Bumi Dan Bintang

Bumi Dan Bintang
Bab 15


__ADS_3

Bagaskara memandangi wajah Dewa yang seakan pernah ia temui sebelumnya. Sepertinya, wajahnya tidak asing. Tapi, ia lupa di mana mereka bertemu. "Apa pernah, kita bertemu?" Bagaskara menanyakan itu kepada Dewa. Tentu saja, Dewa langsung tersenyum lebar menampilkan sisi ramahnya.


"Om, gak ingat? Saya penerus perusahaan D-Group. Kita pernah bertemu di perjumpaan meeting antar perusahaan dua tahun yang lalu."


Bagaskara langsung ingat, jadi dia adalah anak dari pengusaha D-Group. Algara, lelaki yang selama ini selalu mencari masalah dengan Aries, ayah Bintang. Tentu saja, jika dilihat dari penampilannya, Dewa memang jauh beda dengan Algara. Sifatnya lebih ramah, senyumnya lebih tulus dan perilakunya lebih sopan. Jika dibandingkan ayahnya, sangatlah jauh. Mungkin, Dewa anak baik tidak seperti ayahnya.


"Oh, Om ingat. Kamu dulu masih terlihat kecil. Sekarang udah besar begini. Apa kabar ayahmu?" Bagaskara mempersilahkan Dewa duduk bergabung dengan mereka. Tersisa satu kursi lagi, jadi pas mereka berempat. 


"Papa baik, tapi sekarang sering sakit-sakitan. Makanya, sekarang aku yang gantiin Papa ke Bandung."


Bagaskara menganggukkan kepala mengerti. "Mau pesan?" tawar Bagaskara lagi. Sedangkan, Bumi dan Bintang hanya diam tanpa mempedulikan Dewa. Mereka malas meladeni pria itu.


"Enggak, Om. Udah makan tadi, sebelum ke sini." Bagaskara hanya mengangguk. Kemudian, ia menatap Bumi dan Bintang bergantian. Ada apa dengan kedua anak itu, terlihat tidak suka dengan kehadiran Dewa. Apa mereka bertengkar di sekolah?


"Bintang, kalau makan jangan celemotan begini. Dari kecil gak berubah." Dewa langsung membersihkan sisa makanan yang berada di dekat bibir gadis itu. Bumi yang melihat langsung berdecak. Ia membanting sendok ke piring hingga menimbulkan suara dentingan yang nyaring.


"Bumi, apa-apaan, sih!" Bagaskara terlihat marah. Bumi langsung menyelesaikan makanannya dan beranjak pergi dari sana. Ia malas melihat kedatangan Dewa yang merusak suasana. Membuat moodnya buruk saja.


"Mau ke mana kamu?!" Bumi tidak menggubris papanya yang memanggil. Hal itu, malah membuat Dewa tersenyum penuh kemenangan. Ia suka membuat hubungan Bagaskara dan Bumi merenggang. Itu, akan membuatnya mudah menjauhkan dia dari keluarga, termasuk Bintang.


"Mungkin, Bumi gak suka dengan kehadiran saya, Om." Bagaskara mengerutkan kening mendengar ucapan Dewa. Memangnya, permasalahan anaknya dan Dewa sangat parah. Sampai segitunya Bumi tidak suka.


"Om, Bintang nyusul Bumi aja. Sekalian bawa barang ini ke mobil."


Bagaskara mengangguk dan memberikan kunci mobil kepada Bintang. Dewa menatap kepergian gadis itu dan tersenyum kecil. Misi berjalan lancar. Target yang harus dia ambil hatinya adalah, Bagaskara. Karena jika sudah menyangkut lelaki itu, pasti Bumi dan Bintang akan menurut.


Bumi menendang kaleng minuman sembarang arah. Tanpa disadari, kaleng itu mengenai kepala seseorang. Sontak Bumi membalikkan tubuhnya, jangan sampai orang itu mengetahui perbuatannya.

__ADS_1


"Om, ini pelakunya." Bumi melotot tajam ke arah gadis yang baru saja datang dan memberitahukan perbuatannya. Dia Bintang dengan senyum nakalnya.


"Bintang, lo apa-apaan, sih!" Bumi menggerutu dan langsung mencari tempat persembunyian. Namun, belum sempat ia melangkahkan kaki. Kerah bajunya sudah ditarik oleh orang yang terkena kaleng minuman tadi.


"Mau ke mana lo?!" Bumi membalikkan tubuhnya dengan cengiran tanpa dosa. Matilah!


"Sorry, Mas. Gak sengaja."


Bintang yang melihat itu langsung tertawa terbahak-bahak. Ini adalah momen paling langka. Seorang Bumi yang terkenal dingin dan angkuh, menjadi seorang pengecut di depan matanya. Di mana jiwa lelakinya, pakai acara ketakutan segala.


"Gak sengaja kamu bilang?"


Lelaki itu langsung meninju perut Bumi. Secepat mungkin, Bumi menahan menggunakan tangan kanan. Ia tersenyum menyeringai. Inilah Bumi yang sebenarnya. Matanya membulat tajam, auranya benar-benar berubah drastis. Dia bukan pengecut seperti yang dipikirkan Bintang.


Lelaki tadi langsung ketakutan, suhu tubuhnya turun. Ia bergetar hebat. Bumi memutar tangan kanannya menimbulkan suara kretek di bagian jari-jari tangan lelaki itu. Bintang langsung mendorong tubuh Bumi dan menjauhkan dirinya. Jangan sampai, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


"Akh!" Lelaki tadi meringis kesakitan sambil memegangi tangannya yang serasa patah.


"Kenapa? Bukannya, lo lebih dari ini?" Bintang membelalakkan mata. Ia segera menyuruh pria tadi pergi dari sana sambil meminta maaf atas kejadian barusan. Setelah itu, ia menarik kerah baju Bumi dengan menatap tajam.


"Lo gak usah ngurusin hidup gue!" Bintang melepaskan kerah Bumi dengan kasar. Kemudian, ia langsung membuka bagasi mobil dan memasukkan semua barang-barang yang ia beli tadi.


"Ck!" Bumi berdecak. Detik berikutnya, Bagaskara dan Dewa datang sambil mengobrol santai. Terlihat mereka sudah mulai akrab dan saling membicarakan tentang bisnis masing-masing. Bumi mengerutkan kening. Ada yang tidak beres.


"Bintang." Bagaskara memanggil. Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya menghadap Bagaskara dan Dewa yang sedang tersenyum lebar di samping.


"Dewa akan ikut sama kita."

__ADS_1


"Apa?!" seru Bumi dan Bintang serentak. Mereka saling bertatapan dengan mata membulat.


"Yah, sekalian dia mau jenguk tantenya di Bandung. Kebetulan sama arahnya."


"Enggak, aku gak mau!" Bumi tidak mau lelaki itu satu mobil dengannya. Bisa-bisa, bakal ada perang dunia keempat. Suasananya pasti lebih seram dari pada rumah hantu.


Bintang hanya bisa diam. Sepertinya, dia tidak akan bisa menghindari lelaki itu jika sudah begini ceritanya. Gadis itu mengembuskan napas panjang, semoga tidak ada masalah. Dia tidak punya kuasa untuk menolak kehadiran pria itu.


"Terserah kamu! Papah gak peduli, pokoknya Dewa ikut kita. Titik!"


Bumi melongo mendengar penuturan dari papahnya itu. Dia yang punya kedudukan sebagai anaknya, kenapa tidak didengarkan. Sedangkan, Dewa, siapa dia?


"Ayo, berangkat. Udah mau gelap."


Mereka akhirnya pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Siapa yang akan melawan orang tua seperti Bagaskara. Perkataannya tidak boleh dibantah.


***


..."Gue, Melody. Cewek paling seksi di Antariksa. Herannya, seseksi apapun gue, Bumi gak pernah mandang gue gitu. Dia malah bilang, gue sama kayak banci kalo dandanan feminim gini. Kurang ajar, tuh anak!"...


★★★


Mereka akhirnya sampai ke tujuan. Rumah Bik Ani terlihat sederhana dan sepi. Sepertinya, ia tinggal sendirian di sana atau mungkin hanya beberapa orang saja. Bagaskara mengetuk pintunya dan langsung dibuka oleh seorang anak laki-laki yang seumuran dengan Bumi.


Lelaki itu terlihat kebingungan melihat kedatangan mereka yang terlihat asing. "Cari siapa, Pak?"


"Siapa, Raga?" Itu sepertinya suara Bik Ani. Bumi langsung terlihat senang, akhirnya mereka menemukan rumah pembantu lamanya.

__ADS_1


"Bik, ini Bumi!"


Bintang langsung menoyor kepala Bumi karena tidak sopan. Dia kira ini rumahnya, asal teriak-teriak saja.


__ADS_2