
"Bintang!" Spontan gadis itu mematikan mesin motornya dan mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Ternyata, Bumi.
"Lo, gak bolos, 'kan?" Bintang menautkan kedua alisnya. Nih anak kenapa, sih. Nanya mulu kerjaannya. Bintang kesal dan mengalihkan pandangannya dari laki-laki tersebut.
"Udah nanya nya?" Bumi hanya diam.
"Gak perlu gue jawab, lo juga pasti udah tau." Bintang langsung menghidupkan kembali motornya dan menancapkan gas, meninggalkan Bumi yang masih berdiri ditempat.
Melody yang dari tadi ada di belakang Bumi langsung mendekati pria tersebut sambil berkata, "katanya gak peduli. Kok banyak tanya." Setelah mengatakan itu ia langsung berlari menjauh, takut diamuk oleh seorang Bumi Bagaskara.
***
Bintang menghentikan motornya ketika melihat Dewa keluar dari perusahaan D-Group. Kini pakaiannya berubah seperti CEO perusahaan dengan kaca mata hitam. Auranya gagah dan layak disebut bos besar. Bintang mengamati lelaki yang berada di sekitar Dewa, semua adalah bodyguard yang siap menjaga lelaki tersebut. Sepertinya ada hal penting yang sedang mereka bicarakan. Tampak serius.
Bintang kembali menghidupkan mesin motornya, ia enggan ikut campur urusan orang lain. Biarlah mereka menjalani hidup seperti yang diinginkan, asalkan tidak menganggu aktivitas dan tidak merugikan dirinya kenapa harus dipermasalahkan. Lagian, urusan sendiri saja belum kelar, apalagi harus mengurus hidup orang. Itu bukan circle seorang Bintang Aurora.
Di sisi lain, Bumi sampai di rumah dan langsung disambut oleh pembantunya, Bik Ani.
"Alhamdulillah, Den Bumi sudah pulang."
Bumi hanya tersenyum kecil lalu menanyakan keberadaan papanya. Bik Ani pun memberitahukan bahwa tuan Bagaskara pergi ke luar kota secara mendadak tadi pagi. Saat hendak mengabari Bumi, ponselnya mati kehabisan baterai. Akhirnya, Bagaskara menitipkan pesan kepada Bik Ani untuk menjaga anak-anaknya.
Bumi menghela napas panjang. "Sampai kapan, Bik?"
"Mungkin sekitar seminggu." Bumi mengangguk pasrah, begitulah seorang Bagaskara. Jarang sekali di rumah dan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Akan tetapi, ia selalu menyisihkan waktu walaupun sedikit untuk Bumi, apalagi Bumi tidak mempunyai ibu lagi. Pasti, sangat kesepian untuknya.
Waktu terus berlalu hingga malam pun tiba, tapi Bintang belum juga pulang ke rumah. Bik Ani yang sudah diberi amanah untuk menjaga anak majikannya, semakin panik takut terjadi sesuatu pada gadis itu. Apalagi, ini sudah larut malam, tidak baik seorang gadis di luar rumah tanpa ditemani siapapun.
Memang benar, semenjak ayah Bintang meninggal duna, ia tinggal bersama Bagaskara, teman baik sekaligus rekan kerja ayahnya. Awalnya, Bintang menolak dan lebih memilih tinggal sendiri atau ikut tantenya ke luar kota. Akan tetapi, sang ayah memintanya untuk tetap di sana. Karena, ia telah mewariskan semua harta kekayaannya kepada Bintang. Termasuk perusahaan A-Group yang menduduki posisi pertama. Tidak mudah untuk mencapai ke posisi paling atas.
Apalagi, sekarang banyak yang mengincar A-Group hancur dan lebih parahnya lagi, membunuh sang kepala Presdir ataupun keturunannya. Termasuk Bintang.
Sebagai seorang ayah, ia tahu betul bagaimana watak seorang Bintang, keras kepala dan tidak mudah untuk dibujuk. Kemungkinan besar, Bintang akan menolak untuk melanjutkan mengelola perusahaan A-Group. Ia rasa itu sangat merepotkan dan ia tidak suka kesibukan yang membuat dirinya melewati kebebasan hidup. Oleh karena itu, ayah Bintang mempercayai Bagaskara untuk sementara mengelola perusahaan A-Group bersamaan untuk merubah arah pemikiran Bintang agar ia tidak menolak meneruskan perusahaan itu.
Ayah Bintang percaya kepada Bagaskara untuk mendidik putrinya sekaligus menjaga ia dari macam bahaya. Karena ia tahu, akal jahat yang dimiliki oleh manusia penggila uang dan bisnis. Maka dari itu, ia yakin sang kepala kepemilikan B-Group akan berhasil untuk membuat Bintang berubah dan menerima yang sudah menjadi ketetapan untuknya.
Bik Ani, akhirnya mengetuk pintu kamar Bumi untuk menanyakan keberadaan Bintang lewat telepon. Siapa tahu, Bumi punya nomor gadis itu. Jadi, ia tidak akan kepikiran sampai tidak bisa tidur nanti.
Setelah mengetuk beberapa kali, akhirnya Bumi ke luar dengan muka masam.
"Apa, Bik?"
Wajah Bik Ani sedikit terlihat pucat karena ketakutan. Mau bilang apa dirinya ke tuan Bagaskara, kalau nanti terjadi sesuatu pada Bintang. Bisa-bisa, ia akan dipecat dan tidak akan mendapat pekerjaan di manapun. Habislah.
__ADS_1
"Den, Non Bintang kok gak pulang-pulang, ya? Kamu gak coba tanyain, Bibi takut terjadi apa-apa sama dia," ungkap Bik Ani. Bumi hanya menghela napas kasar.
"Aku gak punya nomornya. Lagian, nanti pasti pulang, kok. Bibi tenang aja, Bintang bukan gadis layaknya."
Mendengar penuturan dari bibir Bumi, Bik Ani semakin geregetan. Bagaimana mungkin, ia berbicara sesantai itu. Ini masalah reputasinya sebagai pembantu yang dipercaya. Jika gagal menjaga anak majikannya, ia tidak akan bisa hidup tenang.
"Pokoknya, Bibi mau kamu cari dia, jemput kalo bisa." Bumi melotot mendengar perintah dari pembantunya ini.
"Gak! Bumi gak mau." Bik Ani berkacak pinggang. Susah sekali mengatur pria batu seperti Bumi ini. Ia mempunyai anak lelaki pun tidak separah dia. Huft! Bagaimana caranya?
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari dalam kamar Bumi. Lelaki itu pun langsung pergi dan memeriksa panggilan tersebut. Ternyata dari papanya. Bumi menatap ke arah Bik Ani yang masih berdiri di depan pintu, lalu berkata dengan suara kecil. "Papah."
Tentu Bik Ani ketakutan jika tuannya akan menanyakan keberadaan mereka. Apa yang akan ia jawab nanti. Bik Ani ikut masuk dan mencoba mendengarkan pembicaraan Bumi dan tuan Bagaskara.
"Halo?"
"Halo, Pah."
"Bumi, maaf ya, Papah baru bisa ngabarin kamu. Tadi ponsel Papah mati, jadi gak bisa kasih tau. Ini kamu di rumah, 'kan?"
"I--iiya, Pah. Bumi di rumah."
"Bintang mana, Papah mau ngomong sebentar sama dia. Ditelepon dari tadi gak aktif soalnya."
"Oh, Bintang, itu Pah ... anu, di--dia--"
"Apa, sih. Kamu ngomong gak jelas, udah kasih aja handphonenya ke Bintang. Papah mau ngomong."
Bumi menggigit bibir bawah dan memejamkan mata memikirkan alasan yang lugas pada ayahnya agar tidak curiga. Akhirnya, setelah berpikir keras ia pun mendapat ide. Untung otaknya cepat.
"Ah, iya, Pah. Bintang udah tidur. Capek mungkin. Kasian, Pah, kalo Bumi bangunin."
Awalnya Bagaskara terdiam cukup lama, seakan tidak percaya dengan perkataan Bumi. "Oh, ya udah. Papah salam aja sama Bintang. Jagain dia ya, awas aja kalo Bintang kenapa-kenapa. Kamu yang bakal Papah hukum."
Bumi menelan salivanya dan tersenyum penuh penekanan. Pikirannya sudah berkecamuk, ia jadi takut Bintang terkena masalah. Pasti, dia yang bakal kena imbasnya.
"Aduh! Apes banget gua. Kayak jagain tuan putri aja, beringas begitu lebih cocok dibilang ratu hutan," omelnya dalam hati.
Panggilan pun berakhir. Tanpa berpikir panjang Bumi langsung mengambil jaketnya dan kunci motor yang berada di atas nakas. "Bik, Bumi cari Bintang dulu, nanti kalau Bintang udah pulang duluan, kabari Bumi. Chat aja, gak usah ditelepon."
Bik Ani tersenyum lebar, untungnya Bumi mau mencari Bintang. "Sip, Den!" seru Bik Ani dengan tangan hormat.
Bumi langsung bergegas pergi dan menancap gas. Padahal, ia tidak tahu kemana harus mencari Bintang. Ia hanya menelusuri jalan berharap bertemu dengan Bintang diperjalanan. Akan tetapi, semua yang ia lakukan hanya kesia-siaan belaka. Ia tak kunjung menemukan Bintang. Akhirnya, ia berhenti dan mencoba menanyakan keberadaan Bintang dengan teman-temannya. Bukannya mendapat jawaban, Bumi malah semakin diejek karena mengkhawatirkan gadis itu. Hal itu, malah membuatnya tambah kesal. Ia pun teringat dengan seseorang yang dekat dengan Bintang. Senja. Ia pasti tahu keberadaan gadis itu.
__ADS_1
"Halo?"
"Kyaaa! Bumi telpon Senja. Surya, liat, Bumi telpon gue. Mimpi apa gue kemaren ditelpon sama pangeran Yunani." Teriakan dari seberang sana. Sepertinya Senja benar-benar cinta mati dengan Bumi. Bagaimana tidak, baru saja ditelpon sudah teriak-teriak kayak dapat hadiah emas.
"Senja, gue serius. Di mana Bintang?"
Senja yang baru saja terbang karena pangerannya menelpon. Kini, ekspresinya berubah drastis, karena Bumi menanyakan wanita lain bukan dirinya. Dadanya terasa nyeri, padahal itu pertanyaan lumrah, wajar kalau Bumi menanyakan Bintang. Secara, mereka sudah satu rumah dan dari tadi siang Bintang belum pulang.
Senja mengatur napasnya senormal mungkin, jangan egois, ucapnya dalam hati. Ia yakin, kalau Bumi tidak punya perasaan apapun untuk Bintang. Ia hanya terpaksa mencari Bintang karena papanya. Itulah pemikiran Senja untuk tidak negatif thinking kepada Bumi maupun Bintang.
"Bumi ... Bintang baik, kok. Dia lagi balapan tuh, bentar lagi juga nongol."
Bumi sudah tebak, pasti Bintang ikut balapan liar. Mereka sudah ada janji dengan orang yang bernama Green itu. Bumi ingat waktu Surya menelpon Bintang ketika mereka lagi di toko baju.
"Share lock tempat kalian di mana. Gue bakal nyusul."
Setelah itu, panggilan terputus. Senja hanya menghela napas kecewa. Bumi tetaplah pangeran es yang paling sulit dicairkan. Kayaknya harus dipaksa biar bekunya hancur, pikirnya. Bagaimanapun Senja mendekati pria tersebut. Tidak satupun ia menemukan celah untuk masuk. Semua tertutup rapat.
"Kenapa?" tanya Surya menepuk pundak Senja, gadis itu terlihat murung.
Senja tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Sampai kapan gue mengharapkan Bumi?" Mendengar hal itu, Surya malah tertawa dan langsung memegang kepala gadis itu.
"Sampai lo menemukan yang lebih baik dari Bumi."
Senja berdecak dan menyingkirkan tangan Surya dari kepalanya. "Gue maunya Bumi, laki-laki yang paling sempurna."
"Semakin lo paksa Bumi untuk jatuh cinta sama lo. Semakin menjauh pula Bumi karena gak suka keegoisan lo."
Senja terpaku mendengar penuturan dari mulut Surya. Sejak kapan lelaki ini berubah menjadi bijak. Setahu Senja, Surya adalah lelaki yang jarang sekali memakai otaknya. Bahkan, ia lebih mementingkan kebahagian orang lain daripada dirinya sendiri. Hebat, sih. Tapi Senja, tidak segoblok itu.
Beberapa menit kemudian, terlihat jelas Bintang dan Green saling merebut posisi. Teriakan riuh dari penonton semakin membuat suasana gempar. Tidak sabar melihat hasil akhir dari balapan ini. Menentukan siapa yang paling hebat untuk menguasai balap liar. Bintang atau Green.
Garis start sudah di depan mata Bintang, kini dirinya yang menjadi nomor satu. Ia mampu mengalahkan sosok Green yang sombong dan angkuh, tidak sadar diri akan kemampuannya yang lemah. Berani sekali menantang seorang Bintang Aurora.
Bumi akhirnya sampai di tempat balapan tersebut dan menyaksikan Bintang yang sepertinya akan memenangkan pertandingan. Namun, matanya tertuju pada seorang laki-laki berjubah hitam yang bersembunyi dari balik pohon menodongkan senjata api ke arah Bintang. Bumi langsung panik dan berteriak.
"Bintang, awaasss!"
Dor!
"Akhh!"
#bersambung ...
__ADS_1
yah, gimana kira-kira? siapa yang tertembak dan siapa yang menembak. Ayo, ikuti terus ceritanya