
Bumi semakin senang dengan suasana ini. Bagaimana ia akan melewatkan kesempatan untuk membuat seorang Bintang takut. "Lo harus diberi pelajaran!" ungkapnya dengan senyum menyeringai.
Bumi mendekatkan wajahnya membuat Bintang melotot dan langsung menutup matanya. Bumi yang melihat itu langsung tertawa terbahak-bahak dan melepaskan cekalannya. Bagaimanapun, ia tidak tahan melihat ekspresi gadis itu.
Bintang yang merasa dipermainkan langsung menendang perut lelaki itu hingga membuatnya terjerit. Bintang lupa, luka tembakannya belum sembuh. Gadis itu berlari menghampiri Bumi yang tengah meringkuk kesakitan.
"Akhh! Sakit!" Bumi memejamkan mata. Sakitnya memang luar biasa. Bintang benar-benar tidak waras. Apa dia ingin membunuhnya. Dasar gadis gila!
"Bumi, lo gapapa? Sorry, gue lupa perut lo."
Bumi tidak menggubris dan hanya memegangi perutnya yang masih sakit. Bintang semakin panik dan langsung mengambil handphone-nya. Ia akan menelpon ambulance. Takut terjadi apa-apa dengan perut Bumi.
"Lo mau ngapain?" tanya Bumi, lirih.
"Telpon ambulance lah, lo pikir gue bakal diem aja liat lo kesakitan?!" Bumi langsung merampas ponsel Bintang dan menatap gadis itu.
"Gak usah! Gue gak butuh. Sekarang, lo bantu gue ke kamar. Gue mau minum obat penghilang nyeri!" Tanpa berpikir panjang, Bintang langsung merangkul lelaki itu untuk membantunya ke kamar.
Setelah sampai, gadis itu langsung mengambilkan obat beserta minum. Ia merasa bersalah sekali jika terjadi sesuatu dengan Bumi. Setelah Bumi selesai meminum obatnya, Bintang sedikit lega. Jangan sampai, Bagaskara tahu apa yang terjadi barusan.
"Bumi, gue minta maaf. Gara-gara gue, lo jadi kesakitan gini."
Bumi menatap gadis itu malas. "Udahlah, gue mau tidur!" Bumi memiringkan badannya membelakangi gadis itu. Bisa-bisa, dia mati sebelum ajalnya jika terus-menerus kena tendangan Bintang. Membayangkannya saja sudah mengerikan.
Bintang tidak juga beranjak pergi sebelum Bumi benar-benar memaafkannya. Ia adalah orang yang pantang mundur jika tujuannya belum tercapai. Sampai besok pun ia tidak akan pergi.
Bumi yang merasa risih karena kehadiran seorang wanita di dalam kamar. Alhasil, membuatnya bangun dan terduduk menatap Bintang, kesal.
"Lo pergi atau mau tidur samping gue!"
__ADS_1
Bintang membulatkan mata. Pria ini selalu saja memancing emosinya. Bagaimana tidak, bicaranya saja sudah melantur ke mana-mana. Benar pikirannya kemarin. Otaknya pasti kena tembak. Sedikit gesrek.
Tanpa menjawab pertanyaan Bumi, Bintang langsung pergi dan membanting pintu pria itu. Jujur, ada hasrat ingin membunuh jika bertemu dengan lelaki tersebut. Melihat wajahnya saja, ingin sekali ia cakar-cakar hingga tidak berbentuk.
Setelah Bintang pergi meninggalkan kamar akhirnya Bumi kembali membaringkan tubuhnya. Rasanya lelah sekali setiap hari berdebat dengan Bintang. Ucapannya pun sungguh memalukan. Sejak kapan ia berani menggoda wanita seperti tadi.
Bumi mengembuskan napas panjang lalu mengusap wajahnya dengan tangan. "Bisa gila gue!"
***
Keesokan pagi, matahari sudah mulai menampakkan diri. Ayam tetangga berkokok dengan gagahnya. Para siswa mulai beranjak pergi ke sekolah bersamaan dengan para pekerja yang tersenyum lebar untuk mengais rezeki hari ini.
Bagaskara sudah siap untuk berangkat ke Bandung bersama Bumi dan Bintang. Mereka akan menjemput Bik Ani ke kampung dan membawanya kembali pulang. Tidak ada yang bisa menggantikan Bik Ani di sisi mereka. Ia sudah dianggap keluarga bagi Bagaskara.
"Pah, semua udah siap. Tinggal di masukin ke mobil," ucap Bumi setelah mengangkat satu koper besar berisikan baju dan peralatannya. Mereka juga akan menginap di apartemen untuk berlibur sebentar di sana. Makanya, Bumi membawa baju banyak.
"Bintang mana?" Bumi langsung sadar. Ia tidak melihat Bintang dari tadi. Ke mana gadis itu.
Bumi mengetuk kamar Bintang berkali-kali. "Bintang! Lo di dalem?" Tidak ada jawaban dari gadis itu. "Cepetan, dong. Kita mau berangkat. Lo ikut gak?" lanjut Bumi dan masih belum ada jawaban juga. Bumi jadi kesal sendiri dan mencoba mengetuk lebih keras lagi.
"Woi! Kalo lo gak ke luar! Gue buka, nih!" Masih tetap sama. Tidak ada jawaban. Akhirnya, Bumi berpikir untuk mendobrak pintu itu. Namun, saat hendak mendobraknya bersamaan dengan pintu yang mulai terbuka. Alhasil, Bumi bertabrakan dengan Bintang yang ternyata baru bangun tidur.
Brak!
"Akh!"
Mata mereka bertemu. Bintang terkejut dan langsung mendorong tubuh Bumi darinya. Ia langsung membersihkan tubuhnya dan menatap pria itu tajam.
"Ngapain lo dobrak pintu gue. Pake teriak-teriak lagi, berisik tau!"
__ADS_1
Mendengar itu Bumi langsung berkacak pinggang. Membalas tatapan Bintang dengan tajam pula. "Owh, baru bangun, ya?" Tanpa aba-aba, Bumi langsung berlari dan mengapit kepala Bintang di lengannya yang kekar.
Bintang langsung berteriak dan memberontak minta dilepaskan. "Woi, apa-apaan, sih! Lepasin, gak!"
Bintang memukul tangan Bumi berharap lelaki itu melepaskannya. Namun, lelaki itu tetap kekeuh dan tidak mungkin kalah. Akhirnya, Bintang menggigit tangan kokoh itu hingga membuat Bumi berteriak dan langsung melepaskan Bintang dari kepitan tangannya.
"Gila lo! Kayak hewan aja!" cibir Bumi sambil mengusap lengannya yang sudah memiliki cap gigit dari Bintang.
"Lo yang gila. Ngapain kepit kepala gue!"
"Lo pikun, ya?! Hari ini kita ke Bandung. Noh, Papah udah nungguin lo dari tadi!"
Bintang melotot mendengar ucapan Bumi. Secepat kilat ia berlari ke kamar mandi tanpa memikirkan Bumi yang masih berdiri di kamarnya.
Lelaki itu menatap seisi kamar Bintang. Harum khas Bintang sangat lengket di ruangan itu. Tidak ada satupun boneka tidak seperti wanita lainnya. Buku-buku yang berserakan hingga ke kasur. Bumi mulai mendekati sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja belajar. Itu foto Bintang bersama ayahnya saat kecil. Terlihat lucu dengan rambut dikuncir dua. Mungkin, gadis itu tidak akan mengikat rambut seperti itu lagi.
Bumi berjalan lagi mendekati beberapa foto yang tidak dibingkai, namun ditempel di dinding. Itu foto Bintang saat kecil bersama dengan seorang pria yang sepertinya seumuran dengannya. Bumi memperjelas penglihatannya. Sepertinya, ia tidak asing dengan wajah yang ada di foto itu.
"Dewa?" Bumi rasa anak kecil yang ada di samping Bintang adalah Dewa. Berarti, teman masa kecil Bintang adalah Dewa? Lelaki yang suka menebar pesona dan selalu berprilaku sok ramah kepada semua orang.
Bumi terkejut saat pintu kamar mandi hendak terbuka. Pasti, Bintang sudah selesai mandi. Lelaki itu langsung berlari secepat kilat sebelum Bintang melihatnya. Pintu kamar pun ia tutup tanpa menimbulkan suara.
Setelah berhasil ke luar. Ia menghembuskan napas lega. "Untunglah, Bintang gak liat."
"Mas Bumi ngapain dari dalem?" Bumi terkejut bukan main dan langsung menatap pelaku yang barusan menegur. Ternyata, pembantu barunya melihat ia dari dalam kamar Bintang. Matilah, ia harus jawab apa.
Bumi menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. "Eh, anu ... tadi abis bangunin Bintang, Bik." Bumi menyengir tanpa dosa.
"Kok, jalannya ngendap-ngendap gitu. Bikin curiga aja." Bumi panik dan tidak tahu harus menjawab apa lagi.
__ADS_1
Hingga akhirnya, pintu Bintang terbuka. Gadis itu terlihat bingung. Suara mereka terdengar sampai ke dalam, karena penasaran Bintang pun ke luar untuk mengeceknya. Ternyata Bumi dan Bik Sri, pembantu baru mereka.
"Ada apa, Bik. Kok di depan kamar Bintang? Ada yang mau disampaikan?"