
Seluruh penonton berteriak histeris mendengar suara tembakan tersebut. Begitupun dengan Bintang yang terjatuh dan terseret dari jalanan karena kaget akibat tembakan terdengar menggelegar di telinganya. Ia langsung membenarkan tubuhnya dan melihat korban yang tertembak. Spontan matanya membulat sempurna, lelaki itu masih berdiri dan memegangi perutnya yang terasa nyeri. Darah segar mulai bercucuran melewati bibir dan area yang tertembak. Lelaki itu tersenyum lebar ke arah Bintang dan kemudian tumbang.
"Buumiiii!" teriak Bintang sekuat tenaga dan berlari menghampiri lelaki tersebut.
Benar! Bumi lah yang tertembak, bukan Bintang. Lelaki yang tidak diketahui identitasnya, menembak tepat ke arah Bumi, ia memang sengaja mengecoh lelaki itu agar berlari ke arah Bintang, sehingga cukup mudah baginya untuk membidik sasaran. Siapa sangka, Bumi yang mengira Bintang akan ditembak ternyata dia adalah sasaran utamanya.
Bintang langsung memangku Bumi dan berusaha membangunkannya. Tanpa sadar, ia meneteskan air mata, dadanya berdesir hebat. "Panggil ambulance cepat!" Surya langsung bertindak cepat dan menelpon ambulance beserta polisi untuk menangkap pelaku yang kini telah melarikan diri. Sedangkan Senja, ia terduduk lemas dengan tatapan kosong mengarah pada Bumi yang sudah berlumuran darah. Bibirnya bergetar.
Bintang berusaha menutup luka tembakan yang berada di perut pria tersebut. Memompa dadanya agar detak jantungnya tidak berhenti. Ia yakin, Bumi masih bisa diselamatkan. Bumi kemudian sadar dan terbatuk hingga keluar darah dari bibirnya. Ia melihat Bintang yang sedang terisak melihat kondisinya.
"Kenapa lo nangis? Gue bakal mati?" Bintang menggeleng dan langsung mengusap air matanya.
"Lo gak akan mati. Gue juga gak nangis." Bumi memejamkan matanya, rasa sakit itu mulai menjalar ke seluruh tubuh. Sesak. Ia sulit untuk bernapas.
Ambulance pun datang dan bergerak cepat membawa Bumi ke rumah sakit. Memasangkan oksigen untuk membantunya bernapas. Seluruh penonton tadi langsung bubar begitupun Green dan anggotanya. Setelah kejadian penembakan itu, lelaki itu langsung pergi diikuti teman-temannya. Sedangkan Senja, ia memaksa untuk ikut bersama Bumi ke rumah sakit.
Surya tidak mau ikut campur dan memilih untuk pulang ke rumahnya. Ia akan mencari tahu dalang dibalik kejadian ini. Tidak mungkin, pelaku salah sasaran, ini sudah direncanakan. Ia yakin, Green dan anggotanya pasti ada hubungannya. Sekarang, batang hidungnya pun tidak kelihatan. Dasar pengecut!
***
"Gue, Surya. Gue cuma mau bilang! Lo boleh, cinta sama siapapun. It't okey, no problem. Tapi, lo ingat satu hal, lo gak berhak untuk memaksa orang lain mencintai lo."
★★★
__ADS_1
Kejadian hari itu cukup membuat siapapun trauma, Bagaskara yang mendengar anaknya tertembak langsung menunda proyek yang sedang ia urus di luar kota. Bik Ani ikut terpukul dan merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Bumi, ia merasa tidak amanah untuk menjaga anak majikannya. Padahal, selama ia bekerja di sana, baru kali ini kejadian buruk menimpa keluarga Bagaskara. Bik Ani pun merasa tidak pantas lagi bekerja di sana, kemudian mengundurkan diri dengan selembar kertas yang ia tinggalkan di ruang tamu. Perucapan maaf yang sebesar-besarnya ia tulis dengan tulus, ia harap tuannya memaafkan dirinya.
Bintang juga sangat merasa bersalah, sebab dirinya Bumi tertembak dan sekarang sedang mengalami koma. Entah kapan Bumi bisa membuka mata, ia harap tidak akan terjadi apa-apa pada lelaki itu. Bintang yakin, Bumi adalah lelaki kuat dan secepatnya pasti akan sembuh dan kembali seperti semula. Ia tidak mau, melihat Om Bagaskara menangis terus, badannya terlihat semakin kurus karena jarang makan. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit daripada di rumah ataupun kantor. Matanya menghitam karena jarang tidur. Ia tampak menyedihkan.
"Om, Bintang aja yang jagain Bumi. Om Bagas pulang, dari kemarin Om gak tidur, loh. Kasian Bumi, nanti kalo udah siuman, terus liat Om dalam keadaan kayak gini, pasti Bumi sedih."
Bagaskara terdiam sejenak dan menatap Bumi lekat. Benar perkataan Bintang, ia tidak boleh sakit dan harus kuat. Bumi pasti sembuh. "Baiklah, nanti kalo ada apa-apa, hubungi, Om."
Bintang tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian, Bagaskara pergi meninggalkan ruangan yang sepi itu. Bintang pun duduk di samping Bumi yang terkapar lemah tak berdaya, pipinya mulai terlihat tirus. Tangannya yang diinfus dengan alat bantu pernapasan yang tidak pernah terlepas dari hidungnya. Bintang tersenyum getir ketika kejadian malam itu terlintas kembali. Bumi yang berteriak kencang untuk menyuruhnya minggir, tapi malah dirinya yang tertembak. Apa ini? Kenapa harus Bumi, dia gak bersalah. Aku yang salah, pikiran Bintang berkecamuk.
Bintang meraih tangan Bumi dan menggenggamnya erat, matanya mulai berkaca-kaca kembali. Ia juga heran kenapa dirinya bisa terpuruk saat melihat Bumi dalam kondisi seperti ini. Mungkin, karena merasa bersalah yang berlebihan hingga membuatnya sedih dan terus meneteskan air mata. Sudah seminggu, Bumi belum juga sadarkan diri. Kata dokter, ia masih dalam masa penyembuhan. Akan tetapi, bisa saja Bumi kritis karena tubuhnya yang tidak menerima obat-obatan yang diberikan mereka. Itu bisa saja terjadi kapanpun.
Akan tetapi, Bintang selalu berdoa agar Bumi bisa cepat melewati masa penyembuhannya. Entah kenapa, hidupnya kosong. Ia rindu pertengkaran mereka. Hingga tidak sadar, Bintang tertidur sambil menggenggam tangan Bumi.
***
Surya ikut pergi bersama Senja, karena ia dapat informasi tentang latar belakang Green. Bisa jadi, mereka adalah dalang dibalik kejadian itu. Bintang pasti mudah melacak bos besar mereka. Ia akan mengungkap semua permasalahan yang terjadi.
"Gimana keadaan lo?" tanya Surya ketika mereka sedang berjalan menuju ruangan Bumi.
Senja tersenyum. Ia bangga mempunyai sahabat yang selalu perduli dengan keadaannya. Tidak perlu pintar asalkan dapat dipercaya, tidak perlu tampan asalkan setia, tidak perlu berwibawa asalkan dapat diandalkan. "Sur, cewek yang bakal dapetin lo nanti pasti bahagia."
Surya terdiam dan mengerutkan kening. "Maksud lo?"
__ADS_1
Senja terkekeh melihat tingkah polos sang Surya. Lelaki yang di matanya selalu memprioritaskan kesenangan orang lain daripada dirinya sendiri.
"Yah, lagian, lo selalu perduli dengan gue. Nanti gue baper, lo mau tanggung jawab?"
Wajah Surya memerah dan langsung menghentikan langkahnya. Senja ikut berhenti karena heran. "Kenapa?" tanya gadis itu tidak paham kenapa lelaki itu berhenti.
"Senja, gue bakal tanggungjawab. Lo mau?"
Mendengar kejujuran dari mulut Surya, Senja langsung tertawa terbahak-bahak. Ia yakin, laki-laki itu tidak serius. "Lo bisa aja bercandanya. Btw, makasih. Udah bikin gue senyum dan ketawa lepas kayak gini."
Surya tersenyum paksa dan menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Ia sedikit kecewa. Entah apa yang membuatnya spontan berbicara seperti itu. Intinya, ia nyaman dengan gadis yang bernama lengkap Asmara Senja.
Akhirnya, mereka sampai di depan pintu ruangan Bumi. Perlahan pintu dibuka tanpa menimbulkan suara, takut papa Bumi terganggu. Pasti, sedang kelelahan menjaga putra satu-satunya.
Bumi mengusap lembut kepala gadis yang sedang tertidur sambil menggenggam tangannya. Cukup erat, hingga terasa kebas. Tapi, lelaki itu tidak mau membangunkannya. Pasti, Bintang lelah menjaganya setiap hari. Mau sekeras apapun watak seorang Bintang, sudah Bumi katakan, ia itu seorang wanita, pasti punya sisi kelembutan.
"Bumi, lo udah sadar!" Senja tiba-tiba berteriak ketika melihat Bumi sudah siuman. Suaranya yang melengking berhasil membuat lelaki itu terkejut dan langsung menarik tangannya dari kepala Bintang.
"Ah, jantungku," keluh Bumi dalam hati sambil mengelus dadanya.
#Bersambung
waduh, sepertinya Bumi udah sadar. Hayo gimana kelanjutannya.
__ADS_1