
Setelah menyelesaikan makan malam, akhirnya mereka lanjut untuk pergi belanja kebutuhan, seperti sayur, buah dan lain sebagainya. Termasuk, belanja baju untuk Bintang dan Bumi.
"Om, ini serius, baju couple? Kami gak mungkin--"
"Udah-udah, beli satu aja. Kan, gemesin. Kayak kakak beradik."
Bagaskara akhirnya memilihkan baju untuk mereka berdua. Mau tidak mau, mereka hanya bisa menurut dan diam saja tanpa ada penolakan.
"Halo, Pak? Ada yang bisa kami bantu?" tanya pegawai yang berada di toko itu.
"Ah, ini tolong carikan baju couple yang bagus untuk anak-anak saya. Pokoknya, keluarkan semua yang paling bagus, mahal dan cocok untuk pergi ke acara-acara."
"Oke, baik, Pak. Mbak, Mas, mari ikut saya."
"Nah, selagi kalian pilih baju, Papa mau angkat telpon dulu. Kayaknya dari kantor, takut penting."
Mereka berdua hanya mengangguk pasrah dan mulai mengikuti pegawai tersebut masuk ke dalam ruangan. Terdapat banyak baju yang sangat terbuka dan bukanlah stile untuk seorang Bintang. Bisa-bisa belum sempat ia memakainya, mungkin otot-otot ditubuhnya sudah dulu mencabik gaun tersebut.
"Silahkan, Mbak, Mas, dipilih yang cocok, bisa dicoba dulu. Di sana, ruang gantinya." Bintang hanya tersenyum penuh penekanan. Sedangkan Bumi, habis-habisan menahan tawa. Ia tahu, Bintang tidak suka dengan model yang ada di toko itu.
"Gue bilang ke Papah aja, gak usah." Bintang langsung menyodorkan jari telunjuk tepat di bibir Bumi.
"Gue mau."
Bumi hanya memutar bola matanya. Terserah saja, pikirnya. Akhirnya, mereka pun lanjut memilih baju yang cocok dan serasi untuk keduanya. Bintang suka, tapi apa ia cocok memakai baju yang seperti itu. Seumur hidup, ia cuma punya satu gaun, saat ia berumur 5 tahun. Itu pun, tidak berlangsung lama, beberapa menit setelah memakainya, Bintang langsung mencopot dan menggantinya dengan kaos biasa beserta celana kebanggaannya.
"Ini, baju kekurangan bahan atau gimana, sih. Kalau gue pake, nampak dong punggung gue. Jelas ini terbuka banget," gumam Bintang pelan, namun terdengar di telinga Bumi. Ia pun terkekeh dan langsung membisikkan sesuatu di telinga Bintang.
"Gue suka gaun terbuka, mau coba? Biar gue yang nilai lo cocok atau enggak." Bintang langsung melotot dan menggerakkan sikutnya untuk memukul pria tidak waras itu.
"Dasar mes*m!"
Bumi hanya terkekeh. Senang sekali menggoda Bintang yang suka emosian.
"Mbak, gak ada yang modelan kulit ya, yang tertutup gitu, kayak hoodie gue." Bukannya dicarikan, pelayan tersebut malah tertawa terbahak-bahak. Begitupun dengan Bumi yang tidak habis pikir dengan Bintang. Gadis itu hanya cengengesan, malu sendiri jadinya. Habisnya, ia tidak biasa pakai yang feminim seperti itu.
__ADS_1
"Coba saja dulu, Mbak."
Dikarenakan tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau, Bintang harus mencobanya. "Oke, deh."
Akhirnya, Bintang pun mulai mencoba gaun satu persatu di ruang ganti. Sedangkan Bumi, bermain ponsel sambil menunggu Bintang menyelesaikan dress pilihannya. Kalau untuk dirinya gampang, ia hanya mengikuti baju yang dipilih oleh wanitanya. Lagian baju di toko ini memang oke-oke. Tidak ada kekurangan sedikitpun.
Saat Bumi asik bermain ponsel, tiba-tiba ponsel Bintang berdering, tanda panggilan masuk. Awalnya, Bumi tidak peduli. Namun, lama kelamaan panggilan tersebut tidak berhenti juga, membuat dirinya terganggu karena sedang bermain game. Bumi pun mengecek panggilan tersebut dan mengangkatnya.
"Halo, Bi. Gue mohon lo datang besok malam. Green bakal nyerang markas kita dengan sekelompok anggotanya. Kita bakal tawuran kalo lo gak balapan lawan dia."
Bumi terdiam. Sepertinya Bintang bakal kena masalah. Apa yang harus ia lakukan.
"Halo? Bi, lo denger gue, 'kan? Kita dalam masalah sekarang, ayolah, jawab."
"Bumii!"
Prak!
Bumi terpelonjat kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan ponsel Bintang hingga retak. Bumi menatap gadis itu yang kini tengah diamuk massa. Bagaimana ini? Padahal penampilan Bintang sangatlah anggun dengan drees yang ia kenakan. Akan tetapi, bagaimana mau memujinya jika suasananya begini.
Satu tamparan mendarat keras di pipi Bumi, begitu kuat hingga membuatnya merasakan perih yang amat dalam. Seluruh staf toko langsung mengambil tindakan agar tidak terjadi masalah yang lebih besar lagi. Jangan sampai ada kegaduhan yang membuat mereka menjadi rugi.
"Bumi! Sejak kapan lo lancang dengan kehidupan gue?!"
Bumi terdiam, seharusnya ia tidak mengangkat panggilan itu tadi. Entah kenapa, ia bergerak sendiri dan tanpa berpikir panjang.
"Suruh siapa ponselnya ditinggal. Berisik, makanya gue angkat!" Bumi menjawab seadanya. Memang itu yang terjadi.
"Udah-udah, Mas, Mbak, tolong hormati kami. Jangan sampai kami memanggil security untuk memaksa kalian pergi. Jika tidak ada keperluan lagi. Silahkan ke luar!"
Bintang berdecak, ia benar-benar marah. Bisa-bisanya Bumi dengan seenaknya mengangkat teleponnya tanpa izin. Bintang mengambil ponselnya yang kini layarnya tengah retak. Setelah itu, ia pun langsung melengos pergi.
Bumi memicit keningnya, rasanya mau pecah kalau bertengkar dengan Bintang terus. "Mbak, saya minta maaf atas kejadian ini. Kalau begitu, saya pilih yang dipakai Bintang tadi. Ini kartu saya."
"Baiklah."
__ADS_1
Di sisi lain, Bagaskara telah menyelesaikan teleponnya dan kembali ke toko dress dimana anaknya berada. Ketika hendak masuk, ia bertemu dengan Bintang, tapi raut wajahnya seperti sedang kesal. Apa Bumi pelaku yang membuat Bintang bad mood. Dasar! Lelaki macam apa dia. Tidak bisa membuat seorang wanita nyaman, pikirnya.
"Bintang? Ada apa? Di mana Bumi?"
Bintang langsung mengubah mimik wajahnya, ia takut Bagaskara akan khawatir.
"Gapapa, Om."
Bagaskara yakin, ini pasti ada apa-apanya. Tidak mungkin, Bintang ke luar dari tokoh sendirian. Tanpa sengaja, Bagaskara melihat ponsel yang digenggam oleh Bintang, tampaknya retak parah. Ia pun akhirnya paham, Bumi memang selalu cari masalah. Awas saja anak itu!
"Bi, tunggu di sini.Om mau beli sesuatu." Bintang mengerutkan dahi. "Gak lama, kok," lanjut Bagaskara dan langsung berlari pergi meninggalkan Bintang.
Bintang menghela napas panjang, rasanya capek sekali. Padahal, ia tidak ada melakukan hal-hal yang berat seharian. Kepalanya pusing, mungkin karena efek kehujanan tadi siang. Ah, rasanya Bintang ingin pulang secepatnya. Ia tidak mau sakit dan merepotkan Om Bagas.
Bumi datang membawa tas yang berisikan baju Bintang dan juga dirinya. Bagaimana tidak, Bintang meninggalkan pakaiannya di dalam ruang ganti. Wanita ini benar-benar merepotkan. Ia tatap gadis itu cukup lama, sepertinya ia benar-benar membuat Bintang kesal. Ah, kenapa menambah masalah sih, Bumi, pikirnya menyalahkan diri sendiri
"Bi, Papah belum dateng?" Bintang diam, enggan menjawab pertanyaan dari lelaki tersebut.
Bumi hanya menghela napas. "Bi, gue--"
Belum sempat Bumi menyelesaikan ucapannya, Bagaskara datang dengan membawa satu paper back bewarna silver. Bintang terkejut saat Bagaskara menyodorkan tas itu padanya.
Tentu saja Bintang kebingungan.
"Apa ini, Om?" Bagaskara hanya tersenyum dan menyuruh Bintang mengeceknya sendiri.
Dikarenakan penasaran dengan isi dari paper back tersebut, akhirnya Bintang membukanya. Cukup mengejutkan, ternyata isinya adalah ponsel baru. Tentu saja Bintang langsung mengembalikan ponsel itu pada Bagaskara, ia tidak mau merepotkan apalagi sampai dibelikan barang seperti itu.
"Anggap aja ini menebus kesalahan anak, Om. Lagian, kamu pasti butuh HP, gimana nanti Om mau hubungi kamu kalau kamu gak pegang HP?" Bagaskara meyakinkan gadis itu. Akhirnya, mau tidak mau Bintang menerima pemberian dari papahnya Bumi.
"Makasih, Om." Bagaskara tersenyum lebar sambil mengelus kepala gadis itu dengan lembut. Bumi hanya mengulum senyumnya. Syukurlah, kalau Bintang tidak semarah tadi.
#Bersambung
Bumi ini ada-ada saja. Udah tau, Bintang esmosian, haha. Suka jahil.
__ADS_1