
"Kenapa? Naksir lo?" Senja langsung menjitak kening lelaki itu hingga membuatnya meringis.
"Heee! Di hati gue cuma Bumi kali! Lagian cuma nanya. Kenapa, gak boleh?"
Surya memutar kedua bola matanya. "Lo gak pernah ngertiin perasaan orang, Senja." Gadis itu malah melotot mendengar ucapan Surya yang sudah pindah alur.
"Perasaan apa lo? Awas aja kalau lo jatuh cinta sama gue!" Senja memperingati sahabatnya agar mereka tidak merasakan friendzone. Ia tahu betapa sakitnya jika hanya berjuang sendirian. Mencintai tanpa dicintai dan mengharapkan orang yang tidak pernah diharapkan. Rasa sakit itu tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Hanya bisa menangis tanpa ada yang peduli.
Surya hanya bisa diam, diam dan diam. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain memendam perasaannya sendiri. Ia tahu, rasa sakitnya tidak akan sebanding dengan rasa bahagianya. Akan tetapi, ia juga tidak bisa mengungkapnya. Jika ia paksa, Senja akan semakin jauh. Ia tidak menginginkan itu terjadi. Biarlah semua berjalan apa adanya. Tiada yang tahu juga tidak apa. Ia hanya bisa menunggu sampai Tuhan berkata, 'berhentilah.'
Pertandingan basket semakin seru karena tim B yang yg tidak tergeser posisinya. Regu Dewa lagi-lagi memenangkan pertandingan hingga akhir. Seluruh murid Antariksa bersorak gembira mengagungkan nama Dewa. Bagai mimpi indah di siang bolong. Ia benar-benar menjadi idola dalam hitungan hari di sana.
Dewa tersenyum puas. Inilah kemauannya sedari awal. Raja menepuk pundak lelaki itu dengan tatapan dingin. Walaupun hari ini ia satu regu dengan Dewa, tapi Bumi tetaplah menjadi kapten tetap tim B. Tidak ada yang boleh mengantikannya. Termasuk Dewa.
"Ck! Lo boleh senang hari ini. Kita lihat, setelah Bumi memasuki areanya. Lo masih berkutik atau enggak?"
Setelah mengucapkan peringatan kepada Dewa. Raja langsung pergi ke ruang ganti bersama Bara, Ari dan Grey. Mereka memang suka cara bermain Dewa yang sulit ditebak lawan. Tapi, ia sulit untuk diajak bekerjasama. Egois dan angkuh.
Dewa menatap sekawanan itu lalu menarik bibir hingga terbentuk senyuman menyeringai. "Kita lihat. Siapa yang akan jatuh!"
__ADS_1
***
Di sebuah ruangan yang pencahayaan sangat kurang. Berdirilah seorang laki-laki dengan senyuman mengerikan. Ia berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil sebuah pistol yang sempat ia gunakan Minggu lalu. Kemudian, pistol diarahkan ke dinding yang telah tertempel sebuah foto wanita yang ternyata Bintang.
Dor!
"Bos, tuan besar telah datang." Lelaki itu menghentikan aksi menembaknya setelah mendengar bahwa tuan besar mereka telah hadir di sana. Ia pun tersenyum lebar kemudian menyimpan pistol itu di dalam jasnya. Tidak sabar menunggu target selanjutnya.
Tuan besar disambut sopan oleh anggota. "Selamat datang, Tuan Algara." Lelaki itu menjabat tangan.
Algara menarik bibirnya. "Terimakasih atas kerja samanya, Rasi Bintang."
Siapa yang tidak kenal dengan Rasi? Salah satu siswa SMA Antariksa, kelas IPA 12 1 yang terkenal dengan kecerdasan dalam memecahkan rumus-rumus fisika. Ia pandai mengatur siasat dan selalu benar dalam menebak, instingnya benar-benar tajam.
Mereka berkumpul di meja panjang untuk membahas misi berikutnya. Rasi paham arah pembicaraan Algara mengenai Bintang. Gadis yang diincar oleh tuan besarnya itu, mungkin akan lebih sulit dari pada mengincar Bumi.
"Bos ingin aku membunuhnya?" Rasi bertanya dan langsung dijawab dengan kekehan renyah dari Algara. Tentu saja, Rasi mempunyai insting yang kuat. Lalu, melanjutkan ucapannya kembali. "Sepertinya, aku tidak dibutuhkan lagi dalam kasus ini."
Algara langsung menyemburkan tawa. Rasi memang benar-benar pintar, instingnya tidak pernah salah selama ini. Benar dan selalu tepat. Ia menepuk kedua tangannya. Pintu ruangan pun terbuka menampakkan sosok lelaki berjas abu-abu berjalan memasuki ruangan.
__ADS_1
Seluruh anggota Raslar menundukkan kepala memberi salam. Lelaki itu hanya menampilkan wajah dingin arogannya. Dia pun mengambil tempat duduk yang berada di samping papanya. Benar saja, lelaki itu adalah Rayyanka Dewa Algara. Pewaris perusahaan D-Group.
Rasi tidak terkejut melihat teman sekelasnya yang sekarang sedang naik daun. Sebelum ia berkenalan, ia sudah dulu mencari tahu latar belakang lelaki itu. Ternyata adalah putra dari bos besar Algara. Siapa sangka, ia memasuki di kediaman Reslar. Padahal, beberapa minggu yang lalu, Dewa meremehkan dirinya karena dianggap memanfaatkan keadaan. Itu hanya basa basi untuknya mengenal lebih dekat dengan seorang Dewa.
Dewa menatap tajam ke arah Rasi. Ia tidak suka papanya berurusan dengan lelaki pecundang sepertinya. Ia pun menarik bibirnya sambil memutar kedua bola mata. "Licik juga lo, manfaatin keluarga gue!"
Algara mengerutkan kening. Sepertinya, Dewa salah paham dengan keberadaan Rasi di sana. Lelaki itu pasti berpikir, bahwa Rasi hanya memanfaatkan dia karena dapat menghasilkan uang yang banyak. Padahal, Rasi cukup mudah mendapat uang tidak hanya darinya. Ia memang seekor semut berotak kancil.
Algara menepuk pundak anaknya. "Dewa, sepertinya kalian memiliki masalah di sekolah. Baiklah, saya mengerti pemikiran anak muda jaman sekarang. Tidak mudah bagi kalian untuk saling berteman.
Rasi yang mendengar itu langsung tersenyum. Menarik bibirnya hingga terdengar suara kekehan kecil. Kemudian, ia memberi tepukan tangan dan menatap Dewa lekat. "Selamat menjalankan misi, Dewa."
Dewa mendengus lalu berdiri dari duduknya dan menatap Rasi cukup tajam. "Gak usah ikut campur!" Setelah itu, Dewa pun pergi meninggalkan ruangan. Algara hanya geleng-geleng kepala. Ia tahu sifat anaknya tidak terkontrol. Pembawaannya selalu emosi dan keras kepala.
"Baiklah, kita punya tugas lain." Algara kemudian membicarakan rencana yang sudah ia rencanakan selama berminggu-minggu. Kali ini, ia harus benar-benar berhasil untuk mendapat apa yang ia inginkan dari dulu.
Di sisi lain, Surya membututi Green yang tengah menuju ke kafe Rotaria. Melihat dari penampilannya sangatlah mencurigakan. Ia seperti menutupi identitas diri. Memakai topi, masker, kacamata hitam dan pakaian yang menutup. Sekalian saja, Surya mengikutinya hingga masuk ke kafe tersebut. Jika perhatikan, Green sedang menunggu seseorang.
"Mas, mau pesan apa?" Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri Surya membuat lelaki itu mengalihkan pandangan. Surya langsung menunjuk minuman blackcurrant yang berada di buku menu.
__ADS_1
"Baiklah, ada lagi?" Surya menggelengkan kepala kemudian kembali memperhatikan Green. Namun, gagal. Target sudah hilang dari sasaran mata. Surya langsung berdiri dan mengedarkan pandangan. Sial. Green sudah mengetahui keberadaannya. Ia pun pergi tanpa memikirkan pesanannya yang belum sempat datang. Bodo amatlah, pikirnya. Ia harus mencari jejak ke mana Green pergi.
Surya lagi-lagi gagal mengikuti pria itu. Ia kehilangan jejak Green dan tidak dapat menemukannya sama sekali. Tiba-tiba, ponsel berdering. Surya langsung mengangkatnya. Ternyata itu dari Bintang.