggak--"


"Nggak! Gue gak bisa! Cepet balikin!" Belum sempat Bumi menyelesaikan ucapannya, Bintang dengan sigap memotong pembicaraan.


"Bintang, gue belum selesai." Bumi menatap gadis itu lekat. Sangat dalam.


Bintang menautkan kedua alisnya, tatapan Bumi beda. Detik berikutnya, ia berdecak. "Gue gak peduli, mau lo ngomong sampai berbuih pun, gue gak bakal peduli. Gue cuma mau kunci motor gue! Mana? Sini, gue mau pergi!"


Bumi berdiri dari tempat duduk dan menatap gadis itu cukup intens. "Lo mau ke mana?"


Bintang yang mendengar pertanyaan itu, langsung terkekeh dan membalas tatapan Bumi lebih tajam lagi. "Sejak kapan lo peduli sama gue?! Ini bukan urusan lo!"

__ADS_1


Bumi menatap sekitar mereka dan benar saja, kini mereka menjadi tontonan para siswa. Bumi menghela napas kesal dan langsung mengambil kunci motor milik Bintang di dalam saku celananya. Namun, setelah besusah payah menggeledah semua saku celana beserta baju, ia tetap tidak menemukannya sama sekali. Hal itu malah membuat Bintang semakin kesal. Ia sudah tidak ada waktu untuk berlama-lama.


"Mana kuncinya?" Bintang semakin curiga melihat ekspresi Bumi yang tampak kehilangan. "Jangan bilang---" Bintang menggantungkan ucapannya.


Bumi pun menatap gadis itu cukup lama, lalu mengangkat kedua tangannya. "Hilang."


Mata Bintang membulat sempurna, seakan api berkobar di dalamnya. Petir menggelegar siap menyambar siapa saja. Seluruh penghuni kantin langsung berlari menuju kelas masing-masing, tidak mau menjadi santapan seorang Bintang Aurora.


"Buuumiiii!" Teriakan yang mampu membuat gendang telinga siapa pun pecah. Sekencang mungkin, mereka menutup telinga dengan kedua tangan, jika tidak, sesuatu akan terjadi pada telinga mereka. Tuli secara mendadak.


Begitulah seorang Bintang Aurora, bisa dibilang wanita tangguh, tegar dan perkasa. Bukan badannya yang berotot, bukan juga wajahnya yang kokoh, tapi perilakunya yang melebihi seorang lelaki. Ia berani, hebat dalam beladiri dan tidak pernah takut akan rintangan yang akan ia hadapi. Semua bisa ia taklukkan dengan modal percaya diri dan bersungguh-sungguh. Sekalipun, belum ada kegagalan dalam dirinya, kecuali satu. Ia tidak memiliki kedua orang tua lagi, padahal ia belum sempat membahagiakan mereka, malah sebaliknya ... Bintang selalu mengecewakan ayahnya karena sikap dan perilakunya.


***


Waktunya pulang bagi SMA Antariksa. Bintang masih saja marah dan tidak mau menatap lelaki yang bernama Bumi itu. Bahkan, tatapannya tajam dan dingin seakan berkata, 'kau akan mati habis ini!'


"Bi, jadi, kan, nanti malem." Dia Surya, sahabat dekat Bintang.


"Nanti gue kabari. Siapin aja dulu, kalau ada perubahan lo tanya Senja. Dia yang gantiin gue."


Bintang yakin, nanti malam pasti Om Bagaskara ada di rumah, secara ia harus dipantau hampir selama 24 jam. Bintang akan kesulitan untuk pergi bersama teman-temannya saat malam. Hal itu, semakin membuatnya jauh dari kehidupannya sehari-hari. Balapan, bar, party dan kegiatan menyenangkan lainnya. Termasuk, tawuran.


"Okelah, gue paham kondisi lo sekarang, Bi. Asalkan, lo gak lupa sama kita-kita." Bintang langsung meninju perut Surya cukup keras hingga membuatnya meringis. Ia tersenyum tipis.


"Lo jaga omongan gue. Selagi gue masih hidup di dunia ini, gak akan ada yang bisa merubah persahabatan kita. Camkan itu!"


Bintang kemudian melengos pergi menuju parkiran, di sana Bumi sudah berada di atas motor dengan helm full facenya. Bintang memutar bola matanya malas, kalau bukan karena Om Bagas, sudah dia sikat lelaki sok tampan ini. Yah, seharusnya ia tidak mau berurusan dengan siapapun lagi. Tapi, ini semua amanah dari sang almarhum, mau tidak mau ia harus ikut dan terjebak di keluarga yang menurutnya terlalu mengatur kehidupan. Padahal, tinggal dijalani dan hidup bebas, itu lebih menyenangkan, pikirnya.

__ADS_1


Bumi menatap Bintang dari atas sampai bawah. Ia tahu, gadis di depannya ini, belum bisa memaafkan dirinya. Yah, lagian ia lupa meminta maaf. Mau bagaimana lagi, ia juga tidak sengaja menghilangkan kuncinya. "Udah, kan ada serepnya."


Bumi mencoba untuk mengembalikan mood Bintang. Kini, gadis itu benar-benar tampak kesal dan selalu cemberut saat melihat Bumi. Bagaimanapun kerasnya seorang Bintang, ia tetaplah seorang wanita yang kodratnya punya fisik yang lemah dan kelembutan hati yang jarang dimiliki laki-laki. Bagi Bumi, Bintang adalah wanita paling langka yang pernah ia temui.


Bintang tetap diam dan selalu memalingkan wajahnya. Bumi menghela napas panjang dan mengambil helm milik Bintang yang tergantung di spion motornya.


"Pulang bareng gue."


Bintang melotot dan langsung menolaknya mentah-mentah. "Gak!" tolaknya dengan judes. "Daripada gue dibonceng sama nih hantu, lebih baik gue jalan kaki. Bodo!" ucapnya dalam hati.


Bumi langsung memakaikan helm ke kepala Bintang. Tentu saja, gadis itu tidak akan tinggal diam dan langsung meronta-ronta dan tanpa sadar meninju perut Bumi cukup keras.


Bug!


"Akh!"


Bumi memegangi perutnya yang nyeri. "Gila lo?!" umpatnya, kesal. Rasa sakit di perutnya bukan main-main. Tinjauan Bintang hampir sama dengan lelaki. Bisa-bisa lambungnya pecah dibuat gadis ini.


Bintang malah menaikkan sebelah alisnya dengan menyunggingkan bibir. "Lo pikir, gue bakal luluh dengan tindakan murahan lo itu?! Dasar playboy kelas teri."


Bumi menautkan kedua alisnya, bingung. Detik berikutnya, ia langsung terkekeh setelah mengerti akan maksud Bintang. "Lo kira gue modus? Gue disuruh bawa lo pulang cepat ke rumah, bokap gue mau ngajak lo ke mall."


Bintang masih tidak percaya dan tetap bersikeras dengan opininya. "Gue gak mau!"


"Oh, ya udah. Gue tinggal bilang ke Papah." Bumi langsung mengambil ponsel di dalam almamater dan menekan tombol panggilan. Secepat mungkin Bintang merampas ponsel milik lelaki tersebut. Namun telat, ternyata panggilan tersebut sudah tersambung.


#Bersambung ...

__ADS_1


Hayo, kira-kira apa yang akan terjadi dengan Bintang. Terus ikuti cerita ini dan nantikan keseruan selanjutnya.


__ADS_2